Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Cerita terbaru Author



Arka dan Mentari kini berada di rumah, Mentari terlihat begitu lelah dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya. Kaki jenjang Mentari berjalan menaiki anak tangga, dan sesaat kemudian ia sampai di kamar. Tanpa mengganti seragamnya Mentari merentangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


Clek.


Pintu kembali terbuka dan Arka langsung masuk, Mentari tidak perduli ia hanya memiringkan tubuhnya memunggungi Arka.


"Jangan lupa belajar, karena otak mu itu terlalu pintar!" Arka melewati Mentari begitu saja, ia menuju kamar mandi dan sesaat kemudian ia keluar dengan pakaian santai nya dan tubuh , yang lebih segar.


Mentari juga ikut mengganti seragamnya dengan piama, setelah itu ia mencepol rambutnya asal.


"Kak Tari beneran di hukum bersihin toilet ya?" tanya Mentari mengingat hukuman yang tadi siang di berikan Arak padanya.


"Kenapa?!" tanya Arka yang duduk di sofa, sambil memainkan ponselnya.


"CK....." Mentari naik ke atas ranjang dan ia tengkurap sambil membuka buku-buku miliknya agar besok ujiannya tidak semengerikan hari ini, "Kak, Tari nggak mau bersihin toilet, capek tau Kak!" kata Mentari yang masih terus keberatan dengan hukuman yang di berikan Arka padanya.


Arka tidak perduli sesaat kemudian ia keluar dari kamar, karena jika ia tetap berada di sana mungkin Mentari tidak akan pernah memulai belajar.


"Ish....." Mentari meninju udara, karena di acuhkan oleh Arka.


Waktu menunjukan pukul sebelas malam, Arka kembali masuk ke dalam kamar. Matanya menatap Mentari yang tertidur dengan asal.


Pagi harinya Mentari merenggangkan otot-ototnya, ia membuka mata dengan lebar menatap jam dinding, "Gw harus cepat-cepat ke sekolah, ini udah telat banget!" Mentari panik karena waktu menunjukan pukul tujuh tiga puluh dan ia tidak punya banyak waktu lagi,.


Mentari berlari menuju kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya di bawah shower sesaat kemudian Mentari selesai dengan seragamnya yang cukup rapi. Mentari mengambil tas ransel miliknya, dan ia baru sadar Arka tidak ada di sana. Mentari melihat sekitarnya dan memang tidak ada Arka, dan ia tidak memiliki uang sampai akhirnya mata Mentari melihat ada dua lembar uang seratus ribu di atas meja.


"Apa ini uang Kak Arka," Mentari tidak mau ambil pusing, dan ia cepat-cepat mengantongi uang bernilai dua ratus ribu tersebut.


Kaki jenjang Mentari berlari menuruni anak tangga, sampai di lantai satu ia melihat Linda.


"Tari sarapan dulu!" kata Linda.


Mentari menghentikan langkah kakinya dan menatap Linda, "Maaf ya Mi, tapi Tari udah telat banget," kata Mentari.


"Arka mana?"


"Nggak tau Mi, Mi Tari udah telat," Mentari mencium punggung tangan Linda lalu berlari menuju garansi untuk menumpangi mobil miliknya, karena uang yang di berikan oleh Arka cukup untuk mengisi bensin dan ia kalau ia membawa mobil tidak mungkin Arka bisa memberinya tumpangan.


Hari ini Mentari memang bangun telat, namun ia tidak telat sampai di sekolah. Karena di pagi ini memang tidak ada drama di rumah seperti biasanya, Mentari selesai memarkirkan mobilnya dan ia mulai memasuki kelas. Mentari meletakan tasnya di atas meja dan ia duduk manis, tidak lama berselang Rika datang bersama dengan Lala.


"Hai Genk, tumben ya lu nggak telat?" tanya Lala yang ikut duduk berdekatan dengan Mentari.


"Kayak lu kagak aje!" celetuk Rika.


"Hehehehe....." Lala cengengesan menunjukan gigi rapinya, hingga matanya menatap sesuatu di tengkuk Mentari, "Tari ini apaan?" Lala mendekatkan matanya agar melihat jelas benda aneh tersebut.


"Apasih?" Rika juga ikut penasaran dan ia juga ikut melihat dengan jelas.


"Apasih?" Mentari mengeluarkan cermin kecil dari tasnya dan melihat melalui kaca, "Apaan ya?" Mentari juga bingung dan tidak tahu sama sekali.


Rika dan Lala saling pandang, keduanya dapat menyimpulkan itu bekas apa.


"La.....apa yang gw pikirin sama kayak yang lu pikirin?" tanya Rika dengan bingung.


"Kayaknya sama Rika..." jawab Lala yang juga sangat penasaran, dan keduanya mulai menatap Mentari sambil penuh tanya.


"Apaan?" kata Mentari dengan ketus.


Lala mengangguk membenarkan pertanyaan Rika, "Tari kayaknya lu punya rahasia deh, kita butuh penjelasan!" tambah Rika.


Mentari terus memandang tanda merah di lehernya, dan tepat di bawah telinganya. Dengan bingung dan susah payah Mentari berusaha mengingat penyebab tanda merah itu bisa ada.


"Tar?" Rika menggerakkan tubuh Mentari, karena ia masih penasaran.


"Paan?" tanya Mentari.


"Lu udah punya pacar ya? Atau sebelum ke sekolah lu ngapel dulu sama pacar lu?" tebak Lala.


"Tari, pacaran sih boleh.....tapi jangan Sampek begitu juga....masa depan kita masih panjang," kata Rika yang kini meyakini Mentari sedang pacaran yang tidak sehat.


"Lala.....Rika....kalian apasih.....gw juga nggak tahu kenapa ini bisa ada!" jawab Mentari dengan sebenarnya, karena ia memang tidak tahu, "Ada apa gitu yang bisa nutupin ini," tanya Mentari pada Lala yang sangat suka membawa mek-up ke sekolah.


"Ada lu cover deh.....dan gw sama Rika butuh penjelasan Lu!" kata Lala dan Rika menatap Mentari dengan penasaran.


Mentari perlahan mulai menutupi tanda aneh pada lehernya, tapi ia masih terlalu bingung dengan tanda itu. Mentari yang memang sangat awam dalam hal berbau dewasa mulai bingung, namun setelah mendengar penjelasan dari Lala dan Rika mengenai mengapa adanya tanda itu kini ia tahu. Namun tetap saja siapa dan kapan, kenapa ia tidak mengingat sedikitpun.


"Selamat pagi anak-anak....." seorang guru datang, guru itu bernama Nia dan ia datang dengan soal-soal ujian di tangannya.


"Pagi Bu!!!!!!" seru para murid dengan kuat.


"Semuanya sudah siap?" tanya Nia.


"Siap Bu....!!!!"


"Semua adakah belajar????"


"Ada Bu!!!!"


"Baik kalau begitu, kita mulai dengan berdoa dan ujian kita mulai ya????"


"Iya Bu!!!!"


Soal ujian di bagikan semua murid fokus dengan mencari jawab pada soal-soal ujian mereka, tidak terkecuali dengan Mentari. Ia juga terlihat begitu antusias dan karena ia belajar semalam, ia tidak susah payah dalam menjawab soal ujian kali ini.


Mentari sejenak menyadari Arka tidak datang ke sekolah, rasanya tumben sekali Arka tidak datang. Namun itu tidak menjadi masalah karena sangat bagus bila tidak ada Arka menurut Mentari.


Kringggg.


Bel berbunyi semua sibuk mengumpulkan jawaban mereka, begitu juga dengan Mentari. Setelah semua murid keluar Rika dan Lala kembali mendekati Mentari.


"Tar...jelasin?"


"Gw nggak fokus ujian hari ini gara-gara kissmark di leher lu!" kata Rika.


"Kalian apaan sih!" kata Mentari yang juga bingung, "Eh....tapi gw juga bingung suer.....kagak boong gw!" Mentari memang tidak tahu dan ia juga masih bingung, dengan refleks Mentari melihat kedalam bajunya.


"Lu kenapa Tar?" tanya Rika.


"Nggak tau apa gw abis di lecehkan?!" mata Mentari melebar dan ia kini panik.


"Ama siapa, emang lu kemana aja....pergi sama siapa? Atau lu ada di temui siapa?!" tanya Lala dengan bertubi-tubi.


"***