Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 54


Kini Anggia dan Bilmar sudah berada di dalam mobil keduanya pergi menuju mall, seperti janji Bilmar.


"Tuan ngajak saya ke mall ngapain?" tanya Anggia yang duduk anteng di samping Bilmar.


"Buat bawain barang belanjaan saya," jawab Bilmar yang hanya sekilas melirik Anggia, ia hanya fokus menyetir.


"Cuman itu doang?" tanya Anggia lagi dengan perasaan kesal.


"Memangnya kamu mau belanja apa di mall?"


"Saya bukan mau beli tapi di belanjain saya sama tuan saya mau," jawab Anggia, tanpa Anggia sadari ia tidak pernah seberani ini pada seseorang. Namun saat dengan Bilmar yang selalu mengajaknya bertengkar, bercanda tanpa ia sadari ia mulai merasa nyaman berada di dekat Bilmar.


"Kamu matre juga ya?" seloroh Bilmar.


"Tadi nanyak sekarang menghina!" kesal Anggia.


Bilmar menepikan mobilnya, lalu menatap Anggia, "Kamu mau belanja puas?" Bilmar menatap Anggia.


"Hehehe," Anggia terkekeh dan mengangguk-angguk, "Mau dong," Anggia senang dengan pertanyaan Bilmar ia berpikir Bilmar akan membayar semua belanjaannya nanti.


"Cari duit!" ketus Bilmar.


"Ck," Anggia kesal jawaban Bilmar tidak sesuai keinginannya.


Gue enggak ragu Anggia hamil anak gue, Anggia pemalu bahkan dulu di ajak belanja saja dia nggak mau. Nah saat dia hamil anak gue tingkah Anggia berubah seperti tingkah Mami yang suka belanja, eman dasar keturunan Rianda matre semua kayak Oma Ratihnya. Anak Daddy masih di dalam saja sudah matre kayak Omanya.


"Kamu mau belanja nggak?" Bilmar menaik turunkan alis matanya.


"Iya mau," teriak Anggia, "Tapi tuan Php, tadi ngajakin sekarang mempermalukan Anggi," kesal Anggia. Tapi hal itu lah yang memang di cari Bilmar, bersama Anggia seakan Bilmar punya mainan baru yang hidup untuk ia usili setiap hari.


"Kok saya Php," Bilmar tidak terima dengan perkataan Anggia.


"Mami...!"


"Ish kamu sekarang udah jadi anak Mami ya?" goda Bilmar mencolek dagu Anggia, "Bentar, kamu nangis saya vidio in, mana tau viral," Bilmar mengambil ponsel dan mulai merekam Anggia dengan wajah cemberut dan menangis.


"Hiks, hiks, tuan!" kesal Anggia.


"Ayo lebih kencang," seloroh Bilmar lagi.


"Mami....!" teriak Anggia sambil merebut ponsel Bilmar.


"Ahahahaa," Bilmar semakin suka menjaili Anggia.


Anggia berusaha merebut ponsel Bilmar, sebab Bilmar mengancam akan menyebarkan vidio Anggia yang ia ambil saat sedang menangis tadi.


"Tuan jangan di sebar," Anggia terus berusaha hingga Bilmar menyembunyikan ponselnya di belakan tubuhnya, tanpa sadar Anggia melingkarkan tangannya di perut Bilmar. Bahkan Anggia yang hanya fokus dengan merebut ponsel itu tidak sadar kini ia memeluk Bilmar.


DEEG.


Bilmar malah diam membeku saat gundukan Anggia membentur dadanya.


GUK.


Bilmar hanya mampu mendeguk saliva, sambil merasaka gundukan Anggia yang terasa kenyal, bergerak-gerak karena Anggia belum menyadarinya. Bilmar merasa tidak nyaman dengan posisi saat ini hingga dengan tidak sadar Bilmar mengecup tengkuk Anggia.


CUP.


"Tuan!!" Anggia memundurkan tubuhnya saat merasakan bibir Bilmar meyentuh tengkuknya.


Ups kelepasan.


"Hufp," Bilmar menarik nafas dan berusaha tetap tenang agar tidak merasa malu, "Apa?" Bilmar berpura-pura tidak tau apa-apa padahal ia sangat malu mengingat apa yang ia lakukan.


"Tuan tadi cium saya kan!" tangan Anggia menunjuk wajah Bilmar.


"Kamu jangan fitnah saya, kamu yang peluk saya!" Bilmar tidak mau mengalah ia harus menutupi hal memalukan yang tadi ia lakukan.


"Tadi tuan cium leher saya," Anggia menunjuk lehernya bagian yang di cium Bilmar.


"Tadi siapa yang dekat-dekat ke saya?" tanya Bilmar.


Anggia malah cengengesan menunjukan dua rentetan gigi rapinya.


"Siap yang coba merebut ponsel saya?" tanya Bilmar lagi seolah marah.


"Maaf," kata Anggia sambil tersenyum pada Bilmar.


"Makanya jangan nuduh-nuduh asal," acting Bilmar padahal hatinya tertawa melihat wajah Anggia yang merasa tidak enak


"Maaf, kan Anggia minta maaf," kata Anggia seperti anak kecil.


"Iya saya maaf pin lain kali jangan pifnah orang sebelum tau bagaimana kejadiannya."


"Lagian saya rebut posel tapi malah di cium!" kesal Anggia karena Bilmar terus menyudutkannya, Bilmar memang sengaja menyudutkan Anggia menurut Bilmar wajah Anggia sangat imut.


"Terus kamu pikir saya sengaja cium kamu," Bilmar menatap Anggia, "Emang saya cowok apaan," ucap Bilmar seolah Anggia yang menodainya.


"Cowok murahan, Ahahaahaha," Anggia malah tertawa melihat wajah kesal Bilmar.


"Enak ajah, saya nggak murahan kalau saya murahan saya mau sama kamu, tapi saya nggak mau sama kamu!" kesal Bilmar yang malah balik di goda Anggia.


"Yakin tuan nggak mau sama saya?"


"Iya lah," jawab Bilmar asal.


"Ehem, ehem," Anggia membusungkan dadanya pada Bilmar dalam jarak yang sangat dekat.


Mati gue.


"Dada kecil gitu juga di pamer," tangan Bilmar mendorong lengan bagian atas Anggia, agar Anggia menjauh darinya sebelum ia hilang ingatan dan malah melakukan hal yang dulu pernah mereka lakukan.


Dengan gerakan cepat Anggia menjauh dan mengintip dadanya dari bagian atas dress yang ia kenakan.


"Kicot ngapain?" Bilmar malah tertawa melihat keanehan Anggia yang langsung mengintip dada.


"Ish," kesal Anggia, "Katanya mau jalan-jalan kenapa malah diem di pinggir jalan, oh saya tau," Anggia menatap intens Bilmar, "Baju tuan mahal. Semua mahal, ini semua pasti di berikan oleh pacar-pacar tuan kan!" Anggia menunjuk wajah Bilmar.


Bilmar menjatuhkan tangan Anggia yang menunjuk wajahnya, "Maksud kamu apa?" kesal Bilmar, ia seorang CEO tapi malah di tuduh yang bukan-bukan.


"Ini buktinya, katanya jalan-jalan tapi bukan jalan-jalan beneran malah nongkrong di pinggir jalan, nggak ada modal bilang boss," kata Anggia.


"Kamu meremehkan saya?"


Anggia merapikan kemeja Bilmar dan membersihkan seolah ada debu, "Nggak dong, Ceo kan?" tanya Anggia yang di angguki Bilmar, "Ceo pelit, modal dengkul," tutur Anggia di wajah Bilmar.


"Okey, ayo kita belanja kamu bebas belanja apa saja," Bilmar yang emosi langsung menyalakan mesin mobilnya menuju mall untuk membawa Anggia berbelanja.


"Okey," kata Anggia hingga akhirnya mereka sampai di mall.


"Turun!"


"Iyah," Anggia turun dengan kesal karena Bilmar terlihat tidak iklas mengajaknya belanja.


Hingga mata Anggia tidak berkedip saat melihat seorang bule tampan yang tidak jauh darinya, Bilmar tau arah tatapan Anggia dan ia merasa kesal.


"Hey," Bilmar menepuk punggung Anggia.


"Tuan!"


"Em," jawab Bilmar dengan malas.


"Itu," Anggia mengode Bilmar mengikuti arah pandangannya.


"Iya kenapa?"


"Lihat tuan otot-ototnya Waw," Anggia malah melongo saat melihat pria bule itu.


"Kamu pikir saya tidak punya otot seperti itu?" Bilmar menarik tangan Anggia, ia lebih memilih Anggia melihat barang-barang mahal dari pada melihat pria lain.


"Tuan kita makan dulu yuk," Anggia yang merasa perutnya lapar langsung mengajak Bilmar makan padahal mereka barusan sarapan.


"Boleh," kata Bilmar yang mulai menaiki lift dengan Anggia.


"Tapi pengen di suapin," kata Anggia yang ternyata tanpa sadar memeluk lengan Bilmar.


Adik manis kenyal bener itunya jadi hauskan Mas Bilmarnya.


****


VOTE YA KAKAK-KAKAK SEMUANYA.