
Veli kini duduk di kursi kerjanya, otaknya pusing memikirkan pernikahan gila yang kini menjebaknya. Bahkan kini ia berpikir bagaimana caranya agar Aran mau menceraikannya, dengan begitu ia bisa terlepas dari Aran yang kini menginkatnya dengan pernikahan.
"Gila.....kenapa bisa gw nikah sama itu orang, kalau gw cerai sama dia. Jadi janda dong gw, Dokter Cantik Janda Ting-ting," Veli bergumam tak jelas sambil memikirkan gelar janda yang menghantuinya.
Kini Veli sudah mulai memeriksa pasiennya, Veli tersenyum ramah dan terlihat bahagia.
"Ibu selamat ya, bayi nya sehat sekali," Veli tersenyum menatap perut buncit pasiennya.
"Terima kasih dok," tutur pasien itu tersenyum, bahkan suami dari pasien itu juga terlihat bahagia.
"Iya, jangan lupa minum susu dan vitamin nya ya," kata Veli lagi sebelum pasien itu keluar dari ruangannya.
"Dokter, saya boleh minta fhoto sama dokter nggak? Dokter cantik. Jadi saya pingin anak saya secantik dokter," pinta pasien tersebut penuh harap.
"Boleh dong......kenapa nggak," Veli tersenyum, ia berdiri di samping si ibu lalu suami wanita itu mengambil gambar keduanya.
"Dokter sekali lagi ya, tapi kita tukaran tempat," kata wanita itu lagi.
"Oh tentu......" jawab Veli sambil berpindah tempat sesuai keinginan si ibu.
"Terima kasih banyak ya dokter cantik, semoga dokter juga cepat menyusul," kata wanita itu mendoa kan Veli.
Di aminin nggak ya?.
"Amin ibu....." Veli memegan perut pasiennya itu sambil tersenyum bahagia, "Di jaga baik-baik ya ibu.....supaya nanti lahirannya normal," Veli memberi nasehat.
"Ya dokter, saya permisi dulu ya," pamit wanita tersebut.
"Ya hati-hati ibu....." jawab Veli, setelah pasien yang tadi selesai kini masuk pasien berikutnya.
Pasien berikutnya masuk dengan tubuh yang sangat gemuk, bersama dengan sang suami pula tentunya.
"Ibu bayinya sehat, Alhamdulilah, jenis kelaminnya perempuan bu," tutur Veli setelah ia selesai memeriksa pasien.
"O...perempuan bu dokter?" tanya si suami pasien dengan raut wajah bahagia.
"Iya bapak selamat ya, ini kehamilan yang keberapa ibu?" tanya Veli lagi.
"Yang ke sepuluh bu dokter, tapi semua nya laki-laki," kata si pasien.
"O....banyak ya bu?" Veli cukup shock mendengar pasiennya ternyata sudah memiliki anak sebanyak itu.
"Iya bu, khilaf bu," jawab si ibu.
"Buat anaknya khilaf bu?" tanya Veli penasaran.
"Iya bu dokter, suami saya cari anak perempuan. Eh.....yang lahir laki-laki terus, tanpa sadar ternyata sudah sembilang anak dan semuanya laki-laki," jawab si ibu dengan raut wajah sedikit kesal pada suaminya.
Sementara Veli tersenyum mendengar jawaban si ibu, ada juga khilaf dalam membuat anak pikir Veli.
"Kalau begitu, karena usia ibu sudah kepala empat sebaiknya setelah ini ibu menjalani program kb ya bu. Karena kehamilan di usia ibu ini cukup beresiko," jelas Veli pada si pasien nya sambil tersenyum ramah, Veli sudah terbiasa menghadapi pasien dengan berbagai macamnya.
"Tapi enak buk dokter mau bagaimana lagi."
"Emmmm, sudah selesai ya ibu, jangan lupa di minum vitamin nya," kata Veli yang ingin menyudahi pembicaraan mereka yang kini mulai mengarah pada ketidak jelasan.
"Terima kasih bu dokter," kedua pasangan suami istri itu melangkah keluar.
"Sarah, kamu kenapa tertawa?" tanya Veli.
"Masa dokter nggak ngerasa lucu dengan pasien tadi dok?" Sarah masih saja tertawa.
"Bikin anak bisa lupa ya dok, orang susah ya biasa dok. Kayak ibu saya," kata seorang suster lainnya bernama Mega.
"Maksud kamu?" Veli juga ikut penasaran dengan apa yang di maksud Mega.
"Ibu saya itu orang susah bu, jadi nggak ada mainan. Beda sama orang kaya bisa menghibur diri dengan uang, kalau ibu sama bapak saya nggak bu, mainanya nggak jauh dari bawah itu loh bu," Mega menggelengkan kepala mengingat ibunya masih saja melahirkan di usianya yang sudah menua.
"Ck.....bilang sama ibu kamu Mega, minum obat dan baca aturan pakai, bila penyakit berlanjut hubungi dokter. Ahahahahahah," Sarah malah menggoda Mega yang kini kesal padanya.
"Kalian ada-ada saja, saya permisi dulu," kata Veli kemudian ia pergi menuju ruangannya karena ini sudah waktunya beristirahat.
CLEK.
Veli membuka pintu ruangannya dan melihat dokter Farhan sudah menunggunya di sana, Veli diam sambil melangkah masuk.
"Veli Mas minta maaf ya, masalah yang kemarin," tutur Farhan to the point.
"Telat Mas, Veli udah nikah," Veli menuju kamar mandi dan mencuci tangannya, setelah itu ia kembali dan duduk di kursinya.
"Nikah, kamu bilang menikah? Maksud kamu apa?" tentu saja Farhan shock dengan apa yang ia dengar, mana mungkin itu terjadi, mereka hanya bertengkar satu malam dan sekarang malah Veli mengatakan sudah menikah.
"Em, Veli udah nikah sama Aran tadi malam," kesal Veli mengingat wajah Aran, ia rasanya ingin mencakar wajah suaminya itu.
"Veli jangan ngarang dong?" Farhan masih belum yakin akan apa yang di katakan Veli, kini ia berdiri di samping kursi Veli.
"Veli serius Mas, kesel deh....." tandas Veli.
"Terus gimana sama Mas?" tanya Farhan yang kini menatap Veli, begitu juga dengan Veli yang rasanya ingin menangis.
"Mas bilang kita kan udah putus," Veli ingat kemarin mereka bertengkar Farhan langsung berucap putus, rasanya ia tak terima sampai sekarang.
"Tapi maksud Mas bukan begitu, itu hanya sekedar ucapan Mas saja," jawab Farhan dengan raut wajah bersedih.
"Tapi udah telat Mas, Veli beneran udah di nikahin sama Aran. Papah maksa Veli buat nikah, Veli juga nggak mau sebenarnya Veli nungguin Mas yang lamar Veli, tapi malah begini jadinya," jawab Veli dengan wajah sedihnya.
"Yaudah kamu cerai sama dia, terus kita nikah," kata Farhan yang tak sanggup berpisah dari Veli.
"Veli juga maunya gitu tapi caranya gimana?Nggak segampang itu cerai dari Aran kecuali dia yang cerain Veli Mas," Veli semakin menunjukan raut wajah sedihnya pada Farhan.
"Sayang, jangan nangis ya......Mas minta maaf kemarin udah marah sama kamu, tapi beneran Mas nggak nyangka bakalan begini jadinya," Farhan mengusap air mata Veli dengan ibu jarinya, ada rasa sedih bercampur kecewa melihat wanita yang ia cintai itu kini bersedih. Apa lagi perasaannya kini terasa remuk redam setelah mendengarkan apa yang di katakan Veli.
"Mas.....hiks....hiks...." Veli semakin menangis karena kesedihannya terasa sangat dalam, apa lagi setelah melihat wajah Farhan orang yang ia sukai sejak dulu.
"Udah......jangan nangis."
"Mas, gimana ya caranya buat pisah sama Aran?" tanya Veli di sela-sela tangisannya yang terasa pilu.
**
VOTE. jangan lupa. Yang udah VOTE sama kasih hadiah, bintang 5 dan tips. Makasih banyak ya. ;)