
Anggia masih merasa kesal karena Veli dan Aran membuatnya gagal untuk memakan sup nikmat yang seperti ia bayangkan.
"Tuan ngapain liatin saya!" kesal Anggia.
Anggia yang hendak berjalan ke kamar merasa kesal karena Bilmar terus memperhatikannya, bahkan Bilmar hanya menatap nya dengan wajah datar tanpa ekpresi sama sekali. Bilmar menyandarkan tubuhnya di single sofa sambil menyeruput kopi.
"Ish," Anggia hanya bisa meremas kedua tangannya di hadapan Bilmar, ibu hamil itu sepertinya sedang melampiaskan kekesalanya pada Bilmar yang terlihat santai saja melihatnya kesal.
"Kamu kenapa?" terdengar suara bariton Bilmar bertanya.
"Tuan tau nggak?"
"Nggak!"
"Ish tuan gila," teriak Anggia semakin kesal.
"Kamu belum cerita ya mana saya tau," Bilmar bingung kenapa dengan Anggia.
"Aaa hiks, hiks," Anggia malah menagis, Bilmar semakin bingung.
Bilmar bangun dan mendekati Anggia, namun dengan reflek Anggia malah langsung memeluk Bilmar, "Tuan, Veli sama Aran rusakin sayur yang harusnya buat aku bikin sup, hiks, hiks," Anggia malah mengadu di dalam pelukan Bilmar.
"Anggia," Bilmar mendorong tubuh Anggia dengan tetap memegang kedua lengan bagian atas, "Kamu kesal karena sup itu?" tanya Bilmar.
"He'um, hiks, hiks," Anggia mengangguk-angguk.
Bilmar menarik nafasnya dengan berat, "Terus kamu maunya apa?" tanya Bilmar lagi.
"Nggak ada," kata Anggia kembali memeluk Bilmar, tapi Bilmar kembali menjahikan tubuh Anggia darinya. Dengan memengan lengan Anggia.
"Lihat saya," Bilmar ingin Anggia melihatnya karena ia ingin berbicara serius, Anggia dengan pipi yang basah dan mata berkedip sesekali mendongkak hingga pandangan keduanya bertemu.
"Apa?" tanya Anggia dengan suara yang bergetar menahan tangis yang akan pecah karena masih kesal.
"Bagaimana perasaan kamu pada saya?" tanya Bilmar langsung, sungguh Bilmar tidak bisa lagi menahan diri bila berdekatan dengan Anggia.
"Perasaan yang gimana?" sepertinya Anggia belum mengerti dengan maksud dari pertanyaan Bilmar.
"Kamu nyaman dengan saya?" tanya Bilmar Anggia mengangguk, "Kamu mau menikah dengan saya?" tanya Bilmar lagi.
Anggia hanya diam tidak menjawab pertanyaan Bilmar, ia melepaskan tangan Bilmar yang memegang lengannya. Dan berbalik meninggalkan Bilmar, tapi dengan cepat Bilmar menahan lengan Anggia hingga langkah Anggia harus terhenti.
"Anggia," lagi-lagi Bilmar menyebut namanya.
Anggia berbalik dan menatap Bilmar yang menunggu jawaban dari bibirnya, Anggia menggeleng, "Tidak tuan," kata Anggia dengan jelas di telinga Bilmar.
"Kenapa?"
"Saya belum siap menikah lagi, saya baru sah bercerai selama beberapa hari. Saya belum siap untuk menikah lagi," jawab Anggia.
"Aku, aku," Anggia tidak tau lagi harus berkata apa.
"Anggia tatap saya," Bilmar menangkup wajah Anggia agar menatapnya, "Apa yang membuat mu tidak yakin menikah dengan saya?" tanya Bilmar ingin tahu alasan Anggia.
"Aku tidak punya alasan, tapi aku butuh sesuatu yang membuat aku yakin dengan adanya cinta. Karena aku tidak pernah merasakan yang namanya cinta, aku pernah membuka hati ku untuk mantan suami ku. Tapi sebelum ia berhasih membuat aku mencintainya justru malah aku yang terluka, maaf tuan Bilmar aku sudah tidak percaya dengan adanya cinta."
Mata Anggia yang berkaca-kaca kini mulai meneteskan air mata, pipi Anggia kini mulai basah berulang kali cairan bening itu jatuh.
"Sampai kapan Anggia?" Bilmar menghapus jejak air mata Anggia dengan ibu jarinya, "Sampai kapan aku harus menunggu?" kata Bilmar lagi.
"Aku minta maaf tuan, jika memang anda ingin menikah dengan orang lain silahkan. Aku sungguh belum siap tuan aku baru merasakan yang namanya hidup selama dua bulan ini tuan, dan aku berterimakasi untuk tuan mau menjadi teman baik ku selama ini." Anggia tidak tau mengapa ia masih ragu untuk menerima cinta Bilmar, waktu dua bulan bersama Bilmar sepertinya belum mampu menyempuhkan luka hati yang masih tersisa di hatinya.
"Iya," Bilmar mengangguk mengerti, "Aku mohon Anggia, aku mohon aku ingin menjadi sesuatu yang berati dalam hidup mu, aku pun ingin membangun keluarga kecil ku bersama mu, bersama anak-anak ku," Bilmar sangat berharap Anggia mau menerima cinta.
"Tidak usah memohon tuan, aku hanya wanita yang tidak memiliki kelebihan atau pun sesuatu yang harus di banggakan. Tuan terlalu sempurna untuk wanita seperti aku, tuan tidak pantas bersanding dengan wanita yang tidak berarti seperti aku," Anggia tidak ingin membuat Bilmar tersinggung dengan penolakannya, tapi mau bagaimana lagi ia memang belum mampu untuk hidup berumah tangga lagi sampai ada seorang pria yang benar-bebar bisa membuatnya yakin.
"Baiklah aku akan menunggu sampai kau siap."
Anggia mengangguk dan melepas tangan Bilmar yang memegang lengannya.
"Anggia tidak bisakah kau memberi ku kesempatan aku mohon?"
"Kesempatan yang seperti apa tuan?" Anggia tampaknya bingung dengan apa yang di maksud Bilmar, ia benar-benar tidak mengerti dan sama sekali tidak berpikir dengan hal yang namanya menikah lagi.
"Beri aku waktu, untuk membuktikan aku mencintai mu. Agar kau tau kalau aku benar-benar mencintai mu!"
"Waktu seperti apa?"
"Aku mohon berikan aku waktu tiga bulan ini untuk selalu bersama mu, dan coba buka hati mu untuk bisa menerima ku, jika kau nantinya tetap tidak bisa maka aku akan melepas mu. Pikirkan anak yang saat ini kau kandung." kata Bilmar dari jarak yang cukup jauh dari Anggia.
Anggia menggangguk, "Tiga bulan tuan, dan kalau aku tidak bisa mencintai anda, aku ingin menjalani hidup ku sendiri dan keluar dari rumah ini," jawab Anggia.
"Kau tidak boleh keluar dari rumah ini sampai anak itu lahir," Bilmar mencemas kan kandungan Anggia.
"Baik tuan, saya akan di sini sampai anak ini lahir, setelah itu saya akan pergi," Anggia menyetujui permintaan Bilmar bagaimana pun ia hanya menumpang di rumah orang yang sama sekali tidak ada ikatan persaudaraan dengannya. Mungkin bila orang tidak tau malu ia akan memilih tinggal di sana, tapi Anggia adalah manusia yang memiliki rasa malu dan ia tidak akan mau kalau hanya hidup menumpang dengan orang lain. Apa lagi bila Bilmar menikah tentu saja ia akan segera keluar dari rumah itu.
"Baiklah, tapi aku mohon kau harus berusaha membuka hati mu untuk ku."
"Iya tuan."
Anggia pergi meninggalkan Bilmar yang masih berdiri mematung di belakangnya, sepertinya butuh perjuangan untuk bisa mendapatkan Anggia.
Lalu dengan siapakah akhirnya Anggia, semua masih menjadi misteri kita kembali pada judul ya. Sebab Brian pun sudah keluar dari penjara dan akan merebut Anggia kembali menjadi miliknya. Namun tidak lagi dengan cara yang memaksa tapi dengan perasaan yang tulus mencintai Anggia serta menerima Anggia dengan apa adanya.
*****
Janga lupa VOTE ya