Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 145


Satu minggu kemudian.


Satu minggu sudah berlalu selama satu minggu itu pula Veli dan Aran terlihat semakin dekat, walau pun masih ada keributan kecil yang kadang terjadi di antara keduanya. Namun itu tergolong biasa bagi pasangan muda yang baru membina nahligai rumah tangga, bahkan katanya keributan atau cekcok adalah bumbu-bumbu cinta yang semakin memperkuat suatu ikatan suci pernikahan.


"Mas, udah satu minggu Veli ikut terus ke kantor. Kerjaan Veli cuman tidur dan liatin Mas, bosen tau Mas!" kesal Veli yang kini duduk di atas meja kerja Aran, bahkan Veli duduk dengan bersila demi meluapkan perasaan kesal yang tengah ia rasakan.


Aran yang sedang berfokus pada laptopnya perlahan melihat Veli, bukannya ia kesal tapi malah gemas dengan kelakuan lucu sang istri. Mungkin itulah sisi perbedaan Veli dengan wanita-wanita yang selama ini di kenal Aran. Ya....biasanya seorang wanita akan terlihat malu-malu atau pun menjaga tingkahnya di hadapan pasangannya, tapi itu tidak bagi Veli. Ia benar-benar tampil apa adanya di hadapan Aran, bahkan Aran kini banyak tau tentang kekurangan Veli. Tapi Veli berusaha merubahnya seperti membuat kopi ia sudah mulai pintar, dan memasak nasi juga ia mulai mengerti. Aran sangat menghargai usaha Veli yang mau belajar dalam banyak hal.


"Mas!" Veli semakin kesal karena Aran malah melipat kedua tangannya dan menatap dirinya yang sedang mengomel.


"Apa sayang?" tanya Aran menatap wajah Veli dengan lekat.


"Mas, apasih. Panggilnya sekarang pakek sayang-sayang," kata Veli yang merasa malu dengan panggilan sayang.


"Kan Mas sayang kamu," jelas Aran lagi.


"Ish....Veli malu tau Mas," wajah Veli bersemu merah, sebab lagi-lagi Aran mengungkapkan sesuatu yang begitu indah.


"Pipinya merah baget," Aran menarik kedua pipi Veli dengan gemas karena tingkah Veli yang biasanya usil, kini mendadak bersemu malu.


"Mas......hiks....hiks....." Veli semakin malu karena Aran lagi-lagi menggodanya.


"Apa sayang?" tanya Aran seolah tak terjadi apa-apa.


"Sayang-sayang, besok lebaran. Veli belum beli baju baru. Punya suami Ceo, tapi istrinya nggak di beliin apa-apa," ucap Veli kesal, "Pelit," kata Veli lagi tepat di hadapan Aran.


"Wangi banget deh.....coba ulangi, biar Mas gigit," kata Aran yang kini mulai berdiri.


"Ish.....ini juga yang Mas gigit semalam masih terasa sakit," kesal Veli menunjukan bibirnya yang bengkak karena di gigit manusia yang ada di hadapannya.


"Abisnya gemes banget, gimana lagi," jawab Aran, "Yuk....." tangan Aran memegang lengan Veli agar turun dari meja kerjanya.


"Kemana?" tanya Veli sebelum ia turun dari meja.


"Katanya mau cari baju baru," ucap Aran menatap wajah Veli.


"Serius?" mata Veli berbinar saat mendengar apa yang di katajan Aran, "Gendong," kata Veli pada Aran agar ia turun dari meja.


Aran memutar badan agar Veli naik ke punggunnya, "Ayo naik," kata Aran.


"Ok....bos," Veli naik ke pundak Aran dan memeluk leher Aran dengan erat sebagai pegangan agar tak terjatuh.


"Udah?" tanya Aran lalu memegang kaki Veli dengan masing-masing tangannya.


"Udah....bos," jawab Veli tersenyum bahagia.


"Berangkat," Aran melangkahkan kakinya menuju lift, ia tak perduli dengan orang-orang yang melihat mereka. Veli pun tetap tersenyum karena ia tak susah berjalan sebab ada Aran yang menggendongnya.


"Mas nggak malu di lihat karyawan?" tanya Veli kini keduanya berada di dalam lift.


"Nggak usah perduliin mereka, kalau mereka berani ngomongin kita berarti mereka udah bosan kerja di sini," jawab Aran santai.


"Emm," Veli mengangguk dan ia diam.


"Tapi, ini gunung kembarnya gede banget ya," ucap Aran sambil merasakan dua benda kenyal tepat di punggungnya.


"Mas apasih, ngomongnya jorok banget deh," kesal Veli sebab ternyata sedari tadi Aran malah merasa-rasa gundukannya yang menempel.


"Khumairah sayang, itu tandanya Mas normal," jelas Aran.


TING.


"Mas, pasti capek. Veli turun aja deh..." pinta Veli takut Aran lelah karena memang Aran sedang berpuasa.


"Kamu remehin kekuatan Mas?" tanya Aran yang kini berjalan menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan gedung megah itu, sebab sudah di persiapkan oleh orang suruhannya.


"Nggak, takutnya Mas kecapean," kata Veli yang kini sudah duduk manis di mobil, dan Aran juga sudah duduk di sampingnya.


Aran tersenyum mendengar jawaban Veli, dan ia sekilas melirik Veli, "Kamu setia banget ternyata ya," kata Aran.


"Setia?" tanya Veli tak mengerti.


"Kan kamu tadi takut Mas kecapean, cie.....Khumairah Mas perhatian banget deh. Mas jadi nggak kuat," tutur Aran.


"Nggat kuat apa?"


"Nggak kuat nahan buat peretelin kamu."


"Mas!"


"Wahahahahaaa......."


Kini keduanya sampai di salah satu mall terbesal di kota jakarta ini.


"Mas, kita kesana yuk," Veli menunjuk salah satu toko langganannya.


"Ayo.....perlu di gendong lagi?"


"Betah banget kayaknya Mas gendong Veli," kata Veli sambil terkekeh.


"Lumayan lah, karena dapet rasain dikit-dikit," Aran tersenyum pada Veli yang tengah menatapnya dengan kesal.


"Ish......" Veli berjalan mendahului Aran karena berbicara dengan Aran tak pernah menemukan titik terang, yang ada hanya titik ranjang dalam suasana remang-remang.


"Khumairah sayang," Aran dengan langkah lebar kini mensejajarkan diri dengan Veli, bahkan ia merangkul leher Veli, "Jangan ngambek biar Mas beliin cincin," kata Aran berusaha merayu sang istri.


"Beneran Mas?"


Veli sangat senang karena Aran yang akan membelikannya cincin, bukan karena ia matre karena ia memiliki banyak perhiasan dan tabungannya pun sudah membengkak. Apa lagi sang Papa yang selalu mentransper uang bulanan untuknya, bahkan kadang tak terpakai. Namun rasanya sangat berbeda bila yang membelikannya adalah seseorang yang sudah resmi menjadi suaminya.


"Iya dong."


Setelah Veli memilih cincin sesuai dengan keinginannya, Aran lansung membayarnya.


"Sini Mas pasangin," kata Aran mengambil cincin itu dari tangan Veli, lalu memasangkannya di jari manis sang istri.


"Makasih Mas," Veli dengan cepat berjinjit dan memeluk Aran karena rasa bahagia, dengan keinginannya yang sudah terkabul.


"Sama-sama sayang," kata Aran yang juga membalas pelukan Veli, "Tapi apa ia makasih doang?" tanya Aran lagi sambil menaik turunkan kedua alianya.


"Nanti Veli buatin kopi," jawab Veli memeluk lengan Aran dan keduanya berjalan menuju toko pakayan.


"Yang lain lah, yang manis-manis," kata Aran sambil terus berjalan bersama Veli.


"Nanti Veli buatin, es teh manis," ucap Veli lagi.


"Yang lain....." kata Aran lagi.


Veli menghentikan langkahnya, kini ia mengerti maksud Aran. Aran menaik turunkan kembali kedua alis matanya menatap Veli.