
"Rani, lebih baik kamu buatkan teman kamu minuman. Siapa tahu dia haus, makanya sampai dia jatuh pingsan."ujar Ibu Halimah kepada Maharani.
Maharani beranjak dari tempat duduknya, sementara orang-orang yang membantu Devano membawa ke rumah Maharani, sudah pergi setelah melihat Devano sadar.
Maharani berlalu ke dapur, lalu membawa segelas teh manis hangat untuk Devano.
"Nih, Kamu minum dulu, Maharani menyuguhkan segelas teh manis hangat untuk Devano.
Devano menatap segelas teh hangat yang dihidangkan oleh Maharani.
"Apa ini higienis?
"Kamu pikir, kalau kamu miskin, kami tidak mengetahui kebersihan? apa setiap orang kaya sepertimu selalu menyepelekan orang lain? bukan hanya orang kaya seperti kamu yang mengetahui kebersihan. Tapi kami juga tahu itu. Mungkin kalau rumah kami ini tidak bersih, sudah banyak sarang laba-laba dan juga sarang tikus. Mengingat situasi rumah kami yang seperti ini"
"Kamu ini bagaimana sih, kalau kamu tidak mau meminumnya tidak apa-apa. Silakan kamu pergi dari sini. Kamu sudah sadar juga kan."ujar Maharani.
Devano terdiam, hari sudah semakin malam dia tidak mengetahui kemana Dia akan pulang. Jika dia pulang ke rumah kedua orang tuanya, maka harga dirinya yang dipertaruhkan. Dia sudah mengatakan kepada kedua orang tuanya, dia mampu hidup tanpa fasilitas yang diberikan oleh Tuan Herlambang.
Pria itu hanya diam saja, perlahan tangannya terulur mengambil gelas yang berisikan teh manis hangat itu. Kemudian perlahan ia menyeruputnya.
"Kamu kenapa sih kok sampai pingsan di halte?"tanya Maharani.
lagi lagi Devano tidak menjawab.
"Begini saja deh, kamu berikan nomor ponsel orang tua kamu, biar kita hubungi. Agar Kamu dijemput ke sini."
"Jangan! teriak Devano
"Kenapa jangan? orang tua kamu harus mengetahui kondisi kamu saat ini. Kami hanya khawatir kamu kenapa-kenapa."ucap Ibu Halimah menimpali pembicaraan Maharani dengan Devano.
"Iya katakan saja Devano,biar saya hubungi langsung."Kini Pak Joko yang angkat bicara.
"Tidak perlu, mereka sudah tidak membutuhkan saya lagi. Aku sudah diusir dari rumah." Devano memberitahu membuat Maharani membulatkan matanya.
"Apa?
"Diusir?
"Kenapa bisa?
"Terus kamu mau tinggal di mana?
Maharani melontarkan pertanyaannya kepada Devano bertubi-tubi.
"Saya juga tidak tahu, Saya hanya ingin mencari pekerjaan dan tempat tinggal. Tapi saya tidak memiliki uang sama sekali. fasilitas yang diberikan ayah saya, semuanya ditarik. Karena saya sudah..... " Devano sengaja tidak melanjutkan ucapannya.
Maharani sudah paham mengapa Tuan Herlambang tega mengusir Devano. Tuan Herlambang pasti sudah melihat video viral dirinya yang saat itu dibully oleh Devano dan teman-temannya.
"Kalau begitu, Kenapa kamu tidak meminta bantuan kepada teman-teman kamu? Kalau kami, sudah pasti tidak bisa membantu kamu. Kamu tahu sendiri kan kondisi keluarga kami bagaimana. Mau tinggal di rumah ini juga untuk sementara waktu tidak mungkin. Karena rumah ini hanya memiliki dua kamar yaitu kamar putri saya dan kamar kami." ucap Pak Joko.
"Apalagi kamu tidak mungkin tinggal di sini. rumah ini sumpek, dan kamu pasti tidak akan nyaman tinggal di sini. lebih baik kamu kembali saja ke rumah kedua orang tua kamu." ujar Pak Joko dan ibu Halimah secara bersamaan.
"Iya, kamu tidak mungkin tinggal di sini. kenapa coba kamu tidak meminta bantuan kepada Gibran atau yang lainnya."
"Aku sudah mencoba meminta bantuan Gibran tapi, Gibran juga justru mendapat hukuman dari kedua orang tuanya. Karena kedua orang tua Gibran juga mengetahui masalah yang saat ini....." Maharani langsung mengangkat tangannya agar pria itu tidak melanjutkan ucapannya.
"Bagaimanapun, tetap saja kami tidak bisa membantu kamu untuk tinggal di sini. Tapi coba kamu tanya Maharani, Siapa tahu di tempat pekerjaannya masih ada lowongan."
Devano berpikir sejenak. "Kalau dikatakan tempat kerjaan Maharani di cafe, Bang Hendra pasti tidak akan menerima Devano bekerja di sana."
"Assalamualaikum! sapa seseorang dari luar sambil mengangkat galon air minum isi ulang.
"Mang, air minumnya saya taruh di mana?
"Langsung naikkan saja Mas, ke dispensernya."ucap Maharani kepada pria yang bekerja menghantar air isi ulang ke rumah mereka.
"Rin, kamu ada tahu orang yang mau kerja di depot saya."tanya pria itu kepada Maharani.
"Memangnya anggota Abang kemarin itu ke mana?"
"Dia sudah pulang kampung. Makanya abang mengantarkan galon ini sendiri ke rumah ini." ucap pria itu.
"Ada sih Bang, Tapi aku tidak tahu dia mau atau tidak."
"Ya sudah, kalau dia mau nanti, suruh jumpai Abang, ya."ucap pria itu sembari langsung berpamitan ketika Maharani sudah memberikan uang air isi ulangnya.
Ketika pria itu sudah meninggalkan rumah itu, Maharani kembali mendekati Devano. "Kenapa tidak bekerja di depot itu aja Nak Devano? untuk sementara waktu apalagi tempat tinggal di sana difasilitasi kok. Makan juga ditanggung, tapi gajinya memang tidak seberapa." ibu Halimah ikut berkomentar.
"Mana mungkin pria songong seperti dia mau bekerja kasar seperti itu, Bu. Dia kan anak manja dan orang kaya, tidak mungkin lah bekerja seperti itu. Ngangkat barang satu kilo dua kilo saja tidak mampu. Apalagi mengangkat galon isi dua belas kilo, bisa keluar nanti perutnya."ejek Maharani
"Aku mau! tiba-tiba pria itu menyetujui kalau dirinya bekerja di depot air minum milik seorang pria yang menghantarkan air isi ulang tadi.
"Ya sudah jumpa di sana, sekalian juga kamu bisa tinggal di situ dan kamu ditanggung makan."Celetuk Maharani dengan Ketus.
***
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Kali ini Sabrina berangkat ke kampus lebih awal. Karena kebetulan saat ini adiknya saat ini sudah diantar oleh ayahnya Sabrina.
Sedangkan Maharani, sudah siap berangkat ke kampus. Dia berjalan kebetulan melewati depot air minum tempat Devano bekerja.
Dia melihat Devano saat ini menyusun galon-galon yang kosong hendak diisi.Devano melirik Maharani sekilas. Kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya.
Maharani tidak ingin berkomentar apa-apa. Dia meninggalkan Devano begitu saja tanpa menyapanya sedikitpun. Setelah tiba di kampus Maharani terkejut. Dia sudah disambut para mahasiswa mahasiswi dan para dosen sudah mengetahui kalau dirinya memenangkan olimpiade itu.
"Welcome back to our campus Maharani. Congratulations on your achievement."ucap beberapa mahasiswa kepada Maharani. Dan salah seorang dari dosen wanita, mengalungkan bunga untuk Maharani. Sekadar mengucapkan selamat kepada Maharani.
Sabrina langsung berhamburan memeluk Maharani. Rina juga tidak mau kalah mereka bertiga saling berpelukan.
Ehemmm... tiba-tiba suara deheman terdengar jelas di telinga ketiga wanita itu. yang membuat atensi ketiganya langsung teralihkan ke suara seorang pria yang berdehem.
"Eh Pak Jonas." ucap Sabrina dan Rina bersamaan sambil nyengir kuda.
"Sudah selesai pelukannya? tanya Pak Jonas kepada kedua wanita itu
"Hehehe.... sudah Pak."
"Maharani, Kamu ikut saya ke ruang dekan."celetuk Pak Jonas dengan ketus.
"Ini dosen Kenapa tiba-tiba ketus lagi sih?" "Padahal saat berada di Jerman dia sudah lembut berbicara." Maharani bermonolog sendiri.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN