Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 76


Anggia tidur di kamarnya bahkan tidur dengan lelap Anggia yang terbiasa tidur sendiri bahkan melupakan jika ia sudah menikah, sampai akhirnya Ratih datang ke kamar Anggia dan melihat menantunya berbaring lelap di ranjang, Ratih hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan tawa, sebab lucu pengantin baru tapi tidurnya di kamar masing-masing.


Ratih yang tidak tega membangunkan Anggia, langsung keluar dan menuju kamar Bilmar, tanpa mengetuk pintu Ratih masuk melihat Bilmar duduk di ranjang dengan fokus pada laptopnya. Sampai-sampai Bilmar tidak menyadari kedatangan Ratih.


"Bil," Ratih yang menyadari anaknya tidak menyadarinya, langsung duduk di sisi ranjang dan memulai percakapan.


"Mi," Jawab Bilmar yang masih fokus pada laptopnya.


"Kamu lagi sibuk?" Tanya Ratih.


Bilmar menjaukan laptopnya dan menatap Ratih yang duduk di dekatnya, "Mami mau bicara apa?" Tanya Bilmar menatap serius.


"Nggak. Mami ngerasa aneh aja, kamu sama Anggia udah nikah tapi kok kamarnya pisah sih?" Tanya Ratih dalam kebingungan.


Bilmar tersenyum pada Ratih, Bilmar mengerti dengan kebingungan sang Mami. Tapi ia juga bingung harus menjelaskan apa dan masalah Anggia yang seharusnya tidur di kamarnya, Bilmar juga mengerti akan hal itu, Anggia pasti tidak akan mau masuk kekamarnya sebelum ia yang mengajaknya.


"Mami kenapa belum ngerti juga sama Anggia, Anggia nggak akan pindah ke kamar Bilmar sebelum Bilmar yang minta," Bilmar memberi pengertian pada Ratih.


"Terus kamu nggak minta dia pindah kekamar kamu?" Tanya Ratih lagi.


"Tadi Bilmar udah ke kamar Anggia, tadi Bilmar nggak tega bangunin dia, jadi nanti aja tinggu Anggia bangun kasian juga Mi kayaknya Anggia kecapean abis muntah seharian," Jawab Bilmar.


"Em," Ratih diam dan menimbang perkataan Bilmar, "Bil, Mami mau kalian jangan cerai ya Bil setelah Anggia melahirkan," Kata Ratih lagi dengan cemas.


"Iya Mi, Bilmar nggak akan cerai sama Anggia, nanti Anggia pasti bisa rasain kalau kita semua sayang sama dia, Mami tenang ya," Bilmar memeluk Ratih, yang takut bila nanti cucunya tidak hidup bersama orang tua yang lengkap.


"Bil kamu juga harus beliin cincin nikah tau Bil, Mami kasihan banget sama Anggia. Udah nikahnya cuman begini, dia juga nggak di kasih papa," Tutur Ratih, Ratih ingat saat dulu ia menikah dengan Rianda pesta yang sangat di impikan semua orang ia dapatkan, bahkan Rianda memberinya barang-barang mahal.


"Mami jangan mikir yang nggak-nggak, masalah itu nanti kita pikirin abis anak-anak Bilmar lahir," Jawab Bilmar.


"Ya udah Mami keluar dulu, ingat ya Bil kamu sama Anggia udah suami istri loh, nggak boleh pisah kamar begini."


"Iya," Jawab Bilmar tersenyum.


Ratih keluar dari kamar Bilmar, tidak lama berselang Bilmar juga keluar dan masuk ke kamar Anggia, Anggia tidak ada di ranjang. Namun telinga Bilmar mendengar gemercik air dari kamar mandi, ia yakin Anggia ada di sana dan ia memutuskan duduk di sisi ranjang menunggu sang istri keluar.


CLEK.


Pintu kamar mandi terbuka Anggia keluar hanya dengan melilitkan handuk putih di tubuhnya, karena ia baru saja selesai mandi. Bilmar hanya melongo melihat sang istri dengan perut buncitnya.


"Abang..." Teriak Anggia kaget.


"Ngapain di kamar Anggi!" Teriak Anggia, "Keluar," Pinta Anggia lagi.


"Kenapa harus keluar, saya suami kamu," Jawab Bilmar.


"Suami? Emang kapan kita nikah?" Tanya Anggia bingung.


"Cepat pakai baju mu, nanti datang ke kamar ku biar aku sadarkan otak mu yang buntu itu," Kata Bilmar dengan kesal lalu pergi dari kamar Anggia.


Tidak lama kemudian, Anggia selesai dengan memakai piamanya tapi ia tak berniat pergi menemui Bilmar, ia saat ini ingin makan tapi bingung ingin keluar dengan siapa malam-malam begini, sebab ia dan Bilmar baru saja bertengkar. Hingga pintu kamarnya kembali terbuka tanpa mengetuk pintu Bilmar masuk menatap Anggia duduk santai dengan ponsel di tangannya di atas ranjang.


"Abang masuk ke kamar Anggi ketuk dulu gitu, tadi aja masuk-masuk ajah, masih untung Anggi pakek handuk coba kalau nggak pakek papa!" Kesal Anggia.


"Memangnya kenapa?" Tanya Bilmar kesal sambil mengambil ponsel yang ada di tangan Anggia, sebab Anggia sibuk dengan ponselnya.


"Abang balikin," Anggia berusaha merebut ponselnya, tapi Bilmar malah memasukan ke dalam saku celana jogernya membuat Anggia semakin kesal. "Apa Abang nggak tau sopan santun! Masuk ke kamar wanita tanpa ijin!" Teriak Anggia sambil turun dari ranjang.


"Kamu lupa kita sudah menikah!" Bilmar sangat kesal dengan perkataan Anggia seolah Anggia tak menghargainya.


"Iya terus kenapa kalau udah nikah?" Tanya Anggia tanpa dosa.


"Saya suami kamu, apa ada larangan seorang suami harus minta ijin untuk masuk kekamar istrinya sendiri?"


"Ya kan kita suami istri, itu memang benar," Anggia mendongkak dan berbicara santai, "Tapi bukannya kita nikah cuman sampai bayi ini lahir? Terus kita nggak perlu sekamar?" Tanya Anggia.


"Memangnya ada orang suami istri tidak satu kamar?" Bilmar sudah sangat di kuasai emosi, kemarin mereka belum menikah jadi wajar jika Anggia melarangnya masuk tanpa ijin, tapi kali ini statusnya sudah berbeda.


"Ada, kan dulu juga Anggi gitu, kata Mas Brian kita nikahnya cuman sampek Ayah Pasha warisin hartanya ke Mas Brian abis itu kita cerai dan nggak ada tidur satu kamar, jadi sekarang juga gitu kan Bang?" Tanya Anggia.


Entah Anggia bodoh atau polos, atau mungkin karena pernikahannya dulu dan sekarang tak ada bedanya yang hanya akad nikah di tambah perjanjian itu hingga ia benar-benar ingat dengan pernikahannya yang dulu, ide konyol Brian kini masih ia gunakan. Karena ia takut Bilmar akan memarahinya karena masuk dan tidur di kamar Bilmar.


Bilmar diam menatap wajah Anggia penuh tanya, ia mengerti dengan sikap Anggia yang sekarang.


Apa dia trauma ya sama pernikahannya dulu, pisah kamar? Brarti Anggia tak pernah tidur dengan Brian satu malam pun?.


"Kamu jangan sama kan pernikah dulu sama sekarang, kamu istri saya dan tidur di kamar saya, hargai saya sebagai suami kamu dan saya pun menghargai kamu sebagai istri saya. Jadi tidak ada perjanjian setelah anak itu lahir kita cerai," Bilmar menarik lengan Anggia keluar dari kamarnya, namun Anggia yang masih bingung berhenti melangkah dan Bilmar juga berhenti dan menatap ke belakang di mana Anggia di sana.


"Tapi perjanjian sebelun nikah kan nggak gitu, Abang bilang kita cerai setelah anak kita lahir," Anggia kembali mengingatkan Bilmar.


"Itu sebelum menikah sekarang beda dan saya tidak suka kamu membahas masalah cerai, ayo ikut," Bilmar kembali menarik tangan Anggia hingga masuk ke kamarnya.