
"Mas, nggak usah terus-terusan minta maaf atau merasa bersalah, Anggi juga udah lupain itu semua jadi Mas nggak usah merasa terbeban lagi," jelas Anggia.
Kini Anggia sudah iklas menerima apa yang pernah terjadi dalam hidupnya, Anggia juga tidak merasa terbeban sebab perasaan yang tak menentu ternyata dengan iklas menerima perasaan jauh lebih tenang, tanpa ada perasaan terbeban.
"Apa kau tidak ingin kita memperbaiki semuanya lagi?" tanya Brian mengharap Anggia kembali lagi dengannya agar Brian bisa memperbaiki semua kesalahannya.
"Maaf Mas, kalau Mas mau berteman dengan Anggi boleh saja tapi semua ada batadannya, kalau untuk kembali seperti dulu lagi. Anggi nggak bisa," Anggia berkata dengan nada yang lembut agar Brian tidak salah menilai, lagi pula Anggia menghargai niat baik Brian. Apa lagi dengan berani Brian kini mengakui kesalahannya.
"Tapi Mas ingin memperbaiki semuanya Anggia," Brian berusaha meyakinkan Anggia agar yakin kini dengannya.
"Anggi sudah menikah Mas, Anggi sudah memiliki suami tidak mungkin Anggi meniksh lagi," jelas Anggia agar tak ada salah paham.
"Kamu sudah menikah lagi?" Brian bagai di hantap batu yang besar dengan bertubi-tubi bayangan kebahagian yang akan tercipta antara dirinya dan Anggia kini musnah sudah.
Tidak ada lagi harapan yang ada hanya rasa sakit tapi Brian tetap merasa bahagia paling tidak kini Anggia sudah bahagia terlihat jelas kini Anggia terlihat ceria juga tubuhnya sudah berubah gemuk. Tak ada lagi mata sembab seperti dulu yang Brian lihat, Brian bahkan menyadari kecantikan Anggia kini sangat jauh lebih cantik dari pada dulunya. Rambur hitam lebatnya terikat dengan sangat rapi dan perut Anggia kini sangat buncit.
"Saya sudah menikah dengan Ayah dari anak yang saya kandung," jelas Anggia. Tak perlu memperjelas siap suaminya sebab Brian memang sudah tau ia di hamili siapa.
"Kamu dan Bilmar sudah menikah?" Brian menunduk sesaat setelah Anggia mengangguk mengiyakan jawaban Brian.
Brian diam namun tidak bersedih sustru ia tersenyum lalu kembali menatap Anggia.
"Selamat ya, saya senang kamu menikah lagi itu artinya kamu sekarang sudah bahagia, dan aku pun turut bahagia. Aku hanya takut bila karena pernah menikah dengan ku masih meninggalkan trauma pada mu, itu sanggat membebani pikiran ku. Tapi kalau sudah seperti ini aku lega aku yakin sekarang kau sangat bahagia," ucap Brian dengan penuh senyum bahagia, terlihat tak ada rasa iri atau pun dengki yang terlintas di hatinya.
Semua yang terjadi seakan menjadikan pelajaran tentang bagaimana menghargai seorang wanita. Brian tidak memungkiri bila ia sudah jatuh sejatuh-jatuhnya dalam mencintai Anggia, tapi cinta itu datang terlambat. Terlambat sekali bahkan cinta itu hadir setelah Anggi di miliki oleh orang lain, tapi tidak mengapa karena ketulusan cinta yang sesungguhnya adalah mengiklaskan. Jadi jangan paksakan seseorang untuk tetap bersama mu bila ia pun tak mencintai mu, biarkan dia pergi bila ia memang menginginkan cinta yang lain. Begitu juga dengan Brian saat ini tak akan pernah merebut cinta itu, kecuali cinta itu datang dengan sendiri padanya.
"Terimakasih ya Mas," Anggia terharu ia tak pernah melihat Brian yang seperti ini, "Semoga Mas juga bisa dapet pengganti aku yang lebih baik dari aku," kata Anggia menatap Veli.
"Maksud lu gw, ogah ya," ketus Veli yang membuat Brian dan Anggia tersenyum.
"Apa sih kok kamu?" Anggia terkekeh melihat tingkah Veli bila ia tau orang itu jahat, maka ia pikir orang itu akan terus saja menjadi jahat. Namun bila orang itu Veli ketahui baik maka menurut Veli ia tetap baik.
"Iya kale.....lu kan berdoanya sambil liat gw, sama Aran aja gw ogah apa lagi sama dia," Veli mentap sinis Brian.
"Emang aku segitu jahatnya ya dulu, makanya kamu pikir aku nggak pernah bisa jadi berubah?" tanya Brian pada Veli.
"Ya iya lah masak iya-iya dong," Veli memutar bola matanya dengan malas.
"Veli....nggak baik begitu, kalau kita nggak maafpin orang yang udah minta maaf sama kita, kita juga lebih jahat dari orang itu," Anggi mencoba membuat Veli agar tak ketus lagi pada Brian.
"Iya-iya, kalau nggak ada urusan gih....itu pintu keluarnya," tutur Veli yang semakin membuat Anggia geleng-geleng kepala, entah siapa nanti yang bisa membuat sahabatnya itu bisa sofan dalam bertutur kata.
"Aku pamit ya Anggi, sekali lagi selamat dan semoga bahagia," tutur Brian lalu pergi meninggalkan ruangan Anggia.
"Ish, lu belain dia ya," kata Veli menatap Anggia sinis.
"Nggak gitu Vel," Anggia bingung bagaimana vcara menjelaskan pada Veli.
"Bilang aja iya," ketur Veli.
"Yaelah calon bini Aran sensi amat, lagi datang bulan Bu dokter?" seloroh Anggia.
"Anggia lu tu ngeselin banget deh," Veli pergi meninggalkan ruangan Anggia dengan rasa kesal yang sampai di ubun-ubun karena Anggua terus saja mengejeknya calon istri Aran.
Sesaat setelah pintu tertutup, pintu kembali terbuka. Anggia yakin itu pasti Veli kembali lagi, namun salah ternyata Bilmar di sana. Anggia tersenyum dan berjalan cepat mendekati Bilmar.
"Abang," dengan cepat Anggia memeluk lengan sang suami.
Bilmar diam dan ia masuk begitu saja, Angia bingung Bilmar bahkan duduk di sofa tanpa bicara. Anggia melepas pelukannya dan menjauh dari Bilmar, mungkin saja Bilmar tak suka padanya pikir Anggia hingga ia memilih duduk di kursi kerjanya dan tertunduk menangis, tanpa suara.
"Kenapa nangis?" Bilmar tau istrinya menangis di sana.
"Mana ada," jawab Anggia kembali duduk bersandar setelah menghapus air matanya.
"Ngapain tadi Brian kesini? Dan kamu juga bolehin Brian masuk!" tanya Bilmar tegas.
"Anggi mau rujuk sama Mas Brian," kesal Anggia lalu berniat pergi dari ruangan itu, tapi dengan cepat Bilmar memegang lengan Anggia.
"Kamu bilang apa!" tatapan tajam Bilmar seakan membuat Anggia takut dan menangis lagi.
"Sakit..hiks, hiks," Anggia menangis ketakutan.
"Jawab! Kamu bilang apa tadi," kata Bilmar.
Anggia diam dan mengis; sesaat Bilmar sadar tubuh Anggia bergetar ketakutan dengan cepat Bilmar memeluk Anggia. Sebelum sang istri menjadi merasa tertekan ia juga ingat nasehat Veli tentang ke sensitif pan Anggia saat hamil.
"Brian ke sini buat minta maaf, nggak usah marah-marah hiks, hiks....." Anggia malah semakin menangis.
"Maaf," Bilmar memeluk Anggia dan ia sadar sudah berkata kasar tanpa bertanya dulu dengan baik.
"Abang pikir Anggi cewek murahan apa? Sama sana sini mau," kesal Anggia.
"Maaf," Bilmar memeluk sang istri dengan erat.