Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 104


Tengah malam Harinya.


"Gerah banget ya."


Anggia yang sudah tertidur lelap tiba-tiba terbangun karena merasa gerah, kehamilannya yang sudah berusia tujuh bulan itu kini membuatnya mudah lelah. Anggia melihat Bilmar yang tidur di sampingnya sangat lelap, ia tadinya ingin membangunkan Bilmar tapi karena melihat wajah lelah itu Anggia tak tega, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil minuman dingin sendiri ke dapur.


"Ya ampun kaki aku bengkak banget," gumam Anggia, saat ia menuruni tangga dengan sangat hati-hati sebab ia takut terjatuh.


"Anggi," terdengar suara Veli yang ternyata sudah berada di dapur, Anggia sedikit terkejut dengan keberadaan Veli di sana.


"Vel, kamu belum tidur?" tanya Anggia sambil menarik kursi meja makan dan mendudukan tubuhnya.


"Belum nih.....gw haus banget, terus tadi gw ke dapur," jawab Veli meletakan ponsel yang tadi ia pegang, kemudian menatap Anggia.


"Vel.....tolong ambilin aku minuman di kulkas dong, kaki aku pegel banget," kata Anggia, padahal ia tidak berniat meminta tolong pada Veli tapi kali ini Anggia benar-benar merasa tak enak pada perutnya dan memaksakan diri untuk bangun lalu ke dapur.


"Tunggu," Veli berdiri dan berjalan menuju kulkas, mengambil air mineral dari dalam botol dan memberikannya pada Anggia.


"Vel....kok air mineral sih...." Anggia ingin minuman kaleng dingin tapi Veli malah memberinya air mineral.


"Udah, jangan banyak bacot, minum itu aja gw tau lu lagi nggak nyaman sama badan lu kan?" tanya Veli yang melihat wajah Anggia pucat.


"Ya Vel....aku udah dua hari ini sering kontraksi tapi sekarang kontraksinya lebih sering gitu, aku jadi takut Vel," jawab Anggia, kemudian mendeguk air mineral yang tadi di berikan Veli hingga tandas.


"Laki lu tau nggak Ngi?" tanya Veli yang kini mulai duduk di kursi bersebelahan dengan Anggia.


"Nggak, tadi aku mau bilang....cumam dianya nyenyak banget tidurnya.....aku nggak tega," kata Anggia yang mengingat bertapa nyenyaknya Bilmar tadi.


"O......tapi kontraksinya masih hilang-hilang nggak?" tanya Veli dengan antusias.


"Iya Vel, cuman usia kandungan aku masih tujuh bulan. Dan menurut aku kontraksi ini udah terlalu sering," kata Anggia mengutarakan ketakutannya.


Veli diam dan sejenak berpikir, sepertinya kandungan Anggia bermasalah. Apa lagi mengingat riwayat kandungan Anggia dari awal yang memang sangat banyak mengalami hal-hal yang tak seharusnya di alami oleh wanita hamil.


"Vel sakit banget," Anggia meremas gaun tidur sambil menahan rasa sakit, "Vel, aku kontraksi lagi," kata Anggia pada Veli yang kini merasa panik.


"Anggi, lu pucat banget," kata sambil memegang pundak Anggia.


"Vel aku udah nggak kuat," kata Anggia sambil menahan rasa sakit yang lagi-lagi datang.


"Iya.....tenang ya.....kita ke rumah sakit lu nggak beres nih," kata Veli berusaha tetap tenang dan tak panik.


"Veli......Anggia kenapa?" tanya Aran yang baru saja pulang tengah malam, karena ia ada pekerjaan mendadak.


"Aran panggilin tuan Bilmar......Anggia harus di bawa ke rumah sakit," kata Veli pada Aran.


Aran melihat Anggia menahan rasa sakit dan wajah pucatnya mengeluarkan keringat dingin, dengan cepat ia menuju kamar Bilmar bahkan ia menggunakan lift agar lebih cepat sampai. Tanpa mengetuk pintu Aran langsung menerobos masuk, dan mebangunkan Bilmar berulang-ulang kali namun Bilmar yang baru saja tertidur sangat sulit untuk di bangunkan.


BYUUUUR.


Aran terpaksa mengambil air dari kamar mandi dan menyiram wajah Bilmar, dan benar saja kini Bilmar reflek mendudukan tubuhnya.


"Anggia harus di bawa ke rumah sakit," kata Aran dengan cepat sebab ia tau Bilmar akan bangun dan menghajarnya.


"Anggia?" tanya Bilmar dan melihat kesampingnya, tak ada Anggia di sana.


"Iya, gw tadi udah bangunin lu, tapi nggak bisa dan terpaksa gw pakek cara ini. Ayo cepat," kata Aran dengan panik.


"Sekarang dia di mana?" tanya Bilmar kini ia pun terlihat panik.


"Di dapur sama Veli," jawab Aran.


Keduanya turun dan benar Anggia ada di sana masih menahan rasa sakit.


"Anggia kamu kenapa?" tanya Bilmar sambil memeluk Anggia.


"Kita harus cepat ke rumah sakit," kata Veli.


Bilmar dengan cepat mengangkat tubuh Anggia, sementara Aran yang mengemudi dan Veli duduk di samping Aran. Dalam waktu lima belas menit kini mereka sampai di rumah sakit, dengan cepat Veli meminta perawat segera membawa Anggia ke ruang UGD.


"Anda tunggu di sini saja," kata Veli ia masuk bersama dua dokter senior lainnya dan juga beberapa perawat untuk menangani Anggia.


"Veli sakit......" ringis Anggia mencengkram tangan Veli.


"Iya tenang ya," jawab Veli.


Setelah dua puluh menit Anggia di periksa dan kini Veli keluar untuk berbicara pada Bilmar, terlihat Ratih dan juga Rianda juga sudah ada di sana. Bahkan Ziva dan Vano entah sejak kapan mereka sampai yang jelas sudah banyak anggota keluarga di sana.


"Tuan Bilmar, bisa ikut ke ruangan saya," kata Veli.


"Iya," Bilmar pergi mengikuti Veli dan masuk keruangan Veli, sedangkan dua dokter lagi masih berada di ruangan Anggia. Karena Veli adalah dokter yang terpilih merawat Anggia sejak masih mengalami depresi dan ia sudah dekat dengan keluarga Rianda, maka dokter senior itu meminta Veli yang berbicara pada Bilmar.


"Tuan Bilmar," Veli meletakan sebuah kertas dan memberikan bolpoin pada Bilmar, untuk di tanda tangani oleh Bilmar tentunya, "kami harus melakukan tindakan operasi kalau tidak segera maka nyawa Anggia menjadi taruhannya," kata Veli menatap Bilmar.


"Tapi usia kandungannya masih tujuh bulan," jawab Bilmar dengan perasaan kacau.


"Kami harus segera melakukan ini, mohon mengerti, kami butuh persetujuan anda sebagai suami dan Ayah dari bayi-bayi itu," kata Veli menitihkan air mata.


"Tapi Veli bagaimana dengan nyawa anak-anak ku," kata Bilmar.


"Ini untuk menyelamatkan ketiganya tuan, dan kami butuh persetujuan anda, anda tau saya siapa dan saya tidak akan melakukan tindakan bila merugikan Anggia," kata Veli.


"Baiklah.....aku mohon selamatkan ketiganya," kata Bilmar menggoreskan bolpoin pada kertas putih itu.


"Pasti.......tidak usah memohon, bantulah kami dengan berdoa, aku pun tak ingin kehilangan sahabat ku," kata Veli ia langsung keluar dari ruangannya, sebab kini Anggia sudah tidak sadarkan diri lagi.


Setelah mendapat persetujuan dari Bilmar, operasi segera di persiapkan. Dalam waktu satu jam kemudian operasi di lakukan ketiga dokter di bantu beberapa perawat kini sudah berada di dalam ruang operasi, sebelum operasi di mulai mereka semua berdoa terlebih dagulu, sedangkan Anggia sudah sedari tadi tak sadarkan diri.


***


Jangan lupa V0TE ya Kakak, makasih ;)