Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 113


Di waktu yang sama, namun tempat berbeda. Pertengkaran Aran dan Veli masih terus berlanjut sampai saat ini. Veli tak perduli dengan apa yang di pikirkan Aran yang terpenting kini Aran tak lagi mengganggunya, dan ia bisa meminta Farhan kembali padanya.


"Heh.....lu mau apa?" tanya Veli sebab Aran terus mendekatinya.


"Bisa nggak kamu bicara sopan sama saya!" Aran menatap tajam Veli karena tak suka dengan Veli yang selalu ketus padanya.


"Yeee.....siapa anda?" Veli malah memutar bola matanya dengan jenuh, sambil mengejek Aran.


"Saya calon suami kamu, saya pastikan kita akan menikah!" jelas Aran dengan tegas.


"Aku tau aku itu cantik tuan Aran Rianda, tapi maaf level saya bukan anda, saya suka cowok yang maco dan juga tampan, di tambah ada manis-manisnya seperti dokter Farhan, jelas," kata Veli dengan angkuh berharap Aran akan membencinya dan tak lagi mengganggunya.


"Kamu pikir saya nggak maco," Aran melempar jasnya dan membuka beberapa kancing kemeja bagian atasnya, Veli gemetar melihat apa yang Aran lakukan. Ia mundur selangkah demi selangkah karena takut, namun kakinya tanpa sengaja tersandung.


"Aaaaaaaa," teriak Veli.


Dengan reflek Aran malah memeluk pinggang Veli, posisi keduanya adalah Veli di bawah namun Aran masih memeluknya agar tak terjatuh.


"Heh, jangan cari kesempatan!" ketus Veli saat menyadari posisi mereka kini.


"Sialan, bukannya berterima kasih," jawab Aran melepaskan Veli.


"Aaaaaa," karena Veli takut terjatuh akhirnya ia reflek memeluk leher Aran.


BUUUK.


Keduanya akhirnya terjatuh tepat di sofa, dengan Veli yang di tindih Aran.


Sementara dalam waktu bersamaan di luar ruangan kini telah datang seorang peria paruh baya, pria itu sudah lama menjalin kerja sama dengan perusahaan Aran dan hari ini mereka ada meeiting. Lama pria itu menunggu hingga kini ia bertemu dengan Asisten Aran yaitu Marni.


"Tuan Satria, sudah lama menunggu?" tanya Marni dengan sopan, karena ia baru kembali dari toilet dan tak tau ternyata Satria sudah di sana.


"Iya, Marni.....saya baru saja sampai, apa tuan Rianda ada di dalam?" tanya Satri.


"Belum tuan, karena saya tak melihatnya masuk dari tadi," Marni melihat jam yang melingkar di tangannya, ia pergi selama lima belas menit dan ia yakin Ceo mereka belum datang sampai saat ini. Lagi pula kalau Aran sudah datang harus melewati ruangannya dulu.


"Apa masih lama?" tanya Satria, sebab dua jam lagi sudah waktunya berbuka puasa.


"Tidak tuan, tadi tuan Aran mengatakan dia akan segera datang dan saya yakin beberapa menit lagi dia pasti sampai," jawab Marni dengan sopan.


"Iya, saya harap tidak terlalu lama," kata Satria lagi.


"Ya tuan....begini saja. Anda tunggu di dalam saja," kata Marni sambil mengarahkan Satri pada pintu lalu membukanya, "Silahkan masuk tuan Satria," Marni langsung mempersilahkan Satria masuk tanpa melihat ke dalam terlebih dahulu.


"Iya," jawab Satria ia masuk bersama sekretarisnya, keduanya melangkah masuk. Namun saat Satria masuk matanya tepat menatap Aran yang menindih Veli.


TAP TAP TAP.


Aran dan Veli menyadari suara langkah kaki, mata Aran melebar ternyata Satri masuk bersama sekretarisnya, dan Marni juga melongo melihat posisi Aran saat ini yang menindih seorang wanita. Marni shock ternyata Ceo mereka sudah berada di ruangan itu.


"Aku ceroboh sekali," gumam Marni dengan ketakutan, "Tamat sudah karir ku," Marni menunduk dengan perasaan harap-harap cemas.


"Maaf tuan Aran, saya tidak tau....." Satri tersenyum kecut saat memergoki Aran.


"Veli," Mata Satria menatap wanita yang sangat ia kenal, sementara Veli yang belum menyadari siapa orang yang menyebut namanya.


"Papah," kata Veli dengan rasa takut.


Satria menatap penampilan Veli yang acak-acakan selanjutnya menatap Aran dengan kemeja yang sudah tidak terkancing lagi, Satri tentu saja dapat menebak apa yang barusan di lakukan oleh putrinya dan juga rekan bisnisnya.


"Papah?" tanya Aran terkejut, "Tuan Satria, Veli ini putri anda?" tanya Aran untuk memastikan.


"Iya," kata Satria menatap tajam Veli, "Apa yang barusan kalian lakukan tadi?" tanya Satria dengan emosi, pikirannya kini meyakini jika anaknya baru saja berbuat tak senonoh bersama Aran.


"Ve....Veli....em," Veli tau sang Papah kini tengah marah dan ia takut walau hanya menjawab pertanyaan sang Papah. Pria yang paling ia hormati dalam hidupnya.


PLAK.


Tangan Satria melayang begitu saja dan mendarat di pipi sang anak, dengan reflek pipi Veli terbawa ke samping dan tangannya memegan pipi mulus itu yang kini terlihat sedikit lembam.


"Tuan Satria," Aran shock dan kasihan melihat Veli yang mendapatkan hal sedemikian, ia mencoba berbicara namun Satri dengan cepat memotongnya.


"Apa yang sudah anda lakukan dengan putri saya, kalian bahkan berbuat itu di bulan yang suci ini, menjijikan!" kata Satria berkabut emosi.


"Pah, Veli bisa jelaskan, ini tidak seperti yang Papah pikirkan," kata Veli dengan melas dan mencoba bernegosiasi.


"Apa masih ada yang perlu di jelaskan?" tanya Satri, "Apa kalian sudah sering melakukan itu?" tanya Satria lagi, Veli adalah anak perempuan satu-satunya dan anak kesayangan. Jadi Satri takan mau terjadi sesuatu pada putrinya.


"Iya tuan Satria, saya mohon maaf. Lebih baik saya mengakuinya saat ini dari pada Veli sudah hamil terlebih dahulu," jawab Aran tersenyum penuh misteri pada Veli.


BUUUK.


Satria memukuli Aran dengan membabi buta, karena mendengar apa yang di katakan Aran. Dengan cepat Veli memeluk Satria di bantu oleh asisten Satria juga, agar tak terjadi perkelahian.


"Heh, kangan ngaco! Kita memang tinggal satu atap. Tapi kita nggak pernah ngelakuin itu, gw juga ogah sama lo jangan ngarang!" kesal Veli meneriaki Aran dengan penuh kekesalan bagaimana pun Aran sudah memfitnahnya.


"Apa? Veli kamu tinggal sama Aran? Bukannya kamu tinggal di apartement?" tanya Satria semakin shock.


"Iya tuan Satria, kami tinggal satu atap, bahkan satu kamar tidur," kata Aran merasa ini adalah kesempatan agar Veli menikah dengannya, sedikit lagi.


BUUK.


Satria lagi-lagi memberi bogem mentah.


"Pah, dia bohong Pah, Veli nggak pernah ngelakuin apa yang dia ucapkan," kata Veli menatap Aran dengan tajam.


"Anda tau siapa saya tuan Satria, kalau memang anda merasa saya berbohong saat ini tidak apa. Tapi saya tidak akan bertanggung jawab bila suatu hari anda butuh pertanggung jawaban saya," Aran mengusap cairan berwarna merah di sudut bibirnya.


"Veli kamu sudah buat Papah kecewa, kalian harus menikah!" kata Satria tanpa bisa di bantah lagi.


Aran tersenyum samar, senyum kemenangan tentunya. Karena tak sia-sia ia mengorbankan sedikit tubuhnya untuk di hajar calon mertuanya, karena keberhasilan yang ia rasakan sangat sempurna.


***


Jangan lupa Vote ya Kakak semuanya, saya up dua Bab loh. Mohon beri saya semangat.