Di Bully Karna Obesitas

Di Bully Karna Obesitas
BAB 21. NGINAP DI RUMAH GIBRAN


Saat ini, Devano benar-benar bingung. Dia bingung harus kemana dia melangkah. Ponsel iPhone pembelian Tuan Herlambang juga disita oleh Tuan Herlambang. Membuat Devano saat ini tidak dapat menghubungi teman-temannya.


Hari sudah malam. Devano melangkah dengan gontai. Perutnya sudah sangat lapar, dompet beserta isinya semua juga disita oleh Tuan Herlambang.


Jalan satu-satunya ia harus pergi ke rumah yang ditempati oleh Gibran. Gibran merupakan soulmatenya selama ini semenjak dirinya menginjak bangku kuliah di universitas Gunadarma.


Tok ...


Tok ...


Tok...


Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Gibran.


Gibran beranjak dari tempat tidur yang saat ini Gibran sedang berbaring di atas tempat tidur sambil mengotak-atik ponselnya.


Ceklek! pintu dibuka oleh Gibran. Terlihat asisten rumah tangga yang mengetuk pintu kamar Gibran.


"Ada apa Bi? tanya Gibran kepada sang asisten rumah tangga.


"Anu Tuan,"


"Anu apa Bi? kalau ngomong jelas dong."ucap Gibran sedikit membentak.


"Anu Tuan, Den Devano ada di luar menunggu Tuan."sahut sang asisten rumah tangga gugup.


"Devano? Ada apa Devano malam-malam datang ke sini?


"Saya juga tidak tahu Tuan," ucap sang asisten rumah tangga sambil berpamitan kepada Gibran


Gibran berjalan menuruni anak tangga. Ia menghampiri Devano yang sudah duduk di ruang tamu.


"Tumben malam-malam kamu datang nyamperin aku? Kenapa nggak menghubungi aku dulu baru kamu datang?kan, tidak perlu menunggu seperti ini."


Gibran menatap penampilan Devano yang terlihat acak-acakan. Dia juga melihat tas ransel yang begitu besar di samping Devano.


"Kamu mau kemana? kok kamu membawa tas besar seperti ini? tanya Gibran.


"Pasti kamu sudah mengetahui masalah yang saat ini aku hadapi. Entah siapa yang membuat video kita, saat kita membully Maharani. Sehingga video itu viral di media sosial."


"Terus masalahnya apa? kan tidak ada yang menuntut kamu. Maharani saja tidak menuntut, jadi kamu santai dong."sahut Gibran dengan enteng.


"Masalahnya bukan pada Maharani. Tapi Papa aku telah mengusirku karena melihat video viral itu." Devano memberitahu.


"Jadi ceritanya kamu datang ke sini mau ngapain?


"Boleh nggak aku numpang dulu di sini untuk beberapa hari, sebelum aku mendapatkan tempat tinggal?"tanya Devano kepada Gibran


Gibran menghela nafas panjang. Bagaimanapun Devano itu adalah temannya. Devano sudah banyak membantunya selama ini.


"Kalau untuk beberapa hari kamu boleh tinggal di sini, ada kamar tamu yang bisa kamu tempati. Kebetulan kedua orang tuaku sedang pergi ke luar kota untuk menjalankan bisnis mereka.Tapi aku tidak janji jika kedua orang tuaku sudah kembali, kamu bisa tinggal di sini lagi." ucap Gibran.


"Ya sudah tidak apa-apa, yang penting sementara waktu aku ada tempat tinggal disini, Sebelum aku mendapatkan tempat tinggal."


"Terus rencanamu ke depannya, apa?


"Semua fasilitas yang diberikan papaku ditarik olehnya. Aku bingung harus mau ngapain sekarang." Devano memberitahu kepada Gibran kalau semua fasilitas yang diberikan oleh Tuan Herlambang disita. Membuat Gibran benar-benar terhenyak. Ia tidak menyangka sahabatnya itu mengalami kesulitan saat ini. Karena ulah mereka yang selama ini mendzolimi Maharani.


Lagi-lagi Gibran menghela nafas panjang. "Ya sudah, tidak apa-apa. Sebelum kedua orang tuaku kembali, kamu masih bisa makan tidur di sini. Tapi aku tidak dapat menjanjikan Kamu bisa lama-lama tinggal di sini. Aku minta maaf sebelumnya.


"Ya sudah, kalau begitu lebih baik kamu langsung ke kamar tamu saja. Aku lihat penampilanmu sudah tampak acak-acakan. Kamu mandi dan ganti baju, habis itu kamu makan." ujar Gibran.


Gibran menghantarkan Devano ke kamar tamu. Setelah Devano berada di kamar tamu, Gibran kembali ke ruang tamu sambil menghidupkan televisi.


"Ada-ada saja si Devano. Menyusahkan aku saja. Tapi ya sudahlah, untuk beberapa hari ini dia bisa menginap di sini. Selanjutnya Kalau Papa dan Mama datang, aku pasti memintanya untuk pindah dari sini." gumam Gibran di dalam hati.


Gibran kemudian mengirimkan pesan Whatsapp di grup persahabatan mereka. Membuat teman-teman Devano dan Gibran pun terhenyak.


Sementara di tempat lain, Erwin yang sudah Memviralkan video itu, tersenyum bahagia. Apalagi setelah mengetahui kalau saat ini Devano diusir oleh orang tuanya dari rumah. Dan fasilitas yang diberikan oleh kedua orang tuanya kepadanya ditarik. Membuat Erwin tersenyum puas.


"Kita lihat saja nanti Bagaimana kehidupanmu tanpa fasilitas kedua orang tuamu. Kamu terlalu sepele kepada orang lain selama ini, apalagi terhadap Maharani. Kamu selalu memandang rendah orang lain. Kamu tidak mengetahui bagaimana sulitnya kehidupan di luar sana. Saat ini kamu harus merasakan bagaimana kejamnya hidup di ibukota tanpa fasilitas dari kedua orang tua kamu."Erwin bergumam.


"Aku harap setelah ini Devano berubah dan tidak semena-mena terhadap orang lain. Ini pelajaran baginya."


***


Devano yang telah usai membersihkan diri di kamar mandi, dan sudah mengganti pakaiannya. Dia langsung menghampiri Gibran di ruang tamu.


"Kamu tahu nggak siapa yang memvideokan kita saat berada di Cafe tempat Maharani bekerja? Aku ingin sekali memberikan pelajaran kepada orang itu.


"Kalau aku tahu pasti aku sudah duluan yang memberikan pelajaran kepadanya. Tapi masalahnya setelah aku cek ternyata akunnya bodong."


"Aku yakin yang melakukan ini menaruh dendam kepada kita. Atau jangan-jangan Sabrina?


"Ah, tidak mungkin Sabrina pelakunya. walaupun Sabrina membenci kita, dia tidak akan setega itu."Gibran membela Sabrina.


"Kok tiba-tiba kamu membela wanita itu? tanya Devano.


"Aku bukan membela Sabrina, tapi kita lihat dari sehari-hari sikap dan tingkah lakunya tidak jauh beda dari Maharani. Dia wanita yang baik sebenarnya."Puji Gibran yang mampu membuat Devano mengerutkan keningnya.


"Jangan jangan kamu mencintai Sabrina.'


"Ah, kamu ada-ada saja. Mana mungkin aku menyukai Sabrina, secara dia musuh bebuyutan kita."


"Aku tidak habis pikir, Apa mungkin pemilik cafe yang memvideokan itu?


"Tidak mungkin, secara Bang Hendra juga datang melerai kita. Sementara di video itu juga Bang Hendra tersorot."


"Terus siapa, dong?


"Itulah yang menjadi tugas kita mencari siapa pelaku penyebar video itu, yang merusak reputasi kamu dan reputasi kita semua."


"Sebenarnya sih bukan perekam video itu yang merusak reputasi kita, tapi kita sendiri yang merusaknya. Karena kita yang sudah berbuat onar ."sahut Gibran.


"Kok kamu jadi ngomong seperti itu?


"Ya, memang itulah kenyataannya. Sebenarnya Maharani itu tidak punya kesalahan kepada kita. Tetapi karena bobot tubuhnya saja yang di atas rata-rata, membuat kita mengolok-olok dan mengejeknya. Bahkan kita merasa malu satu kampus dengannya. Padahal dia sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan. Salahnya dia hanya memiliki postur tubuh yang tidak indah dipandang mata.


"Kamu kok jadi aneh begini, ya?" Devano heran melihat sahabatnya yang tiba-tiba saja menyadari kalau perbuatan mereka selama ini salah.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN