
Jam 12.00 tengah malam.
TOK TOK TOK TOK.
"Tuan!"
TOK TOK TOK TOK.
"Tuan!"
CLEK.
Pintu terbuka Bilmar melihat Anggia ada di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Bilmar dengan mengucek-ngucek matanya.
"Hehehe, maaf ganggu," Anggia malah cengengesan merasa bersalah karena sudah mengganggu Bilmar yang sedang tertidur pulas.
"Ya nggak papa, ada apa?" tanya Bilmar lagi.
"Tuan saya lapar banget," kata Anggia dengan hati-hati takuk Bilmar menolak kalau ia mengajaknya keluar.
"Makan," jawab Bilmar sambil menutup mulut yang masih menguap.
"Iya tuan," dengan perasaan bersedih Anggia pergi meningkan Bilmar. Anggia berjanji tidak akan pernah meminta apa pun lagi dari Bilmar.
Dengan gerakan cepat Bilmar memegang lengan Anggia, "Kamu mau kemana?" Bilmar bingung saat Anggia pergi begitu saja, bukan kah Anggia mau. mengajaknya makan.
"Mau makan," jawab Anggia dengan mata yang berkaca-kaca, jiwa cengeng dan sensitifnya sepertinya kembali lagi.
"Loh, kamu nggak ngajak saya?" tanya Bilmar bingung.
"Kan tadi tuan nggak mau!" ketus Anggia sambil meneteskam cairan bening dari matanya mendongkak menatap Bilmar lebih tinggi darinya.
"Siapa bilang?"
"Hiks, hiks, tadi tuan bilang makan di sana," Anggia seperti anak kecil menangis dan menujuk posisi di mana tadi Bilmar berkata makan.
"Mmmffpp," Bilmar malah menahan tawa melihat tingkah Anggia, Bilmar sangat suka sekali wanita manja.
"Kok ketawa?" Anggia berhenti menangis saat melihat Bilmar mengetawainya.
"Kamu lucu!" kata Bilmar menjitak kepala Anggia.
"Au," Anggia mengelus kepalanya, "Saketttt," teriak Anggia.
"Ahahahahaa," Bilmar malah tertawa lepas ternyata Anggia bisa menjadi hiburan di tengah malam.
"Tuuuannn," teriak Anggia sebab Bilmar terus menertawainya tanpa sebab yang jelas.
"Tadi saya bilang makan terus saya nguap, maksud saya makan apa kita? Atau di mana? Tapi saya keburu nguap jadi ucapan saya terpotong sebelum selesai." jelas Bilmar.
"O, hehehe," Anggia malah merasa malu karena sudah berpikir negatip.
"Cengeng!" kata Bilmar sambil masuk kedalam kamarnya untuk mengabil jaket.
"Tuan bilang apa?"
"Kamu cengeng!" kata Bilmar berbicara di depan wajah Anggia, sontak dengan reflek Anggia memundurkan wajahnya.
"Bau," Anggia mengibaskan tangan mencari udara karena bau nafas Bilmar.
"Kamu ngatain saya bau," Bilmar mencubit hidung Angggia dengan gemas.
"Emang!" Anggia melempar bantal sofa pada Bilmar.
"Mau di antari cari makanan nggak!" kesal Bilmar.
"Maulah," jawab Anggia.
"Sana ganti baju dulu," perintah Bilmar.
"Baju ini juga nggak papa," Anggia memandang gaun tidur yang ia pakai dan melihat masih sopan, lagi pula Ratih membelikannya banyak gaun tidur dengan sexy, dan ada yang tidak pula.
"Ganti lain, ini tidak sofan bila di pakai di luar rumah, nggak ganti nggak jadi!" acaman Bilmar sepertinya mujarap, Anggia langsung bergegas kekamar dan mengtanti pakaian.
Gila dia nggak tau apa tubuhnya montok abis, nggak rela lah gue berbagi sama orang di luar sana.
"Tuan," Anggia datang dengan dress yang tertutup, beserta jaket tebal Bilmar melihat dari atas sampai bawah.
"Udah yuk," kata Bilmar keduanya berjalan dengan Anggia yang berjalan di belakang Birmar, "Kamu ngapain jalan di belanang saya, disini," Bilmar menujuk samping kirinya.
"Tuan jalannya cepet banget."
"Makanya jangan pendek."
"Ish menghina mulu deh," kesal Anggia yang akhirnya mendahului Bilmar, ia malah berjalan di depan. Bilmar hanya menahan tawa sambil geleng-geleng kepala ia baru tau ternyata Anggia sangat lucu.
"Makan apa?"
Kini keduanya duduk di dalam mobil dengan Bilmar yang mengemudi, dan terlihat mulai keluar dari pintu gerbang rumahnya.
"Sate," jawab Anggia sambil melihat jalanan.
"Kita cari cafe dekat sini ajah, nggak baik jauh-jauh buat ibu hamil," kata Bilmar melirik Anggia sekilas.
"Ya udah kita cari ya," kata Bilmar tersenyum pada Anggia.
Kini mereka sudah turun dari mobil karena sudah menemukan tukan sate pinggir jalan sesuai permintaan Anggia.
"Pak dua," kata Anggia.
"Baik Mbak," jawab penjual sate.
"Ini."
"Makasih," Anggia menerima satenya, ia meletakan satunya di kursi sebelah kiri tubuhnya, sementara Bilmar duduk menunggu di sebelah kanan Anggia.
"Enak tuan," kata Anggia sambil mengunyah satenya.
"Iya terus itu satunya kenapa di taruh di situ?" Bilmar menujuk sate yang tadi di letakan Anggia.
"Iya kan buat saya nambah," Anggia terus mengunyah sate tanpa perduli wajah Bilmar yang kesal, sedari tadi ia menunggu satenya di berikan, ternyata Anggia memesan hanya untuk dirinya sendiri.
"Buat saya mana?"
"Tuan punya mulut, punya tangan bisa pesan sendiri," jawab Anggia dengan santai dan meletakan piring kosong yang sudah habis, lalu ia mengambil piring sate yang tadi ia letakan di sampingnya dan memakan tanpa tau Bilmar yang kesal di sampingnya.
"Pak saya satu," Bilmar akhirnya memesan sendiri.
"Pak satu lagi," kata Anggia memesan pada pedang sate.
"Badan cebol tapi makan banyak," seloroh Bilmar.
"Ck, apasih," Anggia menerima pesananya dan kembali memakannya sampai habis.
"Kicot kamu makan tiga porsi, badan sekecil ini tapi makan banyak banget," Bilmar terkekeh melihat Anggia makan sangat banyak.
"Udah sakit di paksa makan, udah sehat makan banyak protes," kesal Anggia menatap tajam Bilmar.
"Hahhaha, nggak usah marah-marah nanti cantinya hilang," Bilmar mengacak-acak rambut Anggia.
"Saya marah nggak marah tetap aja cantik."
Kalau Adek enggak cantik kayak bidadari Mas Bilmar nggak akan jatuh hati.
"Ayo bayar," tutur Bilmar pada Anggia.
"Saya nggak punya uang," jawab Anggia dengan polosnya.
"Terus kenapa ngajakin saya makan?" Bilmar tanpaknya kini sangat suka menggoda Anggia.
"Buat bayarin saya makan," jawab Anggia santai.
"Saya nggak bawa uang dan saya pikir kamu yang bayar," kata Bilmar.
"Okey," Anggia mencondongkan tubuhnya pada Bilmar, membuat wajah Bilmar memerah dan jantungnya mendadak tidak karuan. Berharap Anggia akan menciumnya. Lama Bilmar menunggu ciuman itu tak juga mendarat di pipinya hingga akhirnya Bilmar membuka mata.
"Tuan ngapain tutup mata?" Anggia yang sudah menjauh dari Bilmar malah di buat bingung.
"Eng-nggak papa, ayo bayar!" Bilmar berusaha menutupi rasa malunya.
"Iya saya bayar," Anggia membuka dompet dan memberika sepuluh lembar uang seratus ribuan pada penjual sate.
"Mbak ini terlalu banyak," kata sipenjual.
"Ngga papa pak ambil aja, yakan tuan," Anggia bertanya pada Bilmar.
"I-iya," jawab Bilmar tersentak karena melamun.
"Ambil pak."
"Terimakasih banyak mbak, semoga mudah recekinya, urusannya lancar," kata si penjual.
"Amin," jawa Bilmar.
"Yuk," Anggia berjalan di ikuti Bilmar dan kini keduanya naik kedalam mobil.
"Kamu murah hati sekali ya memberi uang banyak begitu," puji Bilmar saat akan menyakan mobilnya.
"Ya kan anak soleha, makasih tuan teraktirannya," Anggia memberikan sebuah dompet pada Bilmar.
"Kenapa ada di kamu?"
"Kan tadi saya yang bayar," jawab Anggia santai.
"Jadi tadi kamu kasih uang sebanyak itu ambil di dompet saya?" Bilmar ingat saat tubuh Anggia condong padanya ternyata Anggia sedang mencopet dompetnya. Pantas saja tadi Bilmar seperti mengenali dompet yang di pegang Anggia.
"He'um," jawab Anggia.
"Dasar siput copet," Bilmar menyentil kepala Anggia dengan gemas, ternyata yang ia Aminkan tadi untuk dirinya sendiri.
"Sakittttt," kesal Anggia.
"Ahahahahaa," Bilmar sangat suka melihat wajah kesal Anggia, yang kini menatapnya tajam.
****
JANGAN LUPA VOTE.