
Kini Brian dan Sasa sudah sah menjadi pasangan suami istri, banyak perdebatan yang terjadi dan banyak pula keanehan namun tetap saja dengan terpaksa Sasa harus mengatakan mau menikah dengan Brian. (Nanti kisah Brian sama Sasa Author pisah aja ya, takut fokus sama keduanya. Nanti amburadul sama kisah Bilmar dan Anggia. Mohon mengerti:)
"Selamat ya Sasa, caelah jadi bini Brian cuy," seliroh Veli menjabat tangan Sasa.
"Maaf ya Vel, selama ini aku udah jahat banget, sekarang aku sadar dengan semua kesalahan aku," kata Sasa dengan penuh penyesalan, dengan cepat Veli memeluk Sasa.
Veli tau semua manusia pernah melakukan hal menyakitkan, namun karena kesalahan yang Sasa lakukan kini justru ia lah yang kini menerima hukuman dengan menikah bersama Brian. Hal yang sangat aneh dan terasa berat tentunya, jangankan saling mengenal bertutur sapa saja tak pernah dan kini mereka malah menikah.
"Caelah......akhirnya lu sadar," jawab Veli asal.
"Veli...." kesal Anggia dengan jawaban Veli, padahal Sasa sudah terlihat menyesali semuanya.
"Udah Sa.....kita udah maafin kamu kok, aku juga minta maaf selama ini suka ngomong kasar sama kamu," kata Veli mengelus punggung Sasa.
"Anggi, hiks,hiks........" Sasa menangis memeluk Anggia, perasaan bersalah dan menyesal berkumpul menjadi satu, hanya karena obsesi kini ia malah terjebak dalam perangkap yang ia buat sendiri.
"Udah ya.....jangan nangis, mungkin memang kamu berjodoh dengan Mas Brian," kata Anggia menatap Brian, begitu pun juga Sasa menatap sang suami yang juga kini menatapnya dengan menatapnya datar. Sasa hanya bisa bergidik dan kembali memeluk Anggia, melihat wajah Brian saja ia sangat takut dan apa jadinya bila ia harus hidup dengan Brian.
"Tapi aku takut Ngi...." kata Sasa dengan sesegukan yang masih menghiasi bibir manisnya.
"Bilmar sesuai perjanjian kita awalnya, saya tidak terlibat dalam masalah ini bahkan saya menikahi Sasa, demi rumah tangga mu dan istri mu aman. Jadi sekarang kita kembali menjadi rekan bisnis dan tidak ada dendam," kata Brian dengan tegas mengingat perjanjian awalnya dengan Bilmar.
"Ok...." Keduanya saling berjabat tangan dengan rasa bahagia, Bilmar senang karena rumah tangganya tak terancam lagi dan Brian merasa lega sudah bisa menebus dosanya terdahulu pada Anggia. Walau pun mungkin belum sepenuhnya, tapi paling tidak ia sudah mencoba menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dan mengenai rumah tangga yang akan di jalani dengan Sasa, kita pikirkan nanti saja ya ribet soalnya nanti itu rumah tangga, ribet aneh dan kocak juga.
"Selamat tuan Brian," Aran menjabat tangan Brian, tanpa ada lagi tatapan musuh seperti biasanya.
"Terima kasih.....tidak usah pakai tuan kita sekarang teman," kata Brian yang di angguki Aran tersenyum.
"Gila ya......suami, mantan istri jadi saksi pernikahan, mantan suaminya. Langka ini. Anggia lu pemecah rekor dunia.....baru kali ini yang terjadi begini, mantan suami nolong mantan istri. Tersangka di jadikan istri, caelah Mas Brian......" seloroh Veli dengan tertawa lepas.
"Terus kamu kapan?" tanya Anggia.
"Nanti tunggu dokter tampan gw ngelamar gw lah," Veli menutup mata membayangkan dokter Farhan melamarnya.
"Aran di ke manain?" tanya Anggia menatap Aran, mendengar nama Aran di sebut Veli tak lagi berada dalam dunia khayalannya kini justru ia menatap Aran.
"Ck.....kita cuman temen ya nggak bro," Veli menepuk pundak Aran dengan senyuman.
"Teman hidup!" jawab Aran dengan wajah datarnya.
"Ish....apa sih," kesal Veli.
"Ahahahahaaa," Anggia tertawa lepas menyaksikan bertapa konyolnya Aran dan Veli.
"Veli.....kita temenan ya mulai sekarang," kata Sasa menatap Veli penuh harap.
"Iya....dong," kata Veli mengacukan jempolnya pada Sasa.
"Harus dong.....lu harus temenan sama Anggia, karena lu bisa berguru dari dia tentang Brian," jawab Veli, pertanyaan yang di ajukan pada Anggia tapi justru Veli yang menjawab. Anggia hanya bisa geleng-geleng melihat sahabat anehnya itu.
"Veli....." kata Anggia yang sedikit kesal.
"Wah....keren lu Mas Brian, tar......malam pertamanya di mana ni. Nggak mungkin kan di ranjang rumah sakit ini," selorih Veli yang memang saat ini Sasa dan Brian menikah di rumah sakit. Tepat di ruang rawat Brian.
Jangan lupakan di sana juga ada orang tua Brian, karena memang Pasha sedang di rawat di sana dan keadaannya sudah sangat baik. Bahkan kemungkinan Pasha besok sudah di perbolehkan pulang, walau pun dengan menggunakan kursi roda. Sedangkan Ibu dari Brian hanya duduk saja menjadi saksi pernikahan sang anak yang tanpa di duga, mau pun di rencanakan itu.
***
Setelah Sasa dan Brian menikah kini Anggia memutuskan untuk pulang bersama dengan Bilmar, Anggia sangat lelah sekali seharian ini semua yang terjadi sungguh menguras tenaga dan air mata.
"Kamu kenapa?" tanya Bilmar saat mau menaiki tangga tapi Anggia malah mendudukan tubuhnya di tangga.
"Kaki Anggi pegel banget, Abang duluan aja ya...Anggi berhenti sebentar, istirahat gitu," kata Anggia menunjukan kakinya pada Bilmar yang memang cukup bengkak.
Bilmar berjongkok dan mengangkat Anggia dengan sangat hati-hati, Anggia cukup terkejut akan hal itu hingga dengan reflek ia memeluk leher Bilmar.
"Abang.....Anggi kok di gendong?" tanya Anggia dengan panik dan wajah yang bersemu merah.
"Nggak papa, kaki kamu bengkak begini," jawab Bilmar dan kini keduanya sampai di kamar, Bilmar mendudukan Anggia di sisi ranjang.
"Makasih," jawab Anggia dengan susah payah.
"Udah.....makasih aja?" tanya Bilmar yang mengharapkan bayaran lebih dari terima kasih.
"Terus harus bilang apa?" tanya Anggia bingung sambil berusaha menjangkau kaki yang terasa pegal.
"C*pok kek sekali," gumam Bilmar.
"Abang ngomong apa barusan?" tanya Anggia yang samar-samar mendengar gumaman Bilmar.
"Nggak papa," mata Bilmar menatap kaki bengkak Anggia, ia membuka jas yang masih melekat di tubuhnya, "Bengkak banget ya," kata Bilmar sambil memegang kaki Anggia dan ia pun ikut duduk di ranjang.
"Iya....." jawab Anggia berusaha memindahkan tangan Bilmar dari kakinya.
"Kenapa?" tanya Bilmar bingung, tapi Anggia hanya cengengesan, "Udah.....sini Abang pijat kaki Anggi," Bilmar memijat kaki Anggia karena ia merasa kasihan.
"Em......nggak usah," Anggia tak mau nantinya jantungnya kembali berdebar karena berdekatan dengan Bilmar, namun apa daya Bilmar tetap memaksa untuk memijat kaki Anggia.
"Udah sini.....Abang pijitin," Bilmar memijat kaki Anggia dengan sangat hati-hati.
Dengan terpaksa Anggia membiarkan kakinya di pijat Bilmar, dengan menahan nafas dan perasaan tak karuan tentunya. Berkali-kali Anggia hanya bisa mengusap wajah dengan perlakuan Bilmar yang begitu sangat manis.