Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 155


Satu minggu sudah berlalu, selama satu minggu itu pula Anggia dan Bilmar tidak tidur dalam satu kamar, lalu apa kabar dengan Bilmar? Tentu saja Bilmar di buat pusing tujuh keliling karena tak mendapatkan apa yang ia inginkan. Satu hari tanpa Anggia tidur di sampingnya sudah membuatnya pusing, apa lagi tujuh hari.


"Sayang." Bilmar yang baru saja pulang dari kantor merasa kesal karena sedari tadi Anggia tak perduli dengan dirinya.


Sebenarnya bukan tidak perduli tapi Anggia sibuk dengan mengurus kedua bayinya. Memang ada dua orang yang bekerja menjadi pengasuh dari masing-masing Alma dan Alif, namun Anggia tak mau menyia-nyiakan kesempatannya menjadi seorang ibu baru. Bahkan Anggia lebih sering mengurus anaknya, ia berpikir hal seperti ini tidak akan terulang lagi saat anak-anaknya tumbuh dewasa nanti.


"Anggia sayang," Bilmar masih mencoba mengganggu Anggia.


"Apa Abang, Anggi lagi mau gantiin popok Alif ini," jawab Anggia tanpa menatap Bilmar, "Abang mending bantuin Anggi, pasangin popok Alma," kata Anggia lagi.


"Abang makein popok Alif aja, kamu makein popok Alma," kata Bilmar, sebab Alma bertubuh tak terlalu gemuk dan Bilmar masih terlalu takut untuk mengganti popoknya.


"Ya udah ni....." Anggia berpindah mendekati Alma, sementara Bilmar kini mendekati Alif.


"Anak Daddy, uluh.....uluh.... gantengnya," Bilmar mencoba bercerita dengan putranya, Anggia tersenyum melihat kelakuan Ayah dan anak yang terlibat saling melempar senyum itu.


"Iya dong, Daddy nya juga ganteng kan," tutur Anggia yang membuat Bilmar berbunga-bunga.


"Sayang kamu beneran bilang Abang ganteng?" tanya Bilmar yang belum puas mendengar apa yang di katakan Anggia barusan.


"Iya dong ganteng banget malahan," jawab Anggia lagi.


"Sayang," Bilmar dengan cepat hendak memeluk Anggia, namun dengan cepat Anggia menghindar.


"Dua hari lagi," Anggia menunjukan dua jarinya pada Bilmar.


"Ih......." Bilmar kesal dan mencakar dinding, meluapkan segala emosi yang sedang menguasainya.


"Abang ngapain?" Anggia terkekeh melihat kekonyolan Bilmar, "Mau jadi spaiderman?" kata Anggia lagi di selingi tawa melihat wajah Bilmar.


"Ck......" Bilmar mendekati Alif dan menggaruk kepala, "Alif, Daddy belajar buat ganti popok kamu ya," Bilmar mulai melepas celana Alif dan membuka popoknya.


CURRRRR......


Alif ternyata sedang buang air kecil saat Bilmar membuka popok Alif, dan alhasil wajah Bilmar menjadi sasarannya.


"Alif......" Bilmar terkejut dengan cepat ia mengusap wajahnya karena sudah basah.


Anggia kembali tertawa terpikal-pikal, karena wajah Bilmar semakin kesal.


"Ahahahahaaa," Anggia sudah tak bisa menahan tawa melihat keadaan Bilmar.


Saat Bilmar tengah sibuk mengusap wajahnya dan Anggia yang masih tertawa, tiba-tiba Aran datang.


"Kenapa bro?" tanya Aran.


"Di pipisin Alif......" jawab Anggia dengan cepat, karena Bilmar tak berniat sama sekali menjawab, "Wahahahaaa," Anggia dan Aran malah tertawa semakin kencang.


"Sumber air sudekat bro....." seloroh Aran sambil terus tertawa.


"Siaran lu," jawab Bilmar menatap tajan Aran.


Aran mengibaskan tangannya masih dengan tawa yang tak bisa berhenti, tanganya mengarah pada buah apel yang tak jauh dari Bilmar dan tanpa basa-basi ia lansung menggigit. Setelah itu mengunyahnya dengan sangat lahap.


"Eh......" Aran berhenti menyunyah karena merasa aneh dengan buah apel yang ia makan, kemudian ia menatap Bilmar dan Anggia, "Apel ini rasanya kok beda ya," kata Aran bertanya pada Anggia.


"Biasa aja, mungkin karena model apel keluaran terbaru rasanya memang begitu," jawab Bilmar sambil terus menahan tawa.


"Em....." Aran mengangguk dan kembali mengunyah apel itu, bahkan sudah separuh dari apel itu habis ia makan.


"Mmfffp," Anggia masih menahan tawa, padahal sebenarnya ia sudah tidak kuat.


"Tapi kok baunya seperti....." Aran mencium aroma apel itu, kemudian menatap Bilmar penuh tanya, "Bau pesing?" tanya Aran.


"Ya memang, tadi itu buah apel juga kena siram sama sumber air sudekat Alif," jelas Bilmar.


"Enak bro?" tanya Bilmar yang kini malah menertawai Aran, "Azab.....adik durhaka sama Kakaknya makan apel di kencingi bayi," ucap Bilmar yang terus tertawa terpikal-pikal tanpa henti.


"Sialan lu!"


"Udah sana-sana, mending kamu minum yang banyak. Biar hilang bau pesingnya," Anggia merasa kasihan melihat wajah Aran yang memerah, setelah kepergian Aran kedapur untuk minum. Kini datanglah Ratih yang ingin tau apa yang tengah anak-anaknya tertawakan.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Ratih pada Anggia.


"Ini...." Anggia memegang sisa apel yang barusan di makan Aran pada Ratih, "Tadi Ar...." Anggia tak bisa melanjutkan apa yang ia katakan karena Bilmar menutup mulut Anggia dengan telapak tangannya.


"Ada apa ini?" Ratih semakin di buat bingung.


"Ini Mi," Bimar memberikan apel sisa Aran pada Ratih, "Apel, limited edisions, rasanya mantep. Ayo di coba Mi," kata Bilmar.


Ratih menerima apel itu dan mulai memperhatikannya, "Limited edisions?" tanya Ratih bingung, "Maksudnya?" tanya Ratih lagi.


"Makanya di coba Mi," Bilmar terus berusaha agar Ratih mau memakannya, sementara Anggia mencoba berbicara. Namun lagi-lagi Bilmar mendekap mulutnya.


"Kenapa bisa limited edisions?"


"Itu apel pertama di temukan, dengan rasa terbaru. Ayo Mami coba dulu," jelas Bilmar.


Ratih mengangguk, ia juga penasaran dengan apa yang di katakan Bilmar. Akhirnya ia memakan apel itu.


"Pih.....hueekkk," Ratih langsung memuntahkannya di lantai, karena ia sangat tahu itu rasa apa, "Ini kok asin?" Ratih menatap Bilmar dengan tajam.


"Mami itu apelnya udah di pipisin alif," jelas Anggia dengan cepat.


"Sayang," Bilmar menatap kesal Anggia karena sudah mengatakan itu pada Ratih.


"Bilmar!!!!" Ratih menatap Bilmar dengan berapi-api.


BUUUK.....


Ratih melempar buah apel itu pada Bilmar.


"Au....." Bilmar meringis karena apel itu melayang dan mendarat mengenai dahinya.


"Ahahahahaa," Aran yang sedari setelah kembali dari dapur malah tertawa terpikal-pikal, "Azab.....anak durhaka sama orang tua, kepalanya cendol karena kena lempar apel," seloroh Aran penuh tawa.


"Diam!" teriak Bilmar menatap Aran kesal.


"Bilmar," Ratih mendekati Bilmar.


"Mampus lu," kata Aran menertawai Bilmar dengan wajah ketakutan.


"Ampun Mi....." Bilmar berlari dengan kencang karena takut di pukuli oleh Ratih, "Buuuk," tanpa sengaja Bilmar menabrak Art yang tengah membawa air di dalam timba.


"Maaf tuan," Art itu menunduk ketakutan melihat Bilmar yang tersiram air yang ia bawa.


"Ini air apa? Bau sekali," Bilmar ingin muntah rasanya mencium bau yang menyeruak dari ait tersebut.


"Itu air pel tuan, saya abis bersihin kotoran kucing nyonya besar," jelas pembatu tersebut.


"Doubel ajab ternyata bro," kata Aran semakin tertawa lebar.


***


JANGAN LUPA VOTE DAN BINTANG LIMA.


Terima kadih;).