Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 43


"Tapi apa lagi Ngi?" tanya Veli sudah dengan suara yang lembut.


"Aku-aku takut Vel, hiks, hiks," Anggia kemabali menangis dan sepertinya ia belum mampu melawan rasa trauma yang ia derita.


"Lu nggak usah takut, lu nggak mau kan utang budi sama tuan Bilmar?"


"Nggak," jawab Anggia dengan menggelengkan kepalanya.


"Nah kalau lu nggak mau utang budi lu harus bayar, lu harus sembuh demi anak yang ada di kandungan lu sebagai ganti buat tuan Bilmar udah nolong lu. Nggak ada yang tuan Bilmar harapkan dari apa yang dia lakuin buat nyelamatin lu, dia cuman mau anaknya hidup dan lu harus berjuang demi anak itu agar hutang budi yang lu rasakan sama tuan Bilmar lunas terbayar, dengan lu tetap hidup dan mempertahankan anaknya yang sekarang ada di kandungan lu."


"Hiks, hiks," Anggia hanya bisa menangis dan menagis, Veli memaklumi karena kesembuhan tidak langsung menghampiri harus perlahan. Anggia yang terbiasa dengan penderitaan membutuhkan kasih sayang juga perhatian dari orang sekitarnya, untuk mendorongnya pada kesembuhan dan kembali nyaman pada sekitarnya.


Anggia terlalu menutup diri karena ia tidak mau membagi deritanya dengan orang lain, dan ia hanya hidup dengan dirinya saja walau pun dulu ia memiliki orang tua. Anggia tidak bisa berbagi pada mereka karena kesehatan sang Ayah yang sangat memprihatinkan.


Dan ia juga tidak mau bercerita kepada ibunya takut, bila sang ibu ikut memikirkannya. Karena ibunya terus bersedih melihat sang Ayah yang terus sakit-sakitan. Anggia adalah anak yang sangat berbakti ia tidak mau membagi luka pada orang tuanya, hingga tanpa ia sadar luka itu perlahan membuatnya menjadi gila.


"Sekarang lu makan ya," Veli menyedok nasi dan menyuapi Anggia.


"Huek, huek," Anggia menahan mual karena bau nasi dan sayuran yang akan masuk kemulutnya, bahkan Anggia menutup mulut dengan kedua telapak tangan.


Veli tersenyum itu artinya Anggia sudah kembali sembuh, sebab sebelumnya ia tidak pernah merasakan mual. Ketika berdekatan dengan makanan bahkan Anggia hanya menangis dan menangis.


"Vel, ak-aku, huek," Anggia sambil menangis menolak makanan yang di dekatkan Veli padanya.


"Ya udah, lu minum susu aja," Veli hendak mengambil susu, tapi ia ingat susunya sudah di lempar oleh Anggia sebelumnya dan sudah di bersihkan asisten rumah tangga, "Gue buatin yang baru susunya." Veli hendak melangkah keluar.


"Veli, biar saya saja, kamu urus Anggia saja." kata Ratih, menurut Ratih ia memang harus membuatkan Anggia susu ia ingin memberikan Anggia kasih sayang, terutama untuk cucunya yang kini di kandung Anggia. Sebab Anggia butuh kasih sayang dan Ratih siap memberikan kasih sayang itu, lagi pula Ratih memang menyukai Anggia sejak pertama kali ia melihat Anggia berada di rumah Sinta saat merawat Ziva.


Veli mengangguk dan mengurungkan niatnya hendak melangkah keluar ia kembali mendekati Anggia yang masih bersandar pada tubuh Bilmar.


"Nyaman ya," goda Veli, karena entah Bilmar sadar atau tidak ia tidak berniat pergi dari sana, namun tubuh Anggia memang masih terlalu lemah untuk duduk sendiri.


"Ehem," Bilmar berdehem dan menatap Veli dengan tajam, tapi Veli yang memang manusia gesrek itu sama sekali tidak peduli. Ia tidak mau membuat Anggia semakin tegang bila terus berbicara serius.


"Lu minum jus dulu," Veli memberikan segelas jus dan di minum oleh Anggia dengan terpaksa.


"Vel aku mual," jawab Ziva dengan tubuh kurus keringnya, dan juga lemas sebab Anggia memang tidak memiliki tenaga untuk duduk saja masih Bilmar menjadi penopangnya.


"Iya, lu kan nggak makan apa-apa, hampir sepuluh hari. Gue nggak mau kasih lu terlalu banyak obat kimia kasihan janin lu, jadi lu harus makan nggak baik lu minum obat terus."


Veli memang sahabat yang terbaik untuk Anggia, ia sangat memikirkan sahabatnya itu. Veli tau jika Anggia kehilangan janinnya maka sahabatnya itu akan benar-benar gila dan tentu saja Veli akan berusaha menyelamatkan janin Anggia, tanpa rasa lelah sedikit pun Veli bahkan jarang tidur hanya demi merawat Anggia. Menjaga sang sahabat tidak pergi saat ia tengah tertidur.


"Terimakasih nyonya," kata Veli menerima segelas suau yang di berikan Ratih.


"Iya," jawab Ratih tersenyum saat melihat Anggia sudah bisa di ajak ngobrol.


"Minum ya Ngi, lu harus minum sekali lagi lu pendarahan anak lu nggak akan selamat."


"Ve-veli," Anggia menangis mendengar ucapan Veli yang terdengar menyeramkan di telinga Anggia, sungguh Anggia sangat takut kehilangan anaknya, Anggia memang tidak mengharapkan kehamilannya yang tidak tepat ini. Namun ia juga tidak rela bila anaknya meninggal ia seorang ibu yang akan menerima ankanya walau pun orang kain tidak menginginkannya.


"Makanya makan, minum. Hargai usaha gue yang mati-matian nyelamatin lu, bayi lu ngak akan hidup kalau cuman gue yang usaha tanpa lu juga. Yang penting itu disini elunya, lu harus kuat." kata Veli mengatakan keadaan anak Anggia karena itu lah memang yang terjadi.


"Em," jawab Anggia sambil mengangguk.


"Minum," Veli memegang gelas susu Anggia dan Anggia mulai mendeguknya.


Hanya setengah gelas saja yang mampu di habiskan Anggia, tapi Veli senang karena ada nutrisi yang masuk untuk janin Anggia yang di prediksi Veli, Anggia mengandung anak kembar. Akan tetapi itu belum pasti karena usia kandungan Anggia masih sangat muda.


"Veli, aku takut," Anggia menangis saat Veli hendak meninggalkannya.


"Gue kekamar mandi bentar, kebelet," kata Veli.


"Vel abis itu temenin aku ti-tidur ya."


"Tuh lu kan masih di peluk tuan Bilmar, ajak aja tuan Bilmar!" seloroh Veli sambil berlari menuju kamar mandi, takut dengan tatapan tajam Bilmar.


"Tuan saya-sa-saya tidak usah di peluk, tolong baringkan saja," kata Anggia masih dengan tubuh lemahnya, Anggia merasa sangat mengantuk.


"Iya," jawab Bilmar sambil membaringkan tubuh Anggia.


Wajah Bilmar memerah sejak Veli menggodanya, jujur saja Bilmar memang betah lama-lama memeluk Anggia tapi mau bagaimana lagi Anggia bukan istrinya. Dan hal yang harus Bilmar tahan adalah ingin mencium perut Anggia bukan untuk Anggia, melainkan ia ingin mendengarkan detak jantung anaknya di dalam sana.


"Ehem, Veli kok bener ya, kayaknya kamu nyaman ya Bil," goda Ratih setelah Anggia berbaring di ranjang dan Bilmar mulai menyelimuti Anggia.


Bilmar tersenyum samar ini pertama kalinya Ratih mau berbicara dengan baik padanya, Bilmar bersukur sepertinya Ratih sangat bahagia dengan kondisi Anggia yabg lebih baik sekarang ini. Sungguh Bilmar sangat merindukan Maminya yang dulu yang selalu ceria dan menyayanginya.


***


Hai semua jan lupa VOTE kalau mau saya semangat nulis okehhh😍😗.