
Anggia yang sudah siap dan rapi dengan pakaian kerjanya kini masih berada di dapur, ia mulai mengambil gelas untuk membuatkan kopi untuk Bilmar. Pertama kalinya Anggia membuat kopi untuk Bilmar, sebab Bilmar mengatakan harus saling menghargai.
Maka Anggia berusaha sebaik mungkin melakukan hal-hal yang biasanya di lakukan istri untuk suaminya, yang ia mulai dengan hal sederhana dengan membuat kopi. Namun saat Anggia akan memasukan gula ke dalam gelas, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perut buncitnya, Anggia tau tidak akan yang berani melakukan hal itu selain Bilmar.
Namun karena Anggia belum terbiasa dengan hal yang berbau romantis seperti ini ia merasa risih, bahkan Bilmar menghirup aroma tubuh istrinya. Tidak lupa menghisap tengkuk Anggia hingga meninggalkan jejak keunguan, Anggia menutup mata merasakan gelagat aneh namun ia tetap menguasai dirinya. Ia masih belum bisa mengeluarkan tingkah manja atau pun menunjukan bila ia pun menginginkannya.
"Abang kopinya udah jadi," Anggia melepas tangan Bilmar dan berjalan menuju meja makan dengan secangkir kopi, dan untuk menemani Bilmar sarapan pagi.
Bilmar tersenyum melihat tanda ke pemilikan yang barusan ia buat di tengkuk Anggia, namun Anggia tidak mengetahui hal itu sama sekali. Bilmar juga ikut ke meja makan lalu duduk, Anggia berdiri di samping Bilmar untuk mengisi piring sang suami sesuai keinginannya.
"Abang mau pakek lauk apa?" Tanya Anggia yang berusaha tetap tenang, entahlah ia pun tidak tahu, tapi sesuatu yang di tawarkan Bilmar tadi serasa sangat mendamba.
"Lauk cinta!" Bilmar menyeruput kopi yang dibuat Anggia.
"Abang...." Anggia kesal sendiri karena tingkah Bilmar.
"Apa sayang?" Jawab Bilmar lagi sambil membuka ponselnya sebab ada pesan.
Anggia menarik nafas dengan dalam, berbicara dengan Bilmar bukan membuat perasaannya tenang tapi malah di buat tidak karuan. Dan akhirnya Anggia kesal karena lama ia menunggu Bilmar yang sedang sibuk dengan ponselnya, Anggia meninggalkan Bilmar yang sedang sibuk dengan dunianya.
"Ck," Anggia melangkah pergi meninggalkan Bilmar, Bilmar yang tau istrinya sedang marah ia langsung meletakan ponselnya dan mengejar Anggia.
"Anggi, maaf ya, temenin Abang sarapan ya?" pinta Bilmar.
"Yuk," Anggia kembali berjalan ke meja makan bersama Bilmar.
"Abang makan apa aja boleh yang penting Anggi yang suapin," Kata Bilmar dengan mencolek dagu Anggia.
"Kan Abang bisa sendiri," Anggia bingung dengan tingkah-tingkah Bilmar, baru sehari ia berstatus istri Bilmar. Tapi sudah banyak perbedaan saat dulu mereka belum menikah dan saat ini sangat jelas perbedaannya.
"Tapi Abang pengen di suapin Adik manis, Istri Abang," Bilmar menarik hidung Anggia.
"Yaudah iya," Anggia ikut duduk di kursi bersebelahan dengan Bilmar dan mulai menyuapi Bilmar.
"Uluh-uluh, penganten baru," Veli yang hendak sarapan malah menggoda Anggia yang sedang menyuapi Bilmar.
"Veli, apa kau tidak punya kegiatan lain?" Kesal Bilmar.
"Dia mana ada kerjaan laen, ini orang kayak jin suka ada di mana-mana," Tiba-tiba Aran ikut bicara.
"Heh, lu nggak sopan banget sama gw tau nggak!" Bentak Veli.
"Veli, Aran, Siapkan berkas kalian nanti saya urus untuk membuat buku nikah kalian, atau sekarang kalian berdua pergi dari hadapan saya," Jelas Bilmar dengan nada berat dan tertahan terlihat wajah dingin yang ia tunjukan.
"Iya," Veli sangat takut, Bilmar tidak akan main-main dengan omongannya, dengan cepat Veli berlari bahkan tanpa sadar ia menarik tangan Aran agar ikut pergi dari hadapan Bilmar. Sementara Bilmar kembali minta di suapi oleh Anggia.
"Anggi kerja?" Tanya Bilmar.
"Hehehe, iya tapi di antar sama Abang boleh kan?" Anggia malah cengengesan.
"Boleh yuk," Bilmar kembali menyeruput kopi buatan istri untuk pertama kalinya, mungkin kopinya sama saja hitam. Namun kesannya yang ada pada kopi tersebut adalah taburan cinta yang seakan menjadi asap bertebaran keluar dari cangkir tersebut.
Bilmar membuka pintu mobil untuk Anggia, dan mempersilahkan Anggia masuk.
"Terima kasih," Tutur Anggia dengan tersenyum.
Lalu Bilmar ikut masuk setelah memutari mobil, keduanya terlihat seperti keluarga bahagia yang tak ada masalah, bahkan Anggia pun tak seperti biasanya yang selalu membuat Bilmar emosi.
"Anggi, pulang jam berapa?" Tanya Bilmar.
"Sore, nanti Anggi telpon Abang," Jawab Anggia.
"Jam berapa kita lihat anak kita?" Tanya Bilmar lagi.
"Terserah Abang, tapi tadi Mami juga pengen ikut. Nanti kalau Abang ke rumah sakit Abang jemput Mami dulu boleh nggak?" Tanya Anggia penuh harap ia pun tidak yakin Bilmar mau mendengar perintahnya.
"Iya sayang," Bilmar mengacak rambut Anggia.
Anggia diam dan menyandarkan tubuhnya, panggilan Bilmar seakan membuatnya bungkam dan tak tau lagi harus berkata apa. Entah saat ini Anggia sudah mencintai Bilmar atau hanya sekedar perasaan yang mengagumi kebaikan dan ketulusan Bilmar, entahlah Anggia terlalu bodoh akan hal itu. Ia tak ingin memberi hatinya pada pria yang hanya akan menyakitinya, cukup sekali Anggia merasa sakit bahkan saat itu sakit tanpa cinta pun terasa terluka, lalu bagaimana bila sakit karena sudah sangat mencinta.
"Abang nanti malam kita cari sate pinggir jalan lagi yuk, Anggi pengen lagi," Pinta Anggia.
"Iya, nanti malam ya," Bilmar memarkirkan mobilnya karena mereka kini sampai di rumah sakit.
"Makasih Abang," Anggia hendak membua pintu tapi tangan Bilmar memegang pundak Anggia, hingga Anggia mengurungkan niatnya membuka pintu tapi malah berbalik kembali menatap Bilmar penuh tanya, ia tidak mungkin langsung turun ia sangat menghargai Bilmar yang kini berstatus suaminya.
"Ya Abang?" Jawab Anggia.
"Kamu menghargai saya atau tidak!" Tanya Bilmar serius.
"Kok marah?" Anggia di buat bingung dan takut, lama sekali Bilmar tak memasang wajah dingin padanya.
"Abang nggak marah Anggi, tapi kalau Anggi mau turun jangan lupa cium punggung tangan suami," Bilmar tersenyum memberikan tangannya.
"Iya," Anggia memegang tangan Bilmar dan menciumnya.
"Gitu dong," Bilmar tersenyum namun saat Anggia akan menjauh Bilmar dengan cepat mengecup kening Anggia, dan hal itu membuat Anggia sangat terkejut.
"Anggi turun ya Bang," Pamit Anggia dengan susah payah.
"Iya Adik manis ku sayang," Jawab Bilmar.
Anggia turun dari mobil Bilmar, berkali-kali Anggia mengetuk kepala dengan tangan berharap otaknya bisa terkondisikan. Namun sayang berulang kali pun Anggia berusaha menguasai diri, berulang kali pula ia merasa gelagat aneh pada diri nya.
"Ya Allah Anggia Tiffani, perasaan apa ini," Anggia bergumam sambil terus melangkah menuju ruangannya, banyak orang-orang yang tersenyum ramah padanya. Namun tidak satu pun di balas Anggia dengan senyum ramah kembali. Bukan sombong hanya saja otaknya terlalu terfokus pada Bilmar, yang berubah sangat berubah dari sebelum mereka menikah.
***
Saya lagi semangat nulis karena banyak yang kasih Vote, makasih kakak yang sudah bermurah hati. Buat yang belum kasih Vote mohon berikan pada karya Author receh ini. Agar saya tetap semangat, Up lebih dari satu Bab perharinya ya.