Di Bully Karna Obesitas

Di Bully Karna Obesitas
BAB 24. DI USIR LAGI


Ketika kedua pemuda itu sudah masuk ke dalam kamar, tampak Nyonya Selena menaruh curiga kepada Gibran dan Devano. Karena penasaran, Nyonya Selena berniat untuk menyelidiki kedua pemuda itu.


"Pa, aku yakin kalau Putra kita berbohong."ucap Nyonya Selena kepada Tuan Wijaya.


"Maksud Mama apa, sih?


"Mama tidak yakin kalau Gibran dan Devano mengerjakan tugas kelompok. Mama yakin mereka pasti menyembunyikan sesuatu."Mama curiga kepada mereka.


"Ma, jangan suudzon, kita tidak boleh berpikir negatif kepada Putra kita. Siapa tahu memang benar kalau Putra kita itu memang ada tugas dari kampus."


"Tidak Pa, Mama tidak yakin kalau mereka mengerjakan tugas kelompok. Kalau memang iya, tidak mungkin hanya mereka berdua saja."Nyonya Selena berkomentar.


"Ya sudahlah, Ma. Ini sudah malam, lebih baik Mama istirahat." ujar Tuan Wijaya kemudian Tuan Wijaya mengajak Nyonya Selena masuk ke dalam kamar.


Keesokan paginya, Nyonya Selena bangun lebih awal. Ia sudah mendengar kedua pemuda itu sudah terbangun. Padahal dalam sejarah putranya itu belum pernah bangun pagi-pagi sekali seperti ini.


Tanpa disengaja Nyonya salena Mendengar pembicaraan kedua pemuda itu. Yang ternyata Devano telah usir karna terlibat masalah video viral. Nyonya Selena dan Tuan Wijaya tidak mengetahuinya. Nyonya Selena mengetahui ketika ia mendengar pembicaraan antara Devano dan juga Gibran.


Hal itu membuat Nyonya Selena emosi, Kemudian ia langsung kembali masuk ke dalam kamar meraih ponselnya untuk melihat video viral yang dimaksud oleh putranya itu.


Alangkah terkejutnya Nyonya Selena melihat video itu yang dibanjiri berbagai komentar yang menghujat Devano dan putranya juga. Hal itu membuat Nyonya Selena mengepalkan tangannya. Sudah tidak sabar ingin memberikan pelajaran kepada putranya.


Nyonya Selena membangunkan Tuan Wijaya yang saat ini masih tertidur pulas


"Pa, bangun! ada sesuatu masalah yang sebenarnya tidak kita ketahui." ucap Nyonya Selena yang akhir-akhir ini jarang sekali membuka akun sosial media. Berhubung karena nyonya Selena dan Tuan Wijaya sedang sibuk mengurus bisnis mereka. Apalagi beberapa minggu belakangan ini Tuan Wijaya dan Nyonya Selena banyak menghabiskan waktu di luar kota.


"Ada apa sih, Ma. kok berisik banget? gerutu Tuan Wijaya.


"Apa Mama bilang! pasti ada yang mereka sembunyikan! lihat ini." ujar Nyonya Selena sambil menunjukkan video kepada Tuan Wijaya. Tuan Wijaya yang yang belum sepenuhnya sadar, ia berusaha duduk bersandar di dashboard. Kemudian ia mengucek kedua matanya, agar ia dapat melihat video itu dengan jelas.


Tuan Wijaya membulatkan matanya ketika dirinya melihat video itu yang sudah dibanjiri ratusan ribu komentar. Banyak menghujat Devano dan juga Gibran. Hal itu membuat Wijaya tidak kalah emosi seperti Nyonya Selena.


Tuan Wijaya bangkit dari tempat tidur, berusaha untuk menenangkan emosinya. Dia pun masuk ke kamar mandi, kemudian ia langsung membersihkan diri. Sementara Nyonya Selena mempersiapkan pakaian sang suami.


Kemudian pasangan suami istri itu berjalan masuk ke ruang makan. Mereka sudah melihat Devano dan Gibran di sana menunggu nyonya Selena dan Tuan Wijaya.


Tuan Wijaya dan nyonya Selena berusaha untuk menahan amarah. Rencananya mereka akan mengintrogasi putranya setelah sarapan pagi Telah usai.


Gibran mengerutkan keningnya. Bingung Mengapa tiba-tiba Papanya mengajak mereka ngobrol bersama di ruang tamu. Tapi tidak ada sedikitpun rasa curiga di hati Gibran, kalau Tuan Wijaya sudah mengetahui video viral yang melibatkan Gibran, putra dari Tuan Wijaya dan juga Devano putra dari Tuan Herlambang.


Kedua pemuda itu berjalan mengikuti Tuan Wijaya dan nyonya Selena. Nyonya Selena duduk di samping suaminya. Sementara Tuan Wijaya sudah menatap Devano dan Gibran dengan tatapan nyalang.


Membuat kedua pemuda itu sedikit khawatir kalau mereka akan dimarahi habis-habisan oleh Tuan Wijaya. "Jelaskan kepada Papa, apa yang kalian lakukan selama kalian kuliah di universitas Gunadarma?"tanya Tuan Wijaya berusaha untuk tenang bertanya kepada kedua pemuda yang ada di hadapannya.


Kedua pemuda itu pun hanya menundukkan kepala. Tidak berani menatap Tuan Wijaya sama sekali.


"Ayo, jawab! kenapa kalian hanya diam saja?" aku tidak meminta kalian untuk menundukkan kepala dan diam saja. Aku meminta kalian untuk menjawab pertanyaanku."ucap Tuan Wijaya dengan nada suara yang semakin meninggi. Hal itu membuat Devano dan Gibran merasa ketakutan.


"Pertanyaan macam apa ini, pak? kami pasti belajar dong di universitas Gunadarma."ucap Gibran pura-pura tidak mengetahui masalah video viral itu.


"Kalau memang kalian belajar dengan sungguh-sungguh di kampus, Terus kenapa kalian bisa membully anak perempuan orang lain? Apa itu yang diajarkan di kampus? apa Mama dan Papa pernah mengajarimu untuk membully orang lain! Jujur Papa kecewa kepada kamu Gibran, Papa tidak suka akan tindakanmu ini.


"Maaf Om, Tante, semua ini bukan salah Gibran tapi salah Devano.


"Iya, kami tahu itu adalah idemu. Tapi kami menyalahkan Putra kami, karena dia mengikuti ide gila mu itu. Jadi mulai sekarang Papa dan Mama tidak ingin melihat kalian bersama lagi. Untuk kamu Devano! lebih baik kamu pergi dari rumah ini. Om tidak menyukai kamu bergaul dengan Putra Om. Karena kamu membawa aura negatif kepada Putra Om. Jujur Om sangat kecewa kepada kamu. Tapi yang lebih kecewanya lagi, Om lebih kecewa kepada Gibran yang mau saja mengikuti ide-ide yang jelek dari kamu."kata-kata pahit itu yang keluar dari Tuan Wijaya membuat Devano tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, selain hanya meminta maaf.


"Maaf Om.x ucap pria itu.


"Tidak ada artinya maaf lagi, semuanya sudah terlanjur. Nama baik keluarga ini dipertaruhkan gara-gara ulah kalian ini. sekarang cepatlah pergi dari sini Devano." Amarah Nyonya Selena memuncak ketika membayangkan video viral itu dilihat oleh teman-teman sosialitanya, maka Nyonya Selena tidak akan memiliki wajah lagi bertemu dengan teman-temannya.


"Perlakuan kamu memang sudah sangat keterlaluan. Papa tidak bisa mengampuninya kali ini. Jadi untuk itu, mulai saat ini kamu pergi ke kampus menggunakan sepeda motor. Mobil, dan kartu kredit kamu Papa tahan dulu."ucap Tuan Wijaya sambil menarik kunci mobil dan juga meminta kepada Gibran kartu kredit yang sudah diberikan oleh Tuan Wijaya. Tuan Wijaya hanya memberikan uang jajan cash sebesar lima puluh ribu per harinya kepada Gibran. Sebelum Gibran benar-benar berubah.


"Tapi Pak bagaimana Gibran pergi ke kampus hanya bermodalkan lima puluh ribu saja setiap hari Pa! uang minyak motor saja kurang.


"Memangnya sejauh apa kampus Kamu dari rumah ini? Papa rasa sepuluh ribu saja pun lebih, kalau sudah pulang balik. ucap Tuan Wijaya. Kembali memperhitungkan uang saku yang diberikannya kepada putranya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN