
Keesokan harinya setelah Pak Jonas memberikan amplop, pemberitahuan kalau Maharani tetap mendapatkan beasiswa dan dapat melanjutkan pendidikannya di kampus Gunadarma, Maharani merasa bahagia Ia pun melakukan aktivitasnya dengan semangat.
"Ayah, Ibu, Rani pamit ya." ucap Maharani kepada kedua orang tuanya.
"Rani, Maaf ya kalau kamu harus susah payah bekerja untuk mencari uang kuliah kamu saat ini. Ibu minta maaf tidak dapat melakukan apa-apa. Kamu tahu sendiri Ayah kamu juga tidak dapat bekerja. Ibu juga hanya bisa menjadi buruh cuci di rumah tetangga. Untuk biaya makan kita sehari-hari pun kamu sudah mengetahui bagaimana." ucap Ibu Halimah dengan nada suara yang sendu.
"Ibu tidak perlu khawatir. Maharani tetap mendapatkan beasiswa kok. Lak Jonas yang mengurusnya langsung, ketika keluarga Tuan Herlambang menghentikan beasiswa itu. Jadi sekarang Maharani tetap mendapatkan beasiswa."Maharani memberitahu kepada Ibu Halimah.
"Alhamdulillah, kalau begitu nak. mudah-mudahan kamu cepat dapat lulus dengan nilai yang bagus juga."Ibu Halimah mengelus pundak putrinya. Setelah memberi salam kepada Pak Joko dan ibu Halimah Maharani berlalu meninggalkan rumah yang selama ini mereka tempati.
Seperti biasa, Maharani jika pergi ke kampus Dia selalu berjalan kaki. Walaupun jaraknya lumayan jauh. Baginya berjalan kaki itu sudah biasa. Ia juga ingin sekalian berolahraga untuk menurunkan bobot tubuhnya. Ya, untuk akhir-akhir ini Maharani sudah dapat menurunkan bobot tubuhnya setelah berkonsultasi dengan dokter Dirga.
Dokter Dirga yang membantu Maharani dalam proses penurunan berat badannya. Kendati demikian, Maharani juga rajin berolahraga bahkan akhir-akhir ini dia sering senam aerobik.
setelah melakukan perjalanan kurang lebih empat puluh menit dengan berjalan kaki, akhirnya Maharani tiba di kampus. Dari kejauhan Pak Jonas sudah memperhatikan Maharani masuk ke gerbang kampus dengan berjalan kaki.
"Apakah memang Maharani selalu setiap pergi ke kampus itu berjalan kaki?"gumam Jonas di dalam hati. Sambil terus memperhatikan langkah Maharani sampai masuk ke area kampus.
Kini Dewi Sudah jarang untuk mengejek dan mengolok-olok Maharani. Apalagi setelah belakangan ini ia melihat Jonas tidak lagi mengejek bahkan mengolok-oloknya.
Apalagi setelah Dewi beberapa kali kepergok mencontek oleh dosen membuat namanya menjadi dikenal tukang contek di kampus. Membuat Dewi pun tidak mampu berkutik lagi, setiap dia salah bicara orang-orang langsung mengejeknya itu tukang **** alias ilmu tilik.
****
"Ran, kamu magang di mana? tanya Sabrina ketika Sabrina sudah tiba di kelas.
"Entahlah, aku juga masih bingung. Kalau kamu magang dimana? tanya Maharani kembali kepada Sabrina.
"Aku juga belum tahu, rencananya aku ingin bertanya kepada Pak Jonas. Karena setahuku perusahaan keluarga Pak Jonas sangatlah besar. Jadi tidak ada salahnya kita meminta tolong kepada Pak Jonas. Siapa tahu kita dapat magang di perusahaan keluarganya."ucap Sabrina
Maharani menghela nafas panjang. Dia ingin sekali Magang di perusahaan milik Tuan Herlambang yang saat ini sedang mengalami kerugian yang cukup besar. Bahkan Tuan Herlambang saat ini terlilit hutang,akibat ulah orang-orang yang ia percayakan selama ini membantu Tuan Herlambang menjalankan perusahaan miliknya.
"Sepertinya aku tidak memilih magang di perusahaan keluarga Pak Jonas. Rencananya kalau bisa aku ingin magang di perusahaan milik Tuan Herlambang yang saat ini mengalami kerugian. Aku ingin mengetahui apa penyebab perusahaan Tuan Herlambang saat ini mengalami kerugian yang sangat besar."Maharani memiliki misi yang sangat luar biasa ia ingin menyelidiki Apa yang sebenarnya terjadi.
Hari ini rencananya Maharani akan berkunjung ke perusahaan milik Tuan Herlambang. " Rin,boleh nggak kamu nganterin aku ke perusahaan milik Tuan Herlambang sekarang?
"Kamu serius memilih magang di sana?"tanya Sabrina yang tidak percaya begitu saja.
"Iya, aku memilih untuk magang di sana. Karena bagaimanapun aku bisa kuliah di sini karena perusahaan Tuan Herlambang, walaupun beasiswa yang diberikan oleh Tuan Herlambang hanya lebih dari satu tahun saja. dan itu aku tahu kalau itu bukan keinginan Tuan Herlambang sendiri." sahut Maharani
"Ya sudah, kalau begitu kamu akan saya antar langsung ke sana." Sabrina dan Maharani berlalu dari ruang kelas. Mereka menuju parkiran di mana motor matic milik Sabrina terparkir.
Sabrina memberikan helm yang satunya kepada Maharani.lalu Maharani mengenakannya setelah merasa nyaman duduk di jok belakang. Maharani meminta kepada Sabrina untuk segera melajukan motornya ke arah jalan raya menuju perusahaan milik Tuan Herlambang.
"Ada perlu apa iya Mbak?" tanya seorang wanita berparas cantik itu.
"Saya Maharani mahasiswa dari universitas Gunadarma. Saya ingin mengadakan magang di kantor ini. Apakah saya bisa bertemu dengan HRD?"tanya Maharani kemudian wanita berparas cantik itu menghubungi sang HRD Apakah dia dapat ditemui hari ini.
Setelah mendapat izin, barulah sang resepsionis mempersilahkan Maharani dan Sabrina masuk ke ruang HRD yang berada di lantai tiga
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga sang HRD.
"Masuk!!! teriak seorang pria dari dalam ruangan.
"Ceklek!! pintu terbuka lebar. lalu Maharani dan Sabrina masuk ke ruangan HRD itu.
Sang HRD mempersilahkan Maharani dan Sabrina duduk di depan meja kerjanya. Tentunya setelah Maharani dan Sabrina memberi salam dan memperkenalkan diri. "Ada yang bisa saya bantu?"tanya sang HRD kepada Maharani. Lalu Maharani pun menjelaskan maksud dan tujuannya menemui HRD di perusahaan milik Tuan Herlambang.
Sang HRD pun akhirnya menyetujui, kalau Maharani dan Sabrina magang di perusahaan milik Tuan Herlambang.
"Terima kasih Pak. Karena sudah memberikan kesempatan kepada kami untuk menimba ilmu di kantor ini." ucap Maharani sembari memberi salam kepada sang HRD.
"Sama-sama. Jadi mulai besok kalian sudah bisa mulai bagang di kantor ini dan tolong kerjasamanya ." ucap sang HRD kepada Sabrina dan Maharani yang langsung dibalas anggukan dari kedua mahasiswa itu.
Maharani dan Sabrina pun meninggalkan kantor itu. Mereka berniat ingin menemui dokter Dirga. Karena hari ini merupakan jadwal Maharani konsultasi kepada dokter Dirga, yang selama ini membantu dirinya menurunkan bobot tubuh Maharani.
"Aku yakin, pasti ada seorang penghianat di kantor itu, sehingga perusahaan milik Tuan Herlambang mengalami kerugian yang sangat besar. Aku tidak akan tinggal diam aku akan menyelidikinya." gumam Maharani di dalam hati. Karena dia ingin membalas Budi baik apa yang sudah diberikan oleh Tuan Herlambang kepada Maharani dan keluarganya.
Maharani memiliki misi. Di samping ingin menimba ilmu di perusahaan milik Tuan Herlambang, dia juga ingin menyelidiki Apa yang sebenarnya terjadi di kantor itu. Sehingga perusahaan-perusahaan yang selama ini menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan milik Tuan Herlambang memilih untuk memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan Tuan Herlambang.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN