
"Mami apasih," kesal Bilmar, semenjak Anggia sembuh Ratih selalu saja menggodanya bahkan di saat tidak tepat.
"Baksonya enak ya Ngi?"
"Enak tuan," Anggia terus mengunyah bakso di mulutnya tanpa perduli Bilmar dan Ratih, yang melihatnya aneh Bilmar dan Ratih hanya makan dua tusuk saja, sementara Anggia sudah menghabiskan semua baksonya.
"Ngi itu kamu yang makan semua?" tanya Bilmar.
"Hehehe, enak tuan makasih ya," kata Anggia tersenyum pada Bilmar.
Bilmar diam dan hanya menatap Anggia, senyum Anggia sungguh membuat Bilmar menjadi kehilangan akal.
"Lap air liur mu Bil, tahan, ini cobaan," tutur Ratih ia tau Bilmar sangat mengagumi Anggia, bahkan saat melihat senyum Anggia saja ia sudah tidak bisa berkedip.
"Ck," Bilmar menyerah berhadapan dengan Ratih, wanita kesayangannya itu terlalu suka sekali menggodanya.
"Okeh, Mami mau nyusul Papi ajah keluar kota, Mami rindu sama Papi. Lagi pula Bilmar cuti kan? Mami berangkat sama Aran sekarang," tutur Ratih berpamitan pada Anggia dan Bilmar.
"Loh kok Mami pergi?" tanya Bilmar.
"Mami juga mau lihat salon Mami di sana, udah lama Mami nggak kesana," jawab Ratih.
"Oh, ya udah hati-hati Mi."
"Ya Mami juga mau pulang dulu, siapin koper terus Mami langsung berangkat, Mami pergi ya Ngi. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Mami."
"Ya Mi," jawab Anggia.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam," jawab Bilmar dan Anggia bersamaan.
"Caelah, kompak amat," Ratih masih sempat menggoda Bilmar dan Anggia padahal ia sudah siap-siap pergi.
Ratih sebenarnya sengaja pergi meninggalkan Bilmar dan Anggia, ia ingin keduanya lebih dekat dan setelah perceraian Anggia selesai keduanya bisa menikah. Ratih tahu Anggia tidak menyukai Bilmar, sebab ia trauma dengan namanya pernikahan yang terlalu menyakitkan. Dan Ratih ingin memberi waktu untuk Bilmar untuk meluluhkan hati Anggia, membuktikan bahwa tidak semua lelaki itu sama brengseknya, juga tidak semua rumah tangga itu membawa derita nestapa.
"Mau lagi?" tanya Bilmar.
"Emang masih ada?"
Bilmar menggaruk kepala dan menggeleng, "Enggak," jawab Bilmar.
"Jadi kenapa di tawarin lagi?" kesal Anggia.
"Hehehe," Bilmar tertawa renyah, "Kerumah sakit yuk, kan hari ini kamu ada jadwal kontrol," Bilmar tadi pagi sudah di ingatkan Veli jika hari ini Anggia jadwal kontrol.
"Em ya sebentar tuan saya ganti baju dulu."
Anggia pergi kekamarnya, setelah selesai berganti pakaian ia kembali turun dan melihat bilmar juga sudah berganti pakaian.
"Yuk," tutur Bilmar sambil mulai berjalan.
"Huuueeek, huuuueeeek," Anggia tidak sanggup masuk kedalam mobil Bilmar dengan cepat Anggia kembali turun lagi.
Bilmar juga ikut turun lalu mendekari Anggia, "Kenapa?" tanya Bilmar setelah ia memijat tengkuk Anggia.
"Huuuekk," Anggia menutup mulut dengan telapak tangan, "Tuan bau mobilnya saya nggak kuat," tutur Anggia dengan perasaan tidak enak, "Maaf ya tuan tapi saya beneran mual, kalau tuan nggak suka antar saya kita nggak papa kalau nggak usah pergi," Anggia benar-benar takut jika Bilmar tidak suka dengan tingkahnya. Anggia merasa ia hanya orang asing dan tidak ada hak untuk merepotkan Bilmar.
"Ia memang sih saya sangat suka dengan wangi jeruk gitu, tapi kita kan bisa pergi naik motor."
Untung banyak ni kek nya gue.
"Tapi apa nggak ngerepotin tuan."
"Nggak," Bilmar mengeluarkan sepeda motor keluaran terbaru miliknya, yang baru saya ia beli bersamaan dengan Vano, Arman, dan Aran. Keempat pria itu memang pencinta motor.
Bilmar sudah naik keatas motor, "Pakek hlm," Bilmar memasangkan helm untuk Anggia.
"Tuan apa masih lama," Anggia bingung Bilmar memasangkan helm untuknya tapi pria itu malah menatapnya.
"Selesai, yuk naik."
Anggia naik duduk di belakang Bilmar, dengan hitungan detik Bilmar sudah menarik gas di tangan, motor pun mulai berjalan menyusuri jalanan. Sampai akhirnya karena Bilmar terlalu tegang ia malah tak bisa menghindari lubang di jalanan.
"Au, sssssttt, tuan pelan perut saya sakit," Anggia dengan reflek malah memeluk Bilmar.
"Maaf," keringat dingin semakin memenuhi tubuh Bilmar.
Ya ampun nempel bener, masih ingat pas malam itu gede bener.
Kini keduanya sudah sampai di rumah sakit, Anggia turun begitu juga dengan Bilmar. Masih seperti tadi Bilmar melepas helm Anggia.
"Tuan berkeringat? padahalkan nggak panas."
"Kamu aslinya cerewet juga ternyata, pas banget kalau jadi mantu Mami, cocok." Tutur Bilmar dengan reflek.
"Ha," Anggia melongo mendengar ucapan Bilmar, "Tuan ngomong apa?" Anggia melebarka telingga karena keanehan Bilmar.
"Emangnya saya bilang apa?"
"Dokter Anggia," sapa seorang dokter yang baru saja melihatnya di saat ia dan Bilmar sedang bercakap-cakap.
"Dokter Nani," sapa Anggia.
"Apa kabar?"
"Baik."
"Ayo keruangan saya, dokter Veli tadi pagi sudah menghubungi saya perihal jadwal cek kandungan anda. Dan saya sudah menunggu dari tadi pagi," dokter Nani memang sangat ramah kepada semua orang apa lagi pada Anggia dokter junior yang terkenal sangat cerdas.
Anggia masuk bersama dokter Nani begitu juga dengan Bilmar. Dokter Nani tidak bertanya lagi mengapa Anggia datang bersama Bilmar, sebab Veli sudah menjelaskan semua tentang Anggia agar dokter Nani tidak bertanya-tanya dan bingung. Namun itu hanya menjadi rahasia beberapa dokter saja.
"Bagus sekali perkembangannya," kata dokter Nani. Saat melihat janin Anggia di monitor.
Dokter Nani diam dan tersenyum, ia tidak pelu banyak menjelaskan karena Anggia dapat melihat di monitor dan Anggia pasti mengerti.
"Dok apa itu tidak salah," Anggia ingin memastikan apa saat ini ia sedang tidak gila.
Sementara Bilmar hanya duduk di kursi bingung tidak mengerti sedikit pun, "Apa ada masalah?" Bilmar yang sedari tadi diam ikut bertanya, ia juga ingin di jelaskan tapi tampaknya kedua wanita itu tidak mengerti.
"Tidak tuan, hanya saja kemungkinan anak ki......" Anggia menatap dokter Nani, karena ia ragu untuk mengatakan 'anak kita' lagi pula ia takut Bilmar tidak suka.
"Kemungkinan apa?" Bilmar masih menunggu lanjutan ucapan Anggia.
"Kembar tuan," jawab Anggia.
"Kembar?"
"Iya, hanya saja untuk lebih pastinya nanti saat usia kandungan dokter Anggia memasuki empat bulan, sekarang usia kandungannya masih dua bulan penuh," jelas dokter Nani.
"Em iya saya mengerti," jawab Bilmar.
Setelah selesai dengan pemeriksaan, keduanya keluar dari ruang praktek dokter Nani. Bilmar hanya diam saja ia tidak tau harus bagaimana mengekspresikan kebahagiaannya, keduanya menyusuri lorong-lorong rumah sakit tanpa bicara sepatah kata pun.
Anggia bingung dengan perubahan sikap Bilmar, setelah pemeriksaan tadi hanya diam dan tidak bicara. Anggia sekilas melirik wajah Bilmar yang tidak sedih namun tidak juga senang, akhirnya Anggia kembali berpikir jika Bilmar tidak mengingikan bayi itu. Hati Anggia kembali terasa sakit.
"Tuan bisa tolong antar kan saya ke cafe saja, saya ingin kesana." tutur Anggia mungkin sampai di cafe ia akan memutuskan untuk tinggal di sana saja, ia sangat merasa tidak enak harus merepotkan Bilmar.
****
VOTE ya jangan lupa