Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 66


"Abang, Anggi udah selesai," Anggia meletakan piring kosong melihat Bilmar yang juga sedang memperhatikannya.


"Ya udah, ayo," Bilmar bardiri dan berjalan menuju mobil, Anggia dengan gerakan cepat mengejar Bilmar yang sudah membuka pintu mobil.


"Abang," kata Anggia dengan memegang lengan Bilmar, Bilmar tersenyum samar dan menatap Anggia.


"Apa?" Bilmar berpura-pura bodoh.


"Ish," Anggia kesal dan ia berjalan mendekati penjual rujak, "Mas rujaknya bayarnya pakek ponsel saya aja ya," Anggia memberikan ponselnya pada si penjual rujak lalu pergi begitu saja meninggalkan Bilmar yang masih berdiri di depan mobilnya.


"Mas maaf ya, ini uang rujaknya," Bilmar memberikan beberapa lembar uang seratus ribu, "Dan ponselnya saya ambil," kata Bilmar.


"Oh iya Mas," jawab si pedangang dengan hati yang bahagia karena mendapat uang dengan nominal cukup banyak.


"Anggia," Bilmar menarik tangan Anggia dan memasukannya kedala mobil.


"Ish," dengan perasaan kesal Anggia masuk dan duduk.


"Caelah, ngambek niyee," seloroh Bilmar menarik hidung Anggia.


Anggia menepis tangan Bilmar dengan kesal, ia memalingkan wajahnya keluar. Perasaan sensitif sepertinya mulai menguasai wanita hamil itu.


"Udah jangan marah, ini ponsel kamu," Bilmar memberikan ponsel Anggia yang dulu ia belikan dan berwarna pink.


"Nggak usah," tolak Anggia.


"Okey kalau nggak mau ponselnya aku lempar kejalanan," Bilmar berpura-pura hendak melempar ponsel Anggia melalui kaca mobil yang setengah terbuka.


"Jangan!" dengan gerakan cepat Anggia merebut ponselnya, tanpa sadar ia memeluk Bilmar dari samping. Namun sepertinya Anggia belum menyadari hal itu, ia masih fokus merebut ponsel di tanggan Bilmar yang terlentang keluar.


"Mau ini?" tanya Bilmar menggerakan ponsel di tangannya.


"He'um," Anggia manggut-manggut.


"Ambil," Bilmar tidak memberikan pada Anggia ia hanya menggerakan tangannya di luar jendela tanpa sadar ia semakin memeluk Bilmar.


"Ngomong-ngomong kamu lagi mancing saya atau bagaimana?" tanya Bilmar sambil tangan yang menunjuk Anggia memeluknya.


Anggia menatap tibuhnya yang berdekatan dengan Bilmar, perasaan Anggia berubah gemetar dengan perlahan ia memundurkan diri lalu membenarkan duduknya. Perasaan Anggia berubah tidak karuan sungguh ia tidak pernah merasakan hal seaneh ini.


"Nih ponselnya," tangan Bilmar memberikan ponsel milik Anggia.


"Nggak usah!" ketus Anggia kesal.


"Jadi pasar malam nggak?" tanya Bilmar.


"jadi," Anggia seperti anak kecil saat mendengar pertanyaan Bilmar.


"Ini ambil ponselnya kalau jadi."


"Hehehe," dengan cepat Anggia menerima ponsel pink kesayangannya.


"Ini ambil," Bilmar memberikan kartu ATm pada Anggia.


"Buat apa?"


"Buat orang yang aku cintai."


DEEG.


Kalau biasanya Bilmar yang merasa gelagat aneh maka kali ini berbeda, kali ini Anggia yang merasa gelagat aneh itu dan untuk kalimat, 'Untuk orang yang aku cintai,' sungguh membuat perasaan Anggia tidak karuan. Ada dua kemungkinan dalam ucapan Bilmar barusan, entah ucapan cinta untuk anaknya atau untuk dirinya.


"Ambil," Bilmar menggerakan kartu itu di depan wajah Anggia, sebab Anggia hanya larut dalam lamunannya.


"Nggak usah, nanti Anggi bisa ke bank buat urus Atm punya Anggi," Anggia menolak dan ia juga masih memiliki tabungan dari gajinya bekerja di rumah sakit juga selama bekerja merawat Ziva, namun semua kartu berharga miliknya ada dalam tas yang di sembunyikan Brian beberapa bulan yang lalu bersama ponsel dan Anggia harus mengurus semuanya kembali, ia tidak mau meminta itu lagi dari Brian.


"Kalau kamu nggak mau ambil saya cium!"


"Eh iya, aku ambil," dengan gerakan cepat Anggia mengambil kartu ATm yang di berikan Bilmar, "Makasih," tutur Anggia.


"Kalau di ancam baru mau ya!" Bilmar menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju rumah, "Saya besok mau keluar negeri ada kerjaan," kata Bilmar.


"Keluar negeri?"


"Dua minggu," Anggia seperti orang bodoh mengulang-ulang ucapan Bilmar.


"Kamu jangan kemana-mana, di rumah saja ya, saya takut terjadi sesuatu sama kamu," kata Bilmar sekilas melirik Anggia.


"Tapi katanya besok mau lihat bayinya."


"Iya saya lupa tadi kalau saya akan keluar negeri, kita tunda dua minggu lagi ya," Bilmar mengacak rambut Anggia.


"Iya," jawab Anggia.


Bilmar mulai memarkirkan mobilnya dan keduanya turun dari mobil. Saat keduanya bejalan di ruang tamu tiba-tiba Aran memanggil.


"Bro."


"Em," jawab Bilmar menatap Aran.


"Kita malam ini harus berangkat," kata Aran.


"Malam ini?"


"Iya proyek di sana lagi bermasalah dan butuh penanganan cepat," kata Aran.


Dengan berat hati Bilmar mengangguk, dan ia menatap Anggia yang berdiri di sampingnya. Bilmar rasanya berat meninggalkan Anggia apa lagi Brian sudah keluar dari penjara. Tapi selama Bilmar pergi Anggia hanya di rumah dengan pengawalan yang cukup ketat, bukan itu saja yang Bilmar pikirkan tapi juga saat malam hari kebiasaan Anggia yang mengajaknya makan, dan kalau ia pergi sungguh Bilmar tidak tenang.


"Ya sudah," jawab Bilmar.


"Dua jam lagi," kata Aran sambil berlalu pergi.


"Kamu nggak papakan aku tinggal?" tanya Bilmar.


"Memangnya aku kenapa?" tanya Anggia dengan kesal dan sedih.


"Ya udah dua jam lagi aku berangkat dan kamu nggak boleh kemana pun," kata Bilmar memperingatan.


"Iya, aku kekamar dulu," pamit Anggia berlalu pergi dari hadapan Bilmar.


Dengah perasaan kesal Anggia malah menitihkan air mata sesaat setelah ia masuk kedalam kamar, perasaannya mendadak sedih Bilmar dalam beberapa hari ini tidak akan ada untuknya.


Anggia tidak larut dam kesedihan ia mulai mandi dan membersihkan tubuhnya, hingga dua jam kemudia terdengar ada yang mengetuk pintu kamarnya.


TOK TOK TOK.


Anggia membuka pintu dan melihat Bilmar yang sudah rapi berdiri di sana.


"Saya pamit ya," kata Bilmar tersenyum.


"Iya," jawab Anggia membalas senyuman Bilmar.


"Kamu jangan pergi selama saya tidak ada!"


"Iya," lagi-lagi hanya itu yang menjadi jawaban Anggia.


"Assalamualaikum," kata Bilmar.


"Walaikumsallam," jawab Anggia dengan senyum.


"Nanti kalau sudah sampai saja telpon."


"Iya, kalau sibuk tidak usah," jawab Anggia terkekeh.


Perasaan Bilmar mendadak sedih mendengar jawaban Anggia, ia pikir Anggia sangat berharap akan perhatian darinya namun ternyata tidak bahkan Bilmar dapat melihat tidak ada raut kesedihan yang di tunjukan Anggia sedikit pun.


Andai saja dia menahan ku, aku pasti tidak akan pergi selama dua minggu. Tapi sepertinya dia memang tak mengharapkan aku.


"Aku pergi," pamit Bilmar berbalik dan meninggalkan Anggia.


"Iya."


Anggia kembali masuk kedalam kamar dan duduk di ranjang, air matanya menetes begitu saja entah mengapa perasaan tidak rela di tinggalkan Bilmar muncul di hatinya. Anggia ingin meminta Bilmar untuk tidak pergi tapi ia tidak cukup percaya diri akan hal itu. Lagi pula belum tentu Bilmar mau menurutinya, akhirnya Anggia hanya diam dan mengelus perut buncitnya sambil sesekali mengusap kasar ,air mata.