Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 92


Kini Anggia dan Bilmar sedang berbelanja di pasar, keduanya terlihat sangat serasi bagaimana tidak serasi dengan Bilmar yang ada di belakang Anggia berbelanja dan Bilmar sebagai pembawa belanjaan sang istri. Bilmar tidak apa membawa banyak belanjaan sang istri tapi ia kesal Anggia menawar padahal hanya meminta kurang seribu rupiah saja, dan bila penjual mangga yang satunya berselisih harga sedikit saja Anggia pergi ke penjual yang lain.


"Sayang...." kesal Bilmar pada sang istri yang sibuk berpindah dari pedagang satu ke pedagang lainnya.


"Nggak usah sayang, panggil Anggi aja," jawab Anggia sambil memijat dan menciumi buah mangga muda segar.


"Iya...Anggi harganya cuman beda serebu Ngi, ambil aja," tutur Bilmar yang berada di belakang Anggia.


Anggia tersenyum sekilas pada Bilmar, setelah itu ia kembali lagi menatap si pedagang mangga.


"Bang ini harganya berapa," tanya Anggia pada si penjual.


"Kok Abang yang, itu cuman panggilan Anggi sama suami ya...jangan berani panggil orang lain. Apa lagi sama tukang mangga," kesal Bilmar yang mengomel di belakang Anggia.


Anggia memutar bola mata dengan jenuh, ia sangat kesal dengan sang suami dengan tingkah yang anehnya.


"Mas ini harganya berapa?" Anggia terpaksa mengulangi pertanyaannya lagi, karena ulah sang suami.


"Yang nggak usah sok deket sama pedagangnya Abang nggak suka," protes Bilmar lagi berbisik pada Anggia.


Anggia hanya bisa menarik nafas semoga ia masih punya banyak stok kesabaran pada sang suami yang membuatnya sangat kesal.


"Pak mangganya berapa sekilonya," tanya Anggia dengan nada kesal dan sekilas ia menatap sang suami rasanya Anggia ingin melempar mangga muda itu pada wajah Bilmar tapi ia masih sadar, Bilmar adalah suaminya.


Sementara Bilmar hanya bisa tertawa renyah, menunjukan dua baris gigi rapinya. Ia menyadari tingkah Anggia yang berubah kesal padanya, tapi mau bagaimana lagi rasanya Bilmar tak rela bila sang istri berbicara pada pria lain walau pun hanya seorang penjual mangga saja.


"Mangganya 30 rebu Neng," jawab si penjual yang juga merasa aneh dengan pembelinya.


"Kurang ya Pak...." pinta Anggia yang masih memegang mangganya.


"Kagak bisa Neng harganya emang segitu," si penjual sudah biasa menghadapi pembeli seperti Anggia, ibu-ibu yang ngotot meminta kurang walau hanya seribu rupiah saja sudah menjadi makanan sehari-harinya.


Hanya saja kali ini pedagang itu merasa aneh sebab penjual itu tau penampilan Anggia dan Bilmar bukan dari kalangan bawahan, di tambah lagi pedagang itu bingun dengan wajah Bilmar sepertinya ia pernah melihat di televisi tapi semua itu ia tepis karena rasanya tidak mungkin orang kaya-raya berbelanja di pasar, di tambah lagi Anggia yang ngotot minta kurang walau seribu rupiah saja.


"Nggak jadi Pak," Anggia pergi meninggalkan pedagang itu dan beralih pada pedagang yang lainnya.


"Yang cuman seribu...." Bilmar hanya bisa diam saat Anggia juga menatapnya tajam.


"Seribu juga uang Abang," Anggia kembali melihat mangga dan memegangnya ia menghirup aroma mangga itu sangat wangi sekali.


"Abang ganti uang Anggia," Bilmar lebih memilih memberi penawaran pada sang istri, mendengar uang Anggia tersenyum. Ia meletakan sejenak mangga yang ia pegang dan mentap sang suami.


"Mana uangnya," tanyan Anggia menadah pada Bilmar.


"Iya..." dengan kesal Bilmar mengambil dompet dan memberikan uang lembaran seratus ribu berjumlah lima lembar pada Anggia.


"Kok cuman segini," Anggia menghitung uangnnya yang hanya lima ratus ribu saja, padahal dopet Bilmar masih tersisa beberapa lembar lagi.


"Kan cukup yang," Bilmar di buat bingung.


"Ini," Bilmar meletakan uangnya di tangan Anggia.


"Waw, enak kan kalau begini," Anggia tersenyum dan menyimpan uangnya dalam tas.


"Dasar mata duitan," gumam Bilmar yang masih di dengar Anggia.


"Dari pada Abang?" kesal Anggia yang lagi-lagi memutar bola mata dengan jenuh, sambil kakinya mencari pedagang mangga yang lebih segar dari tadi.


"Abang emang apa?" tanya Bilmar yang ada di belakang Anggia.


"Dari pada Abang mata keranjang," seloroh Anggia di selingi tawa dan kali ini ia mulai memilih mangga, jeruk dan banyak buah lainnya tanpa meminta kurang sedikit pun.


Bilmar sangat senang kali ini Anggia berbelanja dengan baik dan benar, tapi Bilmar shock ternyata yang di beli istrinya cukup banyak. Bilmar membawanya dengan susah payah, kedua tangannya sudah penuh dengan barang belanjaan Anggia. Tapi tetap saja Anggia masih memilih buah lagi bahkan kini beralih pada sayuran yang seharusnya menjadi tugas Art.


"Yang belanja sayur biar Art aja, kamu beli buah aja," kata Bilmar sambil kesusahan membawa barang belanjaan Anggia.


"Seger banget ini, Anggi mau masakin buat Abang."


Jawaban Anggia seakan membuat Bilmar bahagia, ia seakan lupa jika kini ia sedang kesusahan menenteng belanjaan sang istri tercintanya itu.


"O," jawab Bilmar dengan perasaan berbunga-bunga.


"Abang ini bawain juga," Anggia menunjuk banyak kantong belanjaan miliknya, Bilmar semakin di buat sesak nafas dengan kelakuan Anggia yang berbelanja tak bisa berhenti.


"Anggi, tangan Abang udah penuh banget," Bilmar menunjuk tangannya pada Anggia, menunjukan belanjaan sang istri sudah sangat bangak.


"Iya juga sih," Anggia mengangguk mengerti, "Anggi punya ide," bagai ada bola lampu yang berpijar di kepala Anggia, kini ia tersenyum bahagia setelah menggantung belanjaannya di leher Bilmar, "Jadi deh," kata Anggia merasa bangga pada dirinya.


"Anggi kita pulang yuk, Abang udah nggak kuat," Bilmar ingin berteriak saat ini karena istrinya berbelanja seperti orang kesurupan yang tak berhenti.


Padahal tadi Anggia berkata kepasar hanya membeli buah mangga saja, tapi sampai di pasar semua ia borong. Bukan Bilmar pelit kalau Anggia mau seisi pasar bisa ia beli, namun Anggia hanya ingin ia yang membawanya tanpa bantuan yang lain. Bilmar harus bersabar mungkin karena istri tercintanya sedang mengidam.


"Abang pulangnya lewat sana aja," Anggia menunjuk jalan yang lainya, tapi sepertinya Bilmar ingin lebih cepat sampai hingga ia mengambil jalur nekat.


"Abang lewat sini aja yang," tutur Bilmar.


BUUK.


Belum habis Bilmar berbicara ia sudah masuk kelumpur, karena terpeleset.


"Abang...." Anggia hanya bisa berteriak dari kejauhan sebab kalau ia mendekat ia takut ikut juga terpeleset, ia sedang hamil dan harus benar-benar di jaga.


"Anggi...." Bilmar berdiri dengan susah payah, wajahnya di penuhi lumpur dan belanjaan yang di beli Anggia habis berantakan. Menyisakan kantung pelastik kosong yang beberapa lagi masih melekat di leher Bilmar.


"Abang bangun," Anggia memeluk perutnya melihat wajah Bilmar di penuhi lumpur, jas mahal sang suami bahkan sudah berubah warna lumpur.