
"Ada apa Anda menemui saya?" tanpa basa-basi Bilmar langsung menyuguhkan Pasha dengan pertanyaan, ia yakin tujuan Pasha menemuinya pasti membicarakan perihal Anggia dan Brian.
"Apa kau tidak menyuruh ku duduk terlebih dahulu, sepertinya kau sangat tidak di ajarkan oleh orang tua mu tentang sopan santun."
"Ya kau benar," jawab Bilmar dengan sinis.
Pasha duduk di kursi saling berhadapan dengan Bilmar, Bilmar yang tengah berfokus pada pekerjaannya mulai menghentikan sejenak pekerjaan itu, ya saat ini Bilmar sedang berada di perusahaan menyelesaikan pekerjaannya yang sangat banyak. Namun ia cukup di kejutkan dengan kedatangan Pasha ayah dari Brian itu tampaknya sudah mendengar apa yang terjadi dari Brian yang mendekam di penjara saat ini, hingga tanpa di undang Pasha datang padanya.
"Apa kau tau tujuan ku kemari?" tanya Pasha menatap tajam Bilmar.
"Tidak."
"Sepertinya otak mu kecil sekali ya."
"Langsung saja," Bilmar adalah seorang pria yang dingin dan tidak suka berbasa-basi, apalagi yang di bahas Pasha sudah pasti mengenai Brian manusia yangbpaling ia benci.
"Kenapa kau menjebloskan anak ku kedalam penjara? Kau bahkan memaksanya bercerai dari istrinya, dan yang paling menjijikan kau malah menghamili istri orang? Seorang Bilmar Rianda tampaknya tidak bisa mencari wanita lagi hingga menjerat istri orang menjadi pelampiasan nafsunya."
Pasha benar-benar meluapkan emosi, ia masih bisa menahan emosi saat Brian menceritakan tentang Bilmar, saat ia melihat keadaan Brian di penjara, namun saat melihat Bilmar rasanya ia tidak mampu lagi menahannya.
"Jadi menurut anda saya salah?"
"Iya," jawab Pasha dengan pasti.
"Dan anak Anda benar?"
"Tentu saja, karena memang dia korban mu!"
Bilmar bangun dari duduknya, matanya menatap sinis Pasha, Bilmar berpikir sepertinya Pasha tidak tau apa-apa perihal permasalahan Anggia dan Brian.
"Anak anda sudah menyakiti Anggia!"
"Kau tidak usah mengarang cerita." Elak Pasha.
"Aku memang salah aku tahu itu, lalu apa anak mu benar, apa Anda tau Anggia selama menikah dengan Brian, Anggia sangat menderita."
"Lalu apa urusannya dengan mu, kau hanya orang luar yang ikut campur dalam rumah tangga anak ku," kesal Pasha yang juga ikut berdiri dan menatap tajam Bilmar.
"Ya dan aku menyesal tidak dari dulu ikut campur dalam masalah anak anda."
"Kau bahkan tidak merasa berdosa sedikit pun setelah memisahkan suami istri itu."
"Kalau pun aku berdosa karena itu aku tidak mengapa, kalau aku memaksa anak anda bercerai dari Anggia sementara keduanya saling mencintai, dan keduanya tidak mau bercerai, mungkin aku akan merasa berdosa?" Bilmar tidak perduli lagi ia berhadapan dengan orang yang lebih tua darinya atau bukan, emosinya tidak bisa lagi ia tahan.
"Maksud mu apa?" tanya Pasha.
"Anggia sudah meminta cerai, tapi Brian tidak mau dan anda tau tuan Pasha yang terhormat? Anak anda Brian yang anda bela mati-matian kemari berusaha melenyapkan janin Anggia, dan anda tau apa akibatnya? Anggia hampir kehilangan nyawanya!"
"Kehilangan nyawa?" Pasha tampak shock mengetahui penjelasan Bilmar, penjelasan Bilmar sangat berbeda dengan penjelasan Brian.
"Ya dan anda tau apa yang membuat saya memilih menjadi pendosa dari pada penonton tanpa dosa? Anggia sekarang gila, karena ulah anak anda, anda tau tubuhnya sudah terlalu banyak meminum obat penenang, kandungannya sekarang menjadi taruhannya karena selama dua tahun Anggia mengkonsumsi obat penenang dalam dosis yang tinggi!"
"Iya!"
"Sekarang dimana dia? Biar dia bersama ku saja." Pasha ingin Anggia bersamanya, dan ia yang menjaga Anggia.
"Kau ingin Anggia ku berikan pada anda tuan?" Bilmar tersenyum miring mendengar permintaan Pasha.
"Iya," jawab Pasha dengan cepat.
"Waktu dia sehat saja dia bisa gila seperti ini bersama kalian, apalagi setelah dia gila seperti ini. Mungkin saja Anggia bisa mati perlahan bersama kalian," Bilmar terkekeh mendengar jawaban Pasha.
"Tapi aku jauh lebih berhak dari pada kau!"
"Tapi aku juga berhak atas janin yang wanita itu kandung!"
"Nanti setelah anak itu lahir kau bisa melihatnya," kata Pasha mencoba memberi penawaran.
"Saya baru tau tuan Pasha yang terhormat, ternyata anda begitu egois," Bilmar memberikan senyum miring pada Pasha.
"Kenapa, apanya yang salah, aku memang lebih berhak terhadap Anggia."
"Anda sudah tidak berhak lagi, katena Anggia sudah bercerai dari Brian," jawab Bilmar dengqn tegas.
"Kau gila merebut istri orang." Kesal Pasha.
"Kau egois tuan Pasha, kau memaksa Anggia untuk tetap menjadi istri anak mu, bahkan di saat kau tau anak mu menyakitinya. Hanya karena kau teropsesi ingin Anggia menjadi menantu mu. Sementara Brian kini menyesal karena dia sadar ada pria lain yamg mencintai istrinya yang siap membahagiakan istrinya, baru saat ini dia berkata menyesal dan menginginkan Anggia kembali padanya."
Pasha hanya diam mendengar ucapan Bilmar dan Bilmar yang menunggu jawaban Pasha, kembali berbicara karena Bilmar tau tampaknya Pasha tidak punya jawabab untuk ucapannya itu.
"Anak mu itu membiarkan Anggia tengah malam demi pulang kerumah orang tunya yang sudah meninggal, bahkan dia hampir di perkosa, apa anda masih menyebut saya seorang pendosa karena membebaskan seorang wanita yang di perlakukan tidak adil oleh suaminya? Silahkan tuan Pasha. Anda bebas mengatakan apa, karena saya akan lebih merasa berdosa bila saya melihat Anggia tersiksa namun saya hanya menjadi penonton saja, seperti anda.!
"Tapi tetap saja kau pun tidak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga anak ku.!
"Lalu siapa yang berhak ikut campur tuan Pasha? Anda sendiri?" Bilmar kini balik menantang Pasha.
"Iya!"
"Anda berhak tapi hanya diam, dengan harapan konyol anda, kalau Briqn akan mencintai Anggia, sampai kapan? Sampai Anggia mati perlahan karena sudah tidak mampi menahan rasa sakit yang anak anda berikan!" kata-kata Bilmar bagai petir yang menggelegar ditelingga Pasha, ia pikir ia benar dan akan menang berhadapan dengqn Bilmar namun nyatanya Bilmar malah membalikan jeadaan yang menyudutkannya.
"Orang tua Anggia sudah tiada, Anggia tidak punya saudara dan kau menunggu siapa membebaskan Anggia dari kekejaman anak mu itu, menyesal Brian kini menyesal begitu kan tuan yang akan Anda katakan? Tidak perlu lagi anak anda menyesal, Anggia kini sudah tidak waras dan mungkin dia akan mati perlahan karena keegoisan kain berdua."
Pasha diam dan ia pun tidak tau lagi harus bagaimana, tetutama mendengar jika Anggia kini gila. Sungguh Pasha menyesal memaksa Anggia tetap bertahan dalam pernikahan itu.
****
Authornya lagi malas nulis, kasih VOTE ya biar Author semangat kembali.
Terimakasih😔.