
"Nggia nanti pulang Abang jemput ya," Bilmar mencolek dagu Anggia, tapi Anggia menepis tangan Bilmar.
"Aposee genit banget sih," kesal Anggia.
Bilmar tersenyum karena Anggia sudah kembali galak, hal yang di rindukan Bilmar, sebab kemarin Anggia menjauhi Bilmar tapi kini mereka terlihat akur kembali.
"Kan udah pacaran Adek kicot," seloroh Bilmar sambil menutup wajah Anggia dengan telapak tangannya, tapi Anggia malah mengigit jari kelingking Bilmar, "Au," Bilmar mengipas-ngipas tangannya karena sakit.
"Mampus," Anggia tersenyum senang.
"Kamu sekarang buas banget ya, main gigit sagala. Kalau saya balas gigit mau," seloroh Bilmar sambil fokus menyetir.
"Nggak ah, saya di gigit tuan bisa penyakitan saya," kata Anggia, dalam sekejam Anggia kembali terkejut karena Bilmar menutup wajahnya, "Ish.....apasih," kesal Anggia.
"Abang!" Bilmar memberi peringatan tegas, "Sekali lagi kamu panggil saya tuan saya cium kamu," Bilmar mengeraskan rahangnya menatap Anggia sekilas.
"Iya Abang," Anggia hampir muntah menyebut Bilmar Abang, "Iya nanti kita pergi pasar malam ya, saya...," ucapan Anggia lagi-lagi terhenti karena Bilmar kembali menutup mulutnya dengan telapak tangan Bilmar yang cukup besar.
Anggia kembali menyingkirkan tangan Bilmar, "Apa lagi, udah di panggil Abang juga," kesal Anggia.
"Bukan saya, tapi aku, ngerti nggak. Kamu sekali lagi bikin saya emosi awas kamu saya cium beneran," tutur Bilmar kesal.
"Alah alasan bilang aja nafsu," teriak Anggia di wajah Bilmar.
CIIIT.
Bilmar menepikan mobil mendadak, lalu menatap Anggia yang duduk di sampingnya.
"Emang boleh?" Bilmar menatap penuh harap menaik turun kan alis mata dengan senyum penuh misteri.
"Boleh," kata Anggia tersenyum.
"Serius?" Bilmar sangat berharap dan mendekatkan wajahnya, tapi Anggia mendorong wajah Bilmar dengan telapak tangan.
"Itu cium," tangan Anggia menujuk kaca mobil.
"Ck," Bilmar berdecak kesal dengan kedua tangan menggaruk kepala, dengan frustasi.
"Udah aku naik taxi saja, berangkat sama Abang tuan Bilmar gila bisa tahun depan aku baru sampai di rumah sakit," Anggia bergegas turun tapi dengan cepat tangan Bilmar memegang lengan Anggia, mau tidak mau Anggia kembali duduk dan menutup pintu yang tadi sudah setengah ia buka, lalu menatap wajah Bilmar.
"Adik manis kicot, sama Abang aja ya," Bilmar sangat takut Anggia turun dari mobilnya jadi ia sangat berharap Anggia menuruti keinginannya.
"Ok, tapi jangan tiap sepuluh meter berhenti, kapan nyampeknya," Anggia bisa menduga karena perdebatan mereka Bilmar terus menepikan mobilnya hingga mungkin mereka baru dua ratus meter jaraknya dari rumah.
"Okey bumil okey, nggak usah marah-marah kasian yang di dalam," kata Bilmar membujuk Anggia.
"Ya udah ayo jalan," pinta Anggia.
"Iya," Bilmar menyalakan kembali mesin mobilnya dalam hitungan detik, mobil yang di kendarai Bilmar sudah mulai melaju membelah jalanan, "Jalan ke mana ni," tanya Bilmar.
"Kerumah sakit, mana mungkin kepasar malam, kan ini masih pagi," jawab Anggia dengan jengah.
"O, kirai ke plaminan," gumam Bilmar tapi masih bisa di dengar Anggia.
"Abang Tuan Bilmar Gila, nanti kalau udah sampek di rumah sakit jangan langsung pulang ya," kata Anggia yang menatap wajah Bilmar dari samping
Bilmar yang mendengar penuturan Anggia langsung tersenyum bahagia dengan penuh harap.
"Adek manis mau ajakin Abang ke ruangan nya dulu ya, ish...kamu romantis juga ya nggak mau jauh-jauh dari saya," seloroh Bilmar.
"Bukan," Anggia terkekeh melihat Bilmar yang sangat percaya diri.
"Terus ngapain?"
"Buat ketemu sama psikater."
"Anggia kamu jangan begitu, aku memang gila tapi tergila-gila sama kamu!" jawab Bilmar dengan jelas di depan wajah Anggia.
DEEG.
Anggia hanya diam mematung, niat hati ingin membuat Bilmar tersudut. Tapi nyatanya malah ia lah yang tersudut, jantung Anggia mendadak tidak karuan mendengar perkataat sederhana Bilmar.
"Anggia," Bilmar melambai-lambai tangannya di muka Anggia sebab ia hanya diam saja.
"Iya tuan, Eh maksudnya Abang," jawab Anggia dengan gelagapan.
"Udah sampek," Bilmar menunjuk sekelilingnya.
"Iya," Anggia melihat sekeliling nya dan benar sekali mereka sudah sampai tapi Anggia baru menyadari.
"Nanti saya jemput," kata Bilmar mengacak rambut Anggia.
"Aku naik taxi aja," tolak Anggia.
"Nggak ada penolakan, jangan banyak kerja. Ingat kandungan kamu," Pesan Bilmar tersenyum pada Anggia.
"Turun langsung turun aja, enggak ada cium kek apa gitu. Ongkos capek dikit boleh lah," gumam Bilmar sambil melanjutkan kembali perjalanannya menuju perusahaan.
"Anggi," kata Sasa yang melintas di depan ruangan Anggia sebab ruangan mereka bersebelahan.
Anggia yang sudah memegang gagang pintu, urung melangkahkan kakinya masuk lalu mentap Sasa dengan senyum ramah seperti biasa.
"Dokter Sasa," jawab Anggia.
"Kamu udah masuk?"
"Udah ni lagian aku udah enakan," kata Anggia.
"Oh ya Ngi kamu bawa makanan ngak aku laper, lagi malas kekantin," kata Sasa.
"Ada ni aku bawa bekal, ya udah ayo masuk keruangan aku," Anggia membuka pintu dan Sasa juga ikut masuk mengikutinya.
TING.
Tedengar ponsel Anggia berbunyi.
[Tuan Bilmar,]
Dengan cepat dan penasaran Anggia membuka pesan dari Bilmar, tidak pernah Bilmar mengirim pesan dan ini pertama kalinya. Ia takut ada sesuatu yang sangat penting.
[Adek Manis,] Tuan Bilmar.
[Apa?] Anggia.
[Lagi apa?] Tuan Bilmar.
[Lagi sama dokter Sasa.] Anggia.
"Anggia kamu lagi seru ya kayaknya?" tanya Sasa yang menunggu Anggia mengeluarkan bekal tapi Anggia malah sibuk berbalas pesan.
"Nggak juga biasa aja," kata Anggia sambil memberikan bekalnya pada Sasa dan Sasa langsung memakannya.
"Kamu gimana sama tuan Bilmar?" tanya Saya penasaran.
TING.
Ponsel Anggia kembali bergetar, tidak usah di tanya siapa sudah jelas itu pasti Bilmar.
[Kangen.] Bilmar.
Anggia memijat dahinya, ia bingun dengan Bilmar baru beberapa menit ia dan Bilmar berjauhan. Tapi sekarang sudah mengirim pesan bahkan isi pesannya juga terlihat konyol. Anggia tidak membalas ia meletakan ponselnya begitu saja di meja.
"Aku emang kenapa sama tuan Bilmar?" Anggia menjawab pertanyaan Sasa dengan bingung.
"Iya enggak, kan kamu hamil anak dia apa kalian nggak ada niat nikah?" tanya Sasa penasaran.
"Belum kepikiran," jawab Anggia apa adanya.
TING.
Ponselnya bergetar lagi.
[Adek manis ku sayang, BALAS.] Tuan Bilmar.
[Anggi lagi sibuk Abang,] Anggia.
[Lagi nyuntikin pasien kah?] Tuan Bilmar.
[Itu tau,] Anggia.
[Kamu mau Abang suntik nggak?] Tuan Bilmar.
[Emang Abang Bilmar gila bisa nyuntik?] Anggia.
[Bisa pakek suntik keramat,] Tuan Bilmar.
Sejenak Anggia berpikir apa itu suntik keramat, Anggia bingung sangat binggung bila berbicara dengan Bilmar yang selalu menggunakan bahasa yang tidak di mengerti Anggia.
[Suntik keramat?] Anggia.
[Iya, mau?] Bilmar.
"Apa ya suntik keramat?" Anggia menopang kepala sambil berpikir.
****
Jangan lupa Vote.