Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 148


Saat ini di kediaman Bilmar dan Anggia juga sama seperti di kediaman yang lainnya, Bilmar duduk bersila di hadapannya ada Anggia menatapnya. Anggia mencium punggung tangan Bilmar. Sudah menjadi hal yang sering di lakukan oleh pasangan suami istri atau yang lainya, untuk meminta maaf dan memaafkan bahkan semua itu bisa di katakan wajib.


"Anggi minta maaf kalau selama ini Anggi belum bisa jadi istri yang baik buat Abang, Anggi mungkin banyak melakukan kesalahan di sengaja atau tidak. Anggi minta maaf," ucap Anggia yang masih menunduk pencium punggung tangan sang suami.


"Nggak ada yang nggak punya kesalahan, Abang juga masih perlu banyak belajar untuk menjadi suami yang baik. Suami dan Daddy untuk anak-anak Abang, karena kita berdua bukan manusia yang sempurna. Dan saat kita menjadi bersama kita bisa saling menyempurnakan segalanya, menutupi masing-masing kekurangan kita," jawab Bilmar kemudian ia mencium kening sang istri dengan penuh cinta. Kebahagiannya lengkap sudah di tahun ini, memiliki istri dan dua orang bayi yang lucu juga menggemaskan.


Selesai dengan Anggia meminta maaf pada Bilmar kini mereka bersiap-siap untuk berangkat kerumah Ratih, Alif dan Alma juga sudah rapi dengan pakaian lebaran mereka. Kedua bayi mungil itu terlihat begitu bahagi di gendongan masing-masih perawat mereka.


Kediaman Rianda, kini Ratih tengah menunggu kedatangan kedua putra tercinta dan dua menantu yang menambah keluarga mereka semakin terasa lengkap.


"Assalamualaikum," kata Bilmar bersama Anggia sebelum melangkah masuk.


"Walaikum salam," jawab Ratih tersenyum melihat anak dan menantunya sudah datang.


Tidak berselang lama Aran juga datang bersama Veli, keduanya akhirnya datang terlebih dahulu sebab Laras sedang kedatangan tamu di rumahnya. Namun Laras dan Satria pun sebentar lagi akan menyusul.


"Assalamualaiku Mami....." ucap Veli.


"Walaikum salam," Ratih tersenyum menatap kebahagian di tahun ini dengan kedua putra kesayangannya yang sudah menikah.


Semuanya masuk dan berkumpul di ruang keluarga, dengan Rianda yang menanti mereka duduk di sofa.


Bilmar mencium punggung Rianda dan memohon maaf.


"Pi, Bilmar minta maaf. Kalau banyak salah selama ini sama Papi," ucap Bilmar.


"Salah mu banyak Bilmar, salah mu adalah bila kau tak mampu membimbing istri dan anak-anak mu. Maka dari itu jadilah orang tua dan suami yang lebih baik Nak. Dengan begitu kau tidak akan bersalah pada Papi," jawab Rianda mengusap punggung sang putra.


Bilmar kemudian menatap wajah Ratih, wanita yang dulu cantik itu kini terlihat mulai berkeriput di beberapa bagian wajahnya. Bilmar memegang tangan itu, tangan yang memberinya kasih sayang. Tangan yang selalu menggapainya saat ia akan terjatuh, tangan tua itu yang selalu mengusap dadanya ketika ia sedang di landa kecemasan. Dan lihat wanita itu yang kini menatap dengan pandangan yang berkaca-kaca, karena merasa bahagia melihat tubuh kecil anaknya beberapa tahun dulu setelah di lahirkan kini terlihat gagah. Terlihat dada bidang dan kepintaran yang ia miliki cukup tinggi.


"Mi, Bilmar minta maaf....." tak ada yang bisa di katakan Bilmar selain dari kata maaf, ia merasa sangat sering menyakiti hati Ratih dengan di sengaja atau tidak. Yang jelas Ratih pernah ia buat terluka.


"Kamu tidak berdosa pada Mami, Mami juga minta maaf mungkin selama ini Mami terlalu keras mendidik mu dan kamu menyimpan kesal pada Mami," ucap Ratih dengan sesegukan.


Bilmar memeluk Ratih dengan erat, membayangkan berapa banyak kesalahan-kesalahan yang ia lakukan. Namun lihatlah wanita tua itu, hatinya bagai malaikan. Peri tanpa sayap. Kasih dan sayangnya tak pernah putus, cinta kasihnya tak pernah hilang walau termakan waktu yang mengikis usia. Cinta sang ibu memang sepanjang masa.


Kini Aran yang mencium punggung tangan Rianda.


"Pi, maafin Aran banyak salah sama Papi," kata Aran.


"Iya nak, jaga istri mu baik-baik. Pertanggungjawabkan jalan yang sudah kamu pilih, kamu bertanggung jawab atas istri mu Nak," kata Rianda memberi nasehat pada Aran.


"Iya Pi," jawab Aran.


"Aran.....anak Mami, Kamu tidak ada salah pada Mami. Mami yang banyak salah sama kamu karena belum bisa menjadi contoh yang baik. Kamu memang anak dari adik Mami, tapi bagi Mami kamu adalah anak kandung Mami. Bahagiakan istri mu Nak, kalau kamu ingin membuat Mami bahagia itu sudah lebih dari cukup," ucap Ratih mencium kening Aran dan kembali memeluknya.


Setelah itu Anggia yang meminta maaf pada Rianda, kemudian pada Ratih dan di susul oleh Veli.


"Mi, Anggi minta maaf," kata Anggia.


"Iya sayang," Ratih mencium kening Anggia, "Terima kasih sudah kasih Mami cucu," sambung Ratih lagi memegang dagu Anggia dan keduanya tersenyum.


Kini giliran Veli yang mencium punggung tanggan Ratih.


"Mi Veli minta maaf, udah banyak salah sama Mami," kata Veli.


Ratih tersenyum dan memelul Veli.


"Bukan kamu yang salah sama Mami, tapi Mami yang salah sama kamu. Karena Mami udah buat kamu terpaksa menikah dengan anak nakal Mami itu," jawab Ratih sambil mengusap punggung Veli.


"Aran baik tau Mi, mana ada nakal," jawab Aran sambil menoel-noel pipi Alma.


"Ahahahahaha," semuanya tertawa melihat wajah kesal Aran.


"Yang jelas kita sekarang keluarga," Ratih memeluk Anggia dan juga Veli. Ketiganya tersenyum dengan rasa bahagia.


"Kita juga pengen di peluk Mi," kata Bilmar kemudian memeluk Ratih dan Anggia.


"Aran juga ikut Mi," kata Aran yang mendekati mereka yang tengah berpelukan, namun Aran hanya memeluk Veli saja.


"Mas!" kata Veli kesal, sebab di sana ada Rianda mertuanya tapi Aran malah memelunya.


"Hehehehe....." Aran tersadar hampir saja ia khilaf, akhirnya Aran menjauh dan menggaruk tengkuknya dengan rasa malu pada Rianda.


"Ahahahahahaa," Bilmar dan juga Ratih menertawai Aran yang kini mendadak salah tingkah.


"Masuk ke kamar sono!" Bilmar menjuk pintu kamar pada Aran, sebab ia bisa menebak otak Aran si pengantin baru itu.


"Ck....." Aran berdecak kesal karena Bilmar malah menggodanya, "Brisik lu," sambung Aran.


"Heh...lu belum minta maaf ama gw," Bilmar memberikan tangannya pada Aran.


"Lu yang minta maaf sama gw, lu kan Kakak durhaka!" tandas Aran.


"Nggak sudi gw!"