Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 149


Malam harinya Anggia, Bilmar, Veli dan Aran sepakat untuk menginap di kediaman Ratih. Kini mereka tengah berkumpul di taman belakang, bersantai menikmati indahnya sinar rembulan.


"Alif sayang, nanti kalau sudah besar jangan seperti Deddy ya," ucap Aran yang sedang mengajak Alif berbicara.


"Anak gw, ya jelas kayak gw lah," kesal Bilmar menatap Aran.


Aran mendengar apa yang di katakan Bilmar, tapi ia sama sekali tak mau perduli, "Jangan ya Nak," Aran memasukan jari telunjuknya pada tangan Alif yang terkepal seolah Alif juga merespon ucapannya, "Daddy kamu itu playboy, ceweknya banyak, suka gonta-ganti cewek. Semua cewek di pacaran," sambung Aran lagi.


Bilmar malah melongo mendengar apa yang di katakan Aran, "Lu ngomong apa barusan!" Bilmar ingin mencabik-cabik Aran rasanya karena berbicara tentang dirinya.


"Yeeee......sewot amat. Gw nggak ngomong ama elu bego!" Aran menatap Bilmar seolah meremehkannya.


"Ya......tapi lu ngomongin gw!" ucap Bilmar lagi dengan tak mau kalah.


Ratih yang baru saja ikut bergabung bersama anak-anaknya, hanya bisa geleng-geleng melihat tinggkah Bilmar dan Aran yang selalu terlibat pertengkaran kecil bila sudah begabung.


"Kalian kalau sudah ngumpul bisa nggak, nggak usah brisik. Mami pusing sama kalian!" kata Ratih sambil mengingat saat dulu Bilmar dan Aran masih tinggal bersamanya di rumah itu, keduanya sering kali terlibat pertengkaran.


"Dia dulu ni Mi," Bilmar menjitak Aran.


"Lu yang ikut campur dalam pembicaraan kita," Aran tak mau kalah, ia juga membalas apa yang di lakukan Bilmar padanya.


"Lu berani sama gw!" kesal Bilmar.


"Diam!" kata Ratih dengan nada yang cukup tinggi, "Kalian kapan dewasanya!" Ratih menatap Aran lalu menatap Bilmar.


"Bilmar udah dewasa tau Mi, buktinya Bilmar udah bisa bikin anak. Dua lagi cucu buat Mami," Bilmar menunjuk Alif dan Alma yang berasa dalam masing-masing kini di pangku Veli dan Anggia.


"Aran juga udah dewasa tau Mi, Aran udah punya istri. Bentar lagi juga pasti Mami dapat hadiah dari kita," ucap Aran dengan bangga.


"Hadiah?" tanya Ratih dengan bingung, "Apa?" lanjutnya.


"Cucu lah Mi, kan Aran sampek lembur. Demi bisa kasih Mami cucu," jawab Aran dengan bangga.


"Aran......Bilmar......" Ratih menaik turunkan napasnya tidak beraturan, karena lagi-lagi kedua putranya itu pandai sekali membuatnya mereka kesal.


"Mami, muka Mami mulai ada kerutan. Jangan marah-marah terus bahaya tau Mi," kata Bilmar menunjuk wajah Ratih seolah ia serius dengan perkataannya.


"Apa? Kerutan di mana?" tanya Ratih dengan antusian dan ia berlari masuk ke dalam rumah untuk menemui Rianda yang berada di dalam kamar, "Papi......" teriak Ratih sambil membuka pintu.


"Mami kenapa?" tanya Rianda panik, dan takut ada hal buruk yang tengah terjadi.


"Bahaya Pi, bahaya," Ratih langsung menuju meja rias dan melihat wajahnya di cermin.


"Apanya yang bahaya?" Rianda yang panik kini berdiri di belakan Ratih yang sedang melihat wajahnya di cermin.


"Anak-anak bilang Mami udah punya banyak kerutan," Ratih masih memperhatikan wajahnya, sementara Rianda menarik nafas karena istrinya masih saja konyol seperti saat mereka berpacaran dulu.


"Mami-Mami, Papi pikir kenapa," kata Rianda merasa lega dan ternyata tak ada yang terjadi.


"Papi kenapa santai aja, ini masalah penting. Bukan main-main. Setelah ini kita harus leluar negeri. Mami mau perawatan!" Ratih menegaskan pada Rianda seolah ini adalah masalah yang cukup serius.


"Gampang lah Mi, tapi Papi udah berapa hati puasa......" Rianda menaik turunkan alis matanya, "Kan biar awat muda Mi," lanjut Rianda lagi mencolek dagu Ratih.


"Ish....Papi....." Ratih malu-malu dan ia menunduk kan wajah cantiknya yang bersemu merah seolah ada banyak love bertaburan di antara keduanya.


"Mau Mami, jelek, mau Mami berkerut, mau Mami beruban, Mau Mami sudah jompo atau Mami sudah membungkung sekalipun. Bagi Papi Mami masih tetap sama seperti dulu saat kita pertama kali bertemu, bahkan cinta Papi tak kan pernah layu," kata Rianda sambil mengingatkan keduanya saat pertama kali bertemu.


FLASH BACK.


BUUUUK.


Tiba-tiba saat ia duduk ada seorang pria yang menabraknya, dan pria itu memberikan sebuah tas kecil padanya. Rianda tentu saja bingung karena si pria penabraknya itu langsung berlari begitu saja.


"Mas ini tasnya ketinggalan," Rianda berdiri dan ia berusaha memanggil pria tersebut dengan memegang tas kecil di tangannya.


"Dasar copet!" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang meneriakinya copet, Rianda tentu saja di buat bingung apa lagi melihat banyak warga yang mulai berkerumunan.


"Sayang, kamu jangan ngambek ya. Nanti aku beliin tas yang baru," Rianda mendekati wanita tersebut dan memeluknya dengan cepat, menunjukan pada orang-orang jika mereka adalah sepasang kekasih yang tengah terlibat pertengkaran.


"Heh, kamu ngomong apa!" wanita itu di buat semakin bingung dengan pengakuan Rianda.


"Ibu, dan bapak semuanya. Saya mohon maaf pacar saya lagi ngambek minta di belikan tas baru, tapi saya belum punya uang," kata Rianda beracting sedih, seolah apa yang di katakannya benar-benar terjadi.


"Hah...." Wanita itu melongo mendengar penuturan Rianda, "Bukan-bukan," Ratih menggerak-gerakan tangannya pada orang-orang, dan ingin berbicara lagi tapi Rianda malah menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Sayang, sudah ya. Malu di lihat orang," kata Rianda. Bahkan ia mengecup pipi Wanita tersebut, karena orang-orang itu masih tanpak menatap ragu dan masih ingin memukuli dirinya.


"O....jangan gitu dong neng, kalau pacarnya lagi nggak punya uang ya sabar....." tutur seorang warga.


"Iya, nggak boleh begitu. Baru pacaran belum juga nikah udah belagu," ucap yang lainnya dengan kesal sambil membubarkan diri, setelah merasa aman Rianda langsung melepaskan wanita itu.


"Kurang ajar!"


PLAK.


Tangan wanita itu mendarat di pipi Rianda, hingga pipinya terbawa ke samping.


"Dasar pencopet kurang ajar," Wanita itu mengambil tas miliknya yang ada di tangan Rianda dan menatapnya kesal, "Pencopet nggak ada ahlak!" lanjut Ratih lagi.


"Heh....." Rianda menatap Wanita itu dengan tajam, "Saya bukan pencopet, yang pencopet itu udah lari. Lihat jaket saya sama atau nggak sama pencopet tadi," Rianda menujukan jaket kulit yang ia pakai.


"Alah bisa aja kalian temenan!" Wanita itu masih kesal dan memarahi Rianda habis-habisan.


"Diam, aku bukan pencopet!"


"Mana ada maling ngaku."


"Heh, saya ini bukan copet."


"Sekali pencopet tetap pencopet!"


CUP.


Rianda langsung mengecuk bibir wanita yang kini tengah berdebat dengannya itu, entah siapa ia pun tak tau yang jelas ia sudah gemas dan rasanya wanita itu mampu membuatnya tak karuan.


"Kurang aja!" teriak wanita itu semakin kencang.


"Diam kalau tidak....."


"Kalau tidak apa?" tantang wanita itu.


"Diam atau kamu saya tarik sekarang ke penghuku."


"Gila!"


FLASH BACK OF.