Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 109


Hari ini adalah di mana hari kepulangan baby twins Al, Anggia dan Bilmar sudah mendekor kamar buah hati mereka secantik mungkin. Bahkan kamar mereka juga menggunakan pintu yang langsung terhubung dengan kamar twins Al.


"Anggi, kamu apa sih," Bilmar sangat kesal pada Anggia yang memakai make-up sangat cantik, "Kamu kalau keluar dari rumah nggak usah, dandan cantik begini...." kata Bilmar.


"Abang apa sih, Anggi cuman pakai pakaian dan dandan apa adanya, Anggi cuman pakek bedak tipis begini juga," Anggia menunjukan pipinya pada Bilmar yang ternyata hanya bedak sangat tipis yang di poles Anggia.


"Tapi kamu kenapa cantik sekali," jawab Bilmar yang masih kesal dan jengkel.


"Kalau Anggi nggak cantik, Abang nggak akan jatuh cinta sama Anggi," jawab Anggia tak kalah kesal.


"Ck.....Ya Abang tau.....tapi kamu nggak usah dandan, kalau ada orang yang jatuh cinta sama kamu gimana?" tanya Bilmar.


"Ya itu urusan mereka yang pentingkan Anggi enggak," Anggia memandang dirinya di cermin, dan setelah ia rasa semua sempurna kini ia mengambil tas tangan di ranjang yang sudah ia siapkan untuk di pakai.


"Ya terus kalau mereka gunain cara jahat buat rebut kamu dari Abang, terus kamu ke makan jebakan mereka gimana?" tanya Bilmar sambil mengikuti Anggia yang sudah berjalan keluar dari kamar.


Anggia diam dan menghentikan langkahnya, sesaat setelah mereka di luar kamar dan akan menuruni tangga.


"Abang, butuh psikiater?" tanya Anggia sambil berkacak pinggang.


"Abang butuh kamu, yang selalu cinta dan sayang sama Abang," jawab Bilmar dengan jelas.


"Sstt....." Anggia mendesis kesal dan memijat kepalanya, karena Bilmar punya seribu cara untuk membuatnya tidak karuan, "Anggi cuman buat Abang, nggak buat yang lain. Kita jemput baby twins yuk....." Anggia memeluk lengan Bilmar dan mulai menuruni tangga bersama suaminya.


Sementara Ratih yang melihat keduanya dari kejauhan tersenyum bahagia, karena Anggia dan Bilmar terlihat seperti pasangan pada umumnya yang tak ada lagi kecanggungan seperti sebelumnya.


"Anggi, Mami ikut ya," kata Ratih yang sudah bersiap-siap.


"Iya dong Mi, yuk," kata Anggia yang melepas lengan Bilmar dan memegang lengan Ratih dan kedua wanita itu berjalan di hadapan Bilmar.


"Kalau udah ada Mami aku di cuekin kan," gumam Bilmar.


Kini Anggia dan Ratih sudah naik di mobil, Aran juga ikut. Bahkan ia yang menyetir, sementara Bilmar duduk di samping Aran. Setelah beberapa menit perjalanan kini akhirnya mereka sampai di rumah sakit, dan mereka semua turun kemudian langsung berjalan menuju ruang baby twins.


"Veli," Ratih tersenyum melihat Veli ternyata ada di sana, memeluk baby Alif.


"Oma......Alif Oma udah datang jemput Alif pulang," jawab Veli tersenyum sambil menirukan suara anak kecil.


"Cucu Oma," Ratih mengambil alih Alif yang di gendong oleh Veli, "Alif hari ini udah boleh pulang loh," Ratih seolah berbicara pada bayi yang berusia satu bulan itu, ia Alif dan Alma memang berada di rumah sakit itu sudah satu bulan, dan kini dokter sudah memastikan keadaan Alif dan Alma sudah sangat baik untuk di bawa pulang.


"Mami kenalin, ini dokter Farhan," Veli memperkenalkan dokter Farhan pada Ratih.


"Nyonya Ratih, saya Farhan," kata dokter Farhan memperkenalkan diri.


"Iya, aduh kamu ramah sekali," jawab Ratih dengan senyuman ramahnya.


"Dokter Anggia selamat...." Dokter Farhan menjabat tangan Anggia.


"Terima kasih..." Anggia tersenyum atas ucapan dokter Farhan.


"Kalian abis dari mana?" tanya Veli yang berdiri di samping dokter Farhan.


"Dari rumah, langsung ke sini buat jenguk Alif dan Alma," jelas Anggia.


"O....namanya, Alif dan Alma, bagus banget sekali saya juga suka...." tutur dokter Farhan.


"Aran kenalin ini dokter Farhan," kata Veli memperkenalkan dokter Farhan pada Aran.


"Farhan," dokter Farhan mengulurkan tangan pada Aran.


"Aran...." kata Aran menbalas uluran tangan dokter Farhan.


"Anda sahabat baik dokter Veli?" tanya dokter Farhan sesaat setelah selesai berjabatan tangan dengan Aran.


"Bukan.....saya calon suaminya, sebentar lagi kami akan menikah," kata Aran hingga membuat semua yang ada di ruangan itu melongo terutama Veli.


"Jangan asal ngomong!" kata Veli dengan kesal.


"Nggak usah seperti anak-anak kalau lagi ribut, pernikahan kita udah di depan mata, jangan jadikan dokter Farhan pelarian kamu. Nggak baik nyakitin hati orang," jawab Aran santai lalu pergi meninggalkan ruangan itu begitu saja.


"Veli, kita baru jadian tapi kenapa dia bilang begitu?" tanya dokter Farhan.


"Nggak usah dengerin dia, dia ngarang," kata Veli berusaha agar dokter Farhan tak marah padanya.


"Dokter Anggia, tuan Bilmar, Nyonya Ratih, saya permisi," pamit dokter Farhan.


"Anggi...gw juga keluar bentar," kata Veli dengan panik, karena ia harus mengejar dokter Farhan yang sedang cemburu.


"Veli sama Aran itu sebenarnya gimana ya? Abang tau nggak?" tanya Anggia pada Bilmar.


"Abang juga bingung yang, gimana soalnya mereka ribut terus," kata Bilmar sambil menoel pipi Alma yang kini sudah di gendong oleh Anggia.


"Tapi kalau Mami pengennya mereka itu berjodoh. Tapi Mami nggak maksa juga....itu kalau mereka mau, kalau nggak ya nggak papa," kata Ratih ikut menimpali.


"Anggia, kamu nangis?" tanya Bilmar saat melihat Anggia mengusap air matanya.


"Nggak," Anggia mengusap air matanya, "Anggia terharu karena udah jadi ibu," jawab Anggia menatap wajah bayinya penuh haru.


"Iya kamu benar, selamat ya Mommy Anggi," kata Bilmar.


"Panggil nya ibu aja, nggak usah Mommy," kata Anggia.


"Nggak lah, Mommy dan Daddy," kata Bilmar tersenyum bahagia.


"Ok......lah...Anggi ikut aja," jawab Anggia tersenyum pada Bilmar.


Sesaat kemudian Veli kembali lagi ke ruangan itu.


"Anggi, aku mohon jelasin ke dokter Farhan aku dan Aran itu nggak ada hubungan papa," Veli menggoyangkan lengan Anggia seperti anak kecil yang memohon sesuatu pada sang ibu.


"Veli, Alma lagi tidur," kata Anggia sebab Alma yang terlihat risih saat Veli menggoyangkan tubuhnya.


"Mami," Veli kini mendekati Ratih dan menangkup kedua tangannya, "Mi jelasin ke dokter Farhan kalau Veli sama Aran nggak ada apa-apa," kata Veli penuh harap.


"Memangnya kamu sudah pacaran sama dokter Farhan?"


"Iya Mi, dan Aran udah buat dokter Farhan cuekin Veli, karena Aran bilang kami mau menikah," kata Veli yang hampir menangis.


"Ck....." Ratih hanya bisa menggelengkan kepala melihat Aran dan Veli yang tak pernah akur, bahkan dengan konyolnya Aran berkata pada Farhan yang sudah berpacaran dengan Veli jika mereka baru menikah, benar-benar tak bisa di tebak bagaimana Aran dan Veli kedepannya.