
Setelah selesai menyuapi Anggia, Bilmar memberikan segelas air minum pada yang langsung di teguk Anggia hingga tandas.
"Eeeu," Anggia dengan joroknya malah bersendawa, "Hehehe," Anggia malu dan menutup mulutnya membuat Bilmar juga terkekeh melihat tinggak unik Anggia.
"Mau tidur lagi atau?" Tanya Bilmar.
"Anggi mau mandi aja bias seger," Anggia merasa tubuhnya sangat tidak nyaman sebab terasa lengkel keringat.
"Ya udah, ayo bangun," Bilmar membantu sang istri turun dari ranjang, perlahan Anggia turun dan berjalan ke kamar mandi.
"Adik," Panggil Bilmar saat Anggia sudah memegang gagang pintu, Anggia mengurungkan sejenak niatnya untuk melangkah dan berbalik pada Bilmar.
"Ya."
"Kamu masih lemes?" Tanya Bilmar.
"Sedikit, kenapa Abang?"
"Abang bantuin aja mandinya gimana?" Bilmar membuka jasnya dan menatap Anggia dengan menaik-turunkan alis matanya.
"Anggi....mandinya sendiri aja," Anggia dengan cepat masuk dan menutup pintu, tubuh Anggia merinding mendengar tawaran Bilmar.
"Ahahahahaa," Bilmar tertawa lepas mengingat wajah Anggia yang ketakutan dengan tawarannya.
Hingga beberapa saat kemudian Anggia keluar dari kamar mandi, hanya dengan balutan handuk kimono dan juga handuk yang menggulung rambutnya. Anggia mengendap-enap berharap Bilmar sudah tidak ada lagi, oa malu bila Bilmar melihatnya hanya dengan balikan handuk saja.
"Adik kenapa?" Tiba-tiba Bilmar menepuk pundak Anggia, sementara Anggia yang sedikiy menunduk sambil mengedarkan pandangannya merasa tidak enak. Di tambah lagi saat mendengar suara Bilmar.
"Abang apasih," Anggia dengan cepat berjalan mendekati lemari dan mengambil baju daster merah kesayangannya. Lalu ia masuk kedalam kamar mandi, tapi saat Anggia akan menutup pintu kaki Bilmar berhasil menahan pintu hingga Anggia tak bisa menguncinya.
"Kenapa harus di kamar mandi?" Tanya Bilmar bingung.
"Terus dimana?" Tanya Anggia dengan bodohnya.
"Di sini kenapa?" Bilmaralah di buat kesal, sebenarnya bulan kesal pada Anggia tapi kesal pada dirinya sendiri yang tak sanggup melihat sang istri dengan handuk kimono, belum lagi bagian yang sangat di sukai Bilmar menyembul keluar.
"Apasih, malu tau," Anggia berusaha menutup pintu, tapi percuma sia-sia saja, Bilmar malah ikut masuk.
"Abang ngapain," Wajah Anggia memerah tak kala Bilmar malah menyenderkannya di dinding dan Bilmar malah menghimpitnya.
"Mau ngangapain kamu lah," Jawab Bilmar menggoda Anggia.
"Abang kan semalam udah..." Napas Anggia memburu karena karena Bilmar tak mau melepaskannya.
"Kalau malam tadi udah, sekarang nggak boleh lagi?" Bilmar tak lelah menggoda Anggia.
"A.....bang, hiks, hiks," Anggia berteriak sekencangnya berharap Bilmar melepaskannya.
"Hahaha, jangan teriak nanti ada yang denger gimana?" Bilmar masih terkekeh melihat tingkah Anggia.
"Abang, hiks, hiks, lepasin....." Anggia malah semakin menangis karena tak kuasa menahan malu.
"Kok nangis?"
"Abang jahatin Anggi," Jawab Anggia.
"Abang emang ngapain Anggi?" Bilmar memajukan wajahnya.
"Abang udah lecehin Anggi," Jawab Anggia lagi dengan perasaan kesal.
Bilmar malah tersenyum mendengar perkataan Anggia yang terdengar aneh.
"Memang ada suami yang lecehin istrinya?" Tanya Bilmar mulai nakal dengan menekan gundukan Anggia.
"Abang iya, suka banget lecehin Anggi dari sebelum nikah malah," Anggia mendorong tubuh Bilmar lalu ia keluar dari kamar mandi dengan Bilmar juga ikut keluar.
"Anggi bilang dulu Anggi, Abang lecehin?" Bilmar tak habis pikir dengan apa yang ia dengar.
"Anggi juga merem melek pas Abang suntik pake suntik keramat Abang," Jawab Bilmar kesal.
Namun Anggia ingat dulu Bilmar pernah berbicara mengenai suntik keramat, dan kini Anggia bisa menyimpulkan apa itu suntik keramat.
"Jadi suntik keramat itu...." Anggia melepas kimono yang ia gunakan dan melepas kesal pada wajah Bilmar.
"Iya lah apa lagi," Bilmar mengambil kimono yang di lempar Anggia pada wajahnya, mata Bilmar tak berkedip melihat sang istri yang sedang memakai pakaiannya di hadapannya.
Sementara Anggia sangat kesal pada Bilmar, ternyata Bilmar sudah memikirkan hal yang tidak-tidak tentang dirinya bahkan sebelum menikah. Hingga kini Anggia ingin menghukum Bilmar dengan cara demikian.
"Anggi sengaja mau goda Abang?" Bilmar mendekat dan bersemangat.
"Tadi Anggi mau pakai pakaian di kamar mandi Abang larang, sekarang udah di sini juga malah mikir gitu. Abang maunya apa sih, hiks, hiks," Anggia duduk di lantai dan menangis.
"Anggi jangan nangis," Bilmar ikut berjongkok dan menarik Anggia untuk berdiri, dengan cepat Anggia berdiri lalu ia berjalan keluar dari kamar.
"Anggi mau kemana?" Bilmar berusaha menahan Anggia, tapi Anggia dengan cepat pergi.
"Ampun jantung, perasaan apa ini," Gumam Anggia yang kini ia di dapur dan meminum banyak air mineral, demi menetralkan perasaannya bila di dekat Bilmar.
"Anggi kamu kenapa?" Tanya Aran yang tiba-tiba muncul.
"Uuuuh, Aran aku kaget tau," Anggia mengelus dada karena kemunculan Aran yang mengagetkannya.
"Aku udah dari tadi di sini, kamu aja yang ngelamun," Aran memang kedapur beberapa saat setelah Anggia di dapur, tapi sepertinya Anggia tak menyadari sebab Anggia sibuk melamun.
"Apa iya?" Anggia menggaruk kepalanya memikirkan perkataan Aran.
"Iya, Anggia, Veli di mana ya?" Tanya Aran.
Anggia berjinjit dan memegang dahi Aran, tapi dengan cepat Aran menepis tangan Anggia di dahinya.
"Nggak panas?" Gumam Anggia dan membuat Aran bingung.
"Kan aku nggak demam!" Tutur Aran.
"Terus kenapa nanyain Veli, bukannya kalian bertengkat terus?" Anggia berkacak pinggang di hadapan Aran, menunggu jawaban Aran.
"Aku lagi pusing, butuh teman ribut, tu cewek pecicilan bisa jadi kawan main tinju," Jawab Aran sambil membayangkan wajah Veli sedang bertengkar dengannya.
"Sekarang kawan main tinju, selanjutnya kawan main di ranjang ya," Jawab Anggia.
"Gila ini bini Bilmar otaknya udah sama kayak lakinya," Gumam Aran.
"Kamu bilang apa?"
"Sayang," Terdengar suara Bilmar dari kejauhan, Aran dan Anggia melihat Bilmar berjalan mendekat pada mereka.
"Abang, liat Veli nggak?" Tanya Anggia sambil memeluk lengan Bilmar dan mendongkak menatap Bilmar yang lebih tinggi darinya, entah sadar atau tidak tapi Anggia malah bergelayut manja di lengan Bilmar.
"Nggak," Jawab Bilmar menatap sang istri, "Kenapa?" Bilmar masih penasaran tidak biasanya sang istri bertanya tentang Veli padanya.
"Tuh, Ayangnya nanyain, mau ngajak main katanya," Anggia tertawa melihat wajah Aran.
"Main apa?"
"Main tinju katanya, takutnya akhir nanti main ranjang," Tutur Anggia mengejek Aran, sebab rasanya seperti mustahil Aran menanyakan Veli.
"Bini lu ini udah nggak polos Bil, otaknya udah tercemar semenjak lu nikahin," Aran menunjuk wajah Bilmar.
"Iya lah, kan udah gw polosin tiap malem."
"Abang tuan gila......" Teriak Anggia.
"Terancam nasip si adek lu Bil, tar malem kagak keluar," Aran pergi meninggalkan Bilmar yang sedang ketakutan jika apa yang Aran katakan benar.