
Pagi ini Sabrina memutuskan untuk singgah terlebih dahulu ke rumah sederhana milik keluarga Maharani. Dia ingin menjemput Maharani berangkat bareng ke kampus
"Assalamualaikum! sapa Sabrina saat Sabrina sudah tiba di halaman rumah keluarga Maharani.
Ibu Halimah yang mendengar suara salam dari Sabrina, langsung membuka pintu dan mempersilahkan Sabrina masuk.
"Waalaikumsalam! eh Nak Sabrina! ayo masuk Nak."
"Ngak apa apa Bu, Sabrina disini aja. Sabrina hanya menjemput Maharani, agar berangkat bareng ke kampus." ucap Sabrina kepada Ibu Halimah.
Maharani yang sudah mendengar sahabatnya Sabrina ngobrol bersama ibu muslimah ia langsung menghampiri keduanya sembari menenteng tas ransel miliknya.
"Bu, maaf ya. Kami harus segera berangkat ke kampus, takut telat." ucap Sabrina kepada Ibu Halimah yang melihat Maharani sudah datang menghampirinya.
Maharani berpamitan kepada Ibu Halimah seperti biasanya dia selalu mencium tangan kedua orang tuanya sebelum dia berangkat.
"Ayah, Ibu. Maharani pamit duluan ya."
"Iya nak, kalian hati-hati ya. Jangan ngebut-ngebut Sabrina." ujar Ibu Halimah yang dibalas senyuman dari Sabrina.
Sabrina melajukan motor miliknya menuju kampus Gunadarma, setelah berpamitan kepada kedua orang tua Maharani. Beberapa menit kemudian mereka pun tiba di kampus. Sabrina memarkirkan motornya di parkiran kampus. Keduanya pun langsung berjalan menuju ruang kelas.
Semua mahasiswa mahasiswi menatap dua wanita yang berbeda postur tubuh itu. Satu yang bernama Sabrina memiliki body bak gitar Spanyol. Sementara Maharani sudah seperti gentongan sama seperti yang dikatakan oleh Devano sebelumnya. Karena bobot tubuh Maharani mencapai 120 kilo.
Devano menghampiri keduanya. Menatap Sabrina dan Maharani dengan intens. Devano tidak percaya kalau pemilik nilai tertinggi itu merupakan nilai Maharani. Ia menduga ada kesalahan dalam penilaian Dosen. Bahkan ia berniat untuk meminta dosen memeriksa kembali lembar jawaban Maharani.
"Jadi, ini orangnya pemilik nilai tertinggi di kampus ini? kok aku tidak yakin ya. Aku rasa ini ada kesalahan" ucap Devano sambil menatap kedua wanita yang hendak berjalan masuk ke ruang kelas mereka.
Maharani tidak menghiraukannya. Ia justru langsung menarik tangan Sabrina untuk segera meninggalkan pria itu. Dia takut Sabrina tidak dapat menahan emosi yang membuat masalahnya akan semakin panjang.
"Astaga! ini orang sudah mengganggu pagi-pagi seperti ini. Belum lagi sebentar lagi pak Jonas yang masuk kelas pertama
" gumam Maharani di dalam hati. Tetapi untuk saat ini Maharani berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya. Terutama hatinya. Karena ia tahu kalau Pak Jonas yang merupakan dosen yang sering mengejek, bahkan mengolok-oloknya tidak akan berhenti mengejeknya.
Maharani sudah bersiap mendengar ejekan itu. Bahkan ia berusaha untuk menebalkan telinganya.
"Heh!!!" kamu mau ke mana! jangan main tinggal saja." ucap Devano sambil menarik tangan Maharani dengan kasar.
"Maaf ada apa, ya? tanya Maharani ketika melihat ria yang ada di hadapannya menatapnya dengan tatapan nyalang.
"Ada apa! Ada apa! Apa memang benar kamu mendapatkan nilai tertinggi di kelas?
"Memangnya kenapa ya?
"Aku tanya jangan balik bertanya. Tinggal jawab ya atau tidak, kok payah banget sih.
"Aku bukan payah, tapi untuk apa Kakak menanyakan hal itu? kan sudah bisa lihat di mading, atau bila perlu langsung saja bertanya kepada dosen." ucap Maharani sambil langsung menarik tangannya kembali dari genggaman Devano kemudian ia berjalan masuk ke ruang kelasnya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu hidup nyaman di sini. Kamu lihat saja nanti. Jangan sebut namaku Devano Kalau kamu masih tetap betah kuliah di sini ." gumam Devano yang masih dapat didengar oleh Maharani tetapi Maharani memilih untuk diam tak menghiraukannya sama sekali.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN