
Selesai dengan makan malam, Aran dan Veli kini duduk di ranjang sambil menonton televisi mengistirahatkan tubuh lelahnya. Aran hanya punya waktu di malam hari saja untuk bersama istrinnya, jadi ia tak akan menyianyiakan waktu itu. Sementara Veli masih belum masuk bekerja sampai waktu satu minggu kedepan.
"Khumairah sayang, Mas punya hadiah buat kamu," kata Aran sambil menggulung-gulung rambut Veli, dan sesekali ia menghirup aroma shampo yang melekat di rambut hitam pekat milik sang istri tercinta nya itu.
Mendengar kata hadiah, wajah Veli mendadak cerah. Senyum berseri-seri kini menghiasi bibir merah merekahnya, "Hadiah apa Mas?" tanya Veli dengan penuh penasaran, dan ia tidak sabar melihat hadiah apa yang di berikan Aran padanya.
Aran mengambil sesuatu dari tas kerjanya dan memberikannya pada Veli, "Ini," Aran meletakan sebuah paperback di tangan Veli.
"Ini apa Mas?"
"Buka dong."
Mata Veli berbinar ternyata Aran membelikannya satu set perhiasan yang berharga cukup pantastis, "Mas ini buat Veli?" Veli masih belum yakin sepenuhnya dengan perhiasan yang di berikan Aran padanya.
"Iya, kan Mas udah janji beberapa hari yang lalu buat beliin kamu perhiasan. Tapi Mas baru bisanya sekarang, soalnya Mas pengen pilih sendiri dan tadi begitu Mas punya waktu luang Mas pergi ke toko perhiasan sendiri," jelas Aran.
"Mas," Veli terharu dan ia langsung memeluk Aran, "Makasih," ucap Veli.
"Makasih doang? Nggak ada ples-plesnya gitu?"
"Ada dong......." jawab Veli dengan manja sambil mencolek dagu Aran.
"Yes," dengan cepat Aran menghimpit tubuh Veli karena terlalu bersemangat.
"Mas tunggu dulu," Veli mendorong Aran dan kini keduanya duduk, dengan Veli menatap kesal Aran.
"Apa lagi?" tanya Aran sambil menggaruk kepalanya, karena ia sudah dalam mode on.
"Pasangin dulu," kata Veli meminta Aran untuk memasangkan perhiasan yang di berikan oleh Aran.
"Abis masangin, dapat bayaran kan?" tanya Aran.
"Iya, tapi pasangin dulu."
Aran tersenyum, dengan cepat ia memasangkan kalung tersebut di leher Veli.
"Aduh cantiknya istri Mas," kata Aran tersenyum.
"Hehehehe....." Veli malah mendadak tidak karuan karena perlakuan Aran, dengan cepat ia menuju kamar mandi. Setelah di dalam kamar mandi ia bercermin memandang perhiasan yang di berikan Aran. Bibirnya tersenyum, bahkan rasanya Veli ingin loncat-loncat dan guling-guling karena perasaannya kini sangat bahagia.
"Sayang ku....."
TOK.....TOK.....TOK.....
Aran mengetuk pintu kamar mandi, beberapa kali ia mencoba memutar gagang pintu untuk masuk. Namun tak bisa karena Veli menguncinya dari dalam sana.
TOK.....TOK......TOK......
"Khumairah sayang."
CLEK.
Veli membuka pintu dan melihat Aran tengah tersenyum padanya.
Veli bangun dari duduknya dan ia membuka laci meja rias, tangannya mengambil sesuatu dari dalam sana. Lalu ia menatap Aran dengan kesal.
"Aku pikir setelah Mas ambil sesuatu yang berharga dari diri ku, Mas udah yakin kalau kita akan terus sama-sama. Aku pikir Mas nggak ada lagi niat buat pergi tinggalin aku, atau pun sebaliknya. Terus untuk apa aku belajar semua pekerjaan rumah, untuk apa aku tidur seranjang dengan Mas setiap malam!" jelas Veli kesal.
"Sayang, kamu kenapa gampang marah-marag begini? Mas kan cuman tanyak. Nggak lebih," kata Aran berusaha meyakinkan Veli, bahkan tangan Aran memegang lengan bagian atas Veli.
Sementara Veli malah menangis, dengan cepat ia menghempaskan tangan Aran.
"Sayang kamu nangis?" Aran panik melihat reaksi Veli yang di luar perkiraan Aran, padahal ia hanya ingin di yakinkan Veli untuk tetap bersama. Namun yang ada justru Veli marah dan juga menagis.
"Mas tadi ngomong pisah kan," Veli memegang tangan Aran dan meletakan tespack di telapak tangan Aran, "Setelah semuanya kamu masih berbicara pisah?" ucap Veli lagi lalu ia pergi meninggalkan Aran keluar dari kamar itu.
Aran masih diam menatap tespack di tangannya, sesaat kemudian ia tersadar. Dengan cepat ia mengejar Veli yang kini sudah membuka pintu dan hendak melangkah pergi.
"Sayang," tangan Aran dengan cepat memegang lengan Veli, tak lupa Aran juga menutup kembali pintu itu, "Kamu hamil?" tanya Aran sambil ia menatap Veli, penuh harap.
"Enggak!" jawab Veli dengan mata yang berkaca-kaca, perasaannya kini tak menentu kadang dalam waktu bersamaan ia bisa tertawa, menangis, marah tanpa sebab yang jelas.
"Terus ini apa?" Aran menunjukan taspack dengan dua garis merah, "Kamu hamil?" tanya Aran lagi yang ingin mendengar jawabannya langsung dari bibir Veli.
Veli menarik napas dengan dalam, "Udah tau masih nanyak!" kesal Veli.
Dengan cepat Aran memeluk Veli, beberapa kali ia mengecup pucuk kepala Veli penuh haru. Rasanya Aran masih belum percaya dengan itu semua, namun kebahagian itu sungguh sangat terasa.
"Lepas," Veli mendorong Aran, tapi tak bisa. Semakin kuat Veli mendorongnya, semakin kuat pula Aran memeluknya, "Lepas!" kata Veli lagi sambil menangis.
"Jangan nangis," kata Aran dengan suara bergetar, "Jangan tinggalin Mas, Mas nggak bisa kalau nggak ada kamu," terang Aran tanpa melepas Veli dari pelukannya.
"Tapi tadi Mas tanya pisah apa nggak, itu artinya Mas masih mikir buat pisah. Padahal aku udah kasih semuanya sama Mas, termasuk cinta," terang Veli.
DEEG!
Jantung Aran serasa berdebar, saat Veli mengatakan cinta. Sungguh kata-kata itu lah yang ingin di dengar Aran.
"Kamu bilang apa tadi?" Aran tak ingin mendengar Veli mengatakan cinta hanya sekali, ia ingin mendengar dengan jelas. Sungguh apa yang di katakan Veli sangat indah di dengar di telinganya.
"Aku benci sama Mas, lepas," kata Veli ingin di lepaskan.
"Tapi Mas cinta sama kamu," tutur Aran sambil kembali mendekap sang istri, yang kini tengah menangis. Ia sekarang tahu mengapa Veli sering berubah-ubah itu karena sedang mengandung.
"Hiks.....hiks......" Veli membalas pelukan Aran dengan erat, rasanya dada bidang sang suami terasa sangat menenangkan perasaannya yang kacau.
"Jangan pergi, kita besarin anak kita sama-sama," Aran menatap manik mata Veli, ia tak mampu lama menatap manik mata hitam pekat itu, dengan pelan Aran mengecup kedua mata Veli yang masih menggenang air mata.
"Mas tadi yang ngomong pisah.....hiks.....hiks....."
"Sayang maaf, maksud Mas nggak gitu. Mas minta maaf ya," kata Aran lagi, "Ya ampun.....Mas bahagia banget bentar lagi jadi Ayah," kata Aran tersenyum bahagia.
***
Jangan lupa, LIKE dan VOTE. makasih.