
"Anggia," setelah Veli berhasil menanggani Anggia kini ia berusaha berbicara dengan Angggia, kandungan Anggia membutuhkan nutrisi dan sangat memprihatinkan apalagi akan berpengaruh pada perkembangan janinnya.
"Veli, kamu jangan kasar begitu," Sasa merasa kasihan pada Anggia yang berbaring lemah tapi Veli berusaha mendudukan tubuh lemah Anggia.
"Anggia bangun," Veli menepuk-nepuk pipi Anggia tanpa perduli ucapan Sasa yang terus menegurnya.
"Veli, kalau kamu terus berlaku kasar pada pasien itu semakin membuat kondisi pasien terguncang," ucap Sasa lagi.
"Tuan tolong bantu saya," pinta Veli untuk mendudukan tubuh Anggia.
"Tapi keadaannya sangat lemah," Bilmar juga merasa kasihan dengan keadaan Anggia.
"Bil, Veli sahabat Anggia ikuti saja," kata Ratih yang sangat mempercayai Veli.
Ratih tahu jika Sasa tidak menginginkan kesembuhan Anggia, pagi tadi ia mendengar sendiri dokter itu berbicara dengan seseorang melalui panggolan telpon, mengenai ia yang menginginkan Bilmar. Akan tetapi Ratih belum bisa berkata apa-apa sebab kondisi Anggia yang saat ini lebih memprihatinkan.
"Cepat Bil," perintah Ratih.
Bilmar membantu Anggia duduk dengan setengah kesadaran, Veli memaksa Anggia meminum susu ibu hamil dan juga jus yang tadi ia minta pada pelayan. Tidak ada kelembutan yang di gunakan Veli, bukan karena benci pada Anggia tapi karena ia ingin Anggia sadar dari ketertekanan yang ia rasakan.
"Minum," Veli membuka paksa mulut Anggia.
KRANG.
Gelas yang di pegang Veli pecah karena Anggia membuangnya, dan menagis histeris lagi.
"Aku nggak mau!" teriak Anggia sambil menangis dan ingin kembali berlari namun Bilmar masih setia memeluknya.
"Veli!" bentak Bilmar, ia tidak sanggup melihat kekasaran Veli pada Anggia.
"Anggia sadar-sadar lawan ketakutan mu itu!" teriak Veli menepuk-nepuk pipi Anggia dengan sangat kasar.
"Hiks, hiks," Anggia hanya menggeleng dan menagis.
" Lu bodoh banget sih, lihat keadaan lu sekarang, pas lu sehat aja dia bisa nginjek-injek harga diri lu, apa lagi lu sakit begini lawan Anggia, lawan." Veli mengguncang tubuh Veli dengan sekuat tenanganya. Tidak perduli dengan tatapan Bilmar yang terlihat begitu tajam padanya.
"Nggak!" teriak Anggia.
"Bodoh, lu mau aja di buat bodoh dan gila sama orang yang benci sama lu. Gue pergi Ngi kita bukan sahabat lagi gue udah nggak kenal sama Anggia yang sekarang, Anggia yang lemah gue benci sama lu, dan kita bukan sahabat lagi. Gue pergi dan lu hidup aja dalam dunia ketakutan lu yang ngak berpenghujung itu." teriak Veli dan melepas tangannya yang memegang pundak Anggia dan bernian pergi.
"Veli hiks, hiks," Anggia menangis memanggil nama sahabat yang selalu ada untuknya.
"Gue benci sama lu," ketus Veli dan mencoba pergi.
"Ve-veli aku ta-takut," jawab Anggia dengan peluh yang sudah sangat basah di tubuhnya.
Veli tersenyum samar dan kembali berbalik menatap Anggia dan duduk di sisi ranjang Anggia.
"Dengar aku baik-baik, apa kau mau mendengar ku!" kata Veli menangkup kasar wajah Anggia, yang berlinang air mata juga beberapa anak rambut yang menutupi wajahnya.
"Lu mau denger kata-kata gue?" tanya Veli lagi, Anggia dengan tubuh lemahnya hanya mengangguk, nafasnya yang memburu seolah menggambarkan bertapa perasaan takut itu masih menghantuinya.
"Anak lu masih ada dan lu harus hidup demi anak lu ngerti!"
Anggia hanya menggangguk lemah, dengan bibir bergetar. Tapi Veli belum puas dengan jawaban Anggia.
"Jawab!" teriak Veli.
"Apa gue bilang tadi!" bentak Veli tapi Anggia hanya diam saja.
"Gue pergi kalau lu nggak mau jawab pertanyaan gue, karna lu lebih senang hidup di dunia ketakutan lu ketimbang bersama gue kayak dulu."
"Vel, jangan." Pinta Anggia dengan wajah melasnya, tidak ada saudara dan orang terdekat Anggia kecuali Veli sahabat yang terasa seperti saudara.
"Makanya jawab gue!"
"I-iya."
"Gue bilang apa tadi?"
"Anak aku ma-masih hi....dup," jawab Anggia dengan lambat dan tangisnya.
"Lu lihat di sekeliling lu," Veli menunjuk sekitar Anggia, "Lu lihat Nyonya Ratih dia nangis kan!" teriak Veli memutar wajah Anggia pada Ratih yang sedang menangis melihat keadaan Anggia.
"I-iya."
"Lu tau kenapa dia nangis?" tanya Veli yang di jawab gelengan oleh Anggia, "Dia sayang sama lu dan dia khawatir sama lu, di sini semua sayang sama lu. Jangan menganggap semua orang sama kayak Brian lelaki gila itu, lu ngertingak!"
"Em, hiks,hiks," Anggia mengangguk dan hanya bisa menagis.
"Lu taukan dosa yang udah lu ciptakan dengan tuan Bilmar?" tanya Veli.
"Hiks, hiks," Anggia mengangguk dan menangis saat mengingat kembali malam itu, malam yang sampai sekarang belum bisa ia terima juga sampai saat ini.
"Dan karena dosa itu kini di rahim lu ada nyawa malaikat yang tidak berdosa, lu harus tanggung jawab dong," Lagi-lagi Veli mengingatkan Anggia untuk terus berjuang hidup demi anak di kandungannya.
"Tapi aku t-takut Vel, hiks, hiks," jawab Anggia.
"Tidak perlu takut, lupakan orang yang tidak pernah menghargai seorang wanita. Ingat Anggia perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya. Perempuan memang deratnya lebih rendah dari laki-laki namun perempuan bukan untuk di injak-injak, kita memang seorang perempuan Anggia yang harus mengikuti arahan dari lelaki tapi kita bukan untuk di sakiti dan di lecehkan. Kamu harus bangkit jangan mau di perdaya ketakutan mu itu lawan Anggia demi anak kamu!"
"I-iya."
"Kamu itu seorang dokter tapi bodoh!"
"Aku bukan dokter lagi," jawab Anggia dengan menangis, jujur saja sebenarnya Anggia bukan hanya tertekan karena kehamilannya dan karena Brian mengugurkan kandungannya, namun karena kini ia tidak bisa lagi menjadi seorang dokter, impiannya sejak kecil, di tambah dengan orang tuanya yang baru saja meninggal dunia membuat beban Anggia terasa berat dan jangan lupakan Anggia hampir di jamah oleh preman jalanan saat malam itu.
"Siapa bilang?"
"Tapi memang begitu."
"Tuan Bilmar sudah menyimpan ijazah mu dan hutang mu sudah di bayar oleh tuan Bilmar," jawab Veli karena Bilmar sendiri yang menatakannya padanya akan hal itu.
"Iya nak, dan rumah sakit itu punya Vano jadi tidak ada yang bisa melarang kamu kembali bekerja jika kamu mau." Kali ini Ratih juga ikut menimpali.
"Lu denger nggak?"
"Iya-t-tapi," tampaknya masih ada hal yang mengganyal di hati Anggia, selama hidupnya ia menjadi manusia yang tertutup yang tidak mau membagi masalahnya. Hingga ia merasa tekukung dengan masalah yang memenuhi otaknya, dan kini tampaknya ia akan lega bila memberitahu masalahnya pada orang lain.
****
Author grazi up kan. Jan lupa VOTE ya.