Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 88


Anggia kini sedang berada di mobil pagi ini Anggia berangkat bersama Veli dan Aran sebab Bilmar harus cepat ke kantor ada masalah yang harus ia tangani, masih seperti biasanya Aran dan Veli tidak akan pernah akur walau pun Aran sudah berbaik hati menawarkan diri untuk mengatar mereka.


"Aku udah rela ngaterin kamu, tapi kamu gitu ya sama aku," Aran kesal namun masih tetap menahan kekesalannya sebab ia sudah bertekat membuat wanita yang duduk di sampingnya ini jatuh hati padanya, dan ia akan menghempaskannya setelah misinya bethasil dengan penuh hinaan.


"Gw nggak minta lu anterin, lagian kunci mobil gw mana," Veli kesal sebab mobil Veli yang di simpan oleh Aran dan juga kuncinya entah di mana, Veli bukan merasa berterima kasih justru malah di buat semakin benci.


"Ada apa dengan mobil itu, kenapa harus dengan mobil itu, biar aku saja yang mulai hari ini mengantar dan menjemput mu," Aran melirik Veli setelah itu fokus menyetir.


"Itu mobil di beliin sama cowok incaran gw, dokter bedah yang tampan itu," Veli menutup mata membayangkan bertapa tampannya dokter Farhan.


"Heh, di larang membayangkan pria lain, apa lagi pas lagi sama calon suami nggak sopan," Aran malah kesal mendengar apa yang di ucapak Veli.


"Gw nggak mau jadi istri lu, nggak minat!" Veli turun dari mobil sebab kini mereka sampai di rumah sakit, begitu juga dengan Anggia yang juga turun tanpa kata kepalanya sangat pusing sepanjang perjalanan mendengarkan keributan pertengkaran Veli dan Aran yang tak jelas.


Aran pun pergi meninggalkan rumah sakit menuju perusahaan, Anggia yang berjalan tiba-tiba merasakan tangannya di genggam oleh seseorang. Anggia bisa menebak itu pasti Veli sahabat sejatinya, namun Anggia juga tak begitu yakin dengan tebakannya sebab tangan Veli tak sekasar dan sebesar tangan yang memegang lengannya saat ini.


Karena rasa penasaran Anggia perlahan berbalik menatap siapa yang memegang lengan miliknya, hingga mampu membuatnya terhenti saat melangkah di tambah lagi agar rasa penasarannya segera terjawab. Mata Anggia bertemu dengan manik mata pria itu, pria berstatus mantan suami Anggia Tiffani. Ya orang itu ternyata Brian, Anggia mencoba melepas tangannya yang di genggam Brian namun tangan Brian terlalu kuat mencengkramnya.


"Mas, ada apa lagi, bukankah kita sudah tidak ada urusan," Anggia tak bisa terlalu banyak bergerak, kehamilannya yang kini sudah sangat besar membuatnya harus hati-hati agar sang bayi baik-baik saja di dalam sana.


"Anggia, Mas mohon beri Mas waktu untuk berbicara," Tutur Brian.


"Heh," Veli tiba-tiba datang di antara mereka, Veli awalnya memang hendak masuk keruanggannya. Namun ada data pasien yang tadinya ia titipkan pada Anggia hingga Veli harus kembali menyusul Anggia yang masih tertinggal di belakangnya. Namun yang Veli temui justru ternyata Brian yang sedang memegang lengan Anggia, sementara Anggia berusaha melepaskan diri. Veli tentu saja tidak akan diam saja, Veli tidak suka bila ada yang ingin mencoba menyakiti sahabatnya.


"Mas lepas," Anggia sangat berharap Brian melepasnya, tapi Brian pun sangat berharap Anggia mau berbicara dengannya walau hanya sebentar saja.


"Heh, lepasin sahabat gw dia nggak mau ngomong atau pun ketemu sama lu lagi ngapain lu masih maksa," Veli masuk di tengah antara Anggia dan Brian hingga tangan Anggi terlepas dari genggaman Brian.


"Anggia apa aku tidak bisa berbicara dengan mu walaupun hanya sebentar saja," Pinta Brian.


"Baiklah, ayo ke ruangan ku," Kata Anggia yang juga menarik Veli ikut bersamanya, Anggia tidak akan mau berdua saja dengan seorang pria di ruangannya, mau Bilmar hanya suami sementaranya pun tapi tetap saja Anggia sangat menghargai Bilmar yang kini berstatus suami sekaligus Ayah dari anak yang sedang ia kandung.


"Anggia kamu udah gila ya," Veli tidak habis pikir dengan jalan pikiran Anggia, Veli memang wanita periang dan baik hati namun ia pun tak rela bila harus memaafkan orang sudah lama terlalu menyakiti seperti Brian.


"Tuhan aja maha pemaaf Vel, apa lagi kita yang hanya manusia biasa nggak baik nyimpan dendam," Tutur Anggia meyakinkan Veli sambil berjalan menuju ruangannya.


"Lu nggak cinta kan sama Brian?" Veli lagi-lagi seperti polisi yang sedang mengintrogasi hingga Veli menyuguhkan Anggia dengan banyak pertanyaan.


"Sejak kapan Vel aku pernah jatuh hati sama dia? Dulu saja kau berstatus istrinya tak pernah ada cinta. Nggak mungkinkan sekarang tiba-tiba ada," Tutur Anggia di telinga Veli yang hanya di dengar keduanya.


"Duduk," Anggia menunjuk sofa yang tertata rapi di ruangannya, semenjak Anggia menikah dengan Bilmar kini ruangannya berpindah bahkan ruangannya sangat luas, dan itu karena Bilmar tentunya.


Ketiganya duduk saling berhadapan, sekilas Anggia mengingat bertapa kejamnya Brian saat dulu, namun sekuat tenaga Anggia mencoba melawan ketakutan itu. Di sela ingatan itu Anggia mengingat Bilmar yang mengatkan jika sekarang ia tak sendiri semua orang di sekitarnya tak akan membiarkannya hidup sendiri dalam keterpurukan, hingga kini Anggi berhasil menguasai diri dengan yakin dan tanpa takut Anggia menatap Brian dan ingin mengatakan jika ia sudah bersuami.


"Anggia, aku ingin minta maaf," Tutur Brian dengan yakin, "Aku merasa berdosa selama ini sudah menyakiti mu," Brian merasa terbeban jika Anggia belum juga memaafkannya, ia kini sadar apa yang ia lakukan dulu memang sangat keterlaluan hingga mungkin tak pantas di maafkan namun kini Brian tidak sama seperti dulu, kini ia tulus memohon maaf pada Anggia.


"Telat dari dulu kemana ajeh, Anggia dah bahagia keles," Jawab Veli menatap Brian sinis.


"Veli nggak boleh ngomong gitu, kita harus saling memaafkan kalau kita nggak maaf pin orang lain itu artinya kita juga tidak ada bedanya dengan orang itu," Jawab Anggi berbisik pada Veli yang duduk di sampingnya.


"Veli benar, tapi aku hanya ingin kau memaafkan aku itu saja," Tutur Brian kembali dengan perasaan menyesal juga harapan yang terlihat begitu besar, hanya demi mendapat kata maaf dari Anggia. Dengan meminta maaf dan mendapat maaf mungkin seseorang akan merasa lebih tenang tidak lagi di hantui perasaan takut yang senang tiasa menghampiri.


****


Banyak VOTE kita lanjut, Nggak ada VOTE kita lanjut setelah Author maunlanjut, lagi mggak semangat soalnya.