
Pak Susilo memasuki ruang kelas. Dia langsung membagikan kertas soal yang ada di tangannya. "Kali ini kita mengadakan ujian dadakan, Bapak harap semuanya tidak ada yang. Kalau ada yang ketahuan mencontek saya akan tidak segan-segan memberinya nilai E dan tidak akan lulus mata kuliah saya." ancam Pak Susilo yang mampu membuat mahasiswa mahasiswa pucat pasi.
Apalagi persiapan mereka tidak ada, membuat para mahasiswa mahasiswa sontak tegang. Ketika pak Susilo sudah selesai membagi soal-soal dan para mahasiswa-mahasiswa sudah membaca soal-soal yang diberikan oleh Pak Susilo.
"Astaga, soalnya ngeri-ngeri banget!" Celetuk salah seorang mahasiswa yang satu kelas dengan Maharani. Karena ia merasa tidak mampu menjawab soal yang diberikan Pak Susilo.
Perlahan Maharani membaca soal-soal itu. kali ini Maharani benar-benar terhenyak. ketika pulpen yang ada di atas mejanya sudah tidak ada lagi. Membuat Maharani sedikit gelisah. Dan itu tidak luput dari perhatian dari Pak Susilo. Padahal waktu sudah berlalu sepuluh menit.
"Kamu kenapa Maharani? tanya Pak Susilo dengan suara bariton nya. Karena dia mengetahui Maharani pasti bisa menjawab soal-soal yang diberikan.
"Maaf Pak, pulpen saya tiba-tiba hilang." sahut Maharani.
"Memangnya kamu tidak membawa pulpen dari rumah?
"Saya bawa Pak. Baru saja masih memakainya sebelum bapak bagi soal-soal ujian." sahut Maharani jujur.
"CK..... Kamu ini gimana sih? ujian tidak memiliki pulpen." sahut Pak Susilo sambil berjalan menghampiri Maharani. Kemudian Pak Susilo memberikan pulpennya yang ada di saku kemejanya.
"Ya sudah, kerjakan soal-soal kamu. Kalau sudah selesai langsung antar ke meja saya."ujar Pak Susilo sambil langsung memberikan pulpen miliknya kepada Maharani.
"Terima kasih Pak." Sahut Maharani sambil mengembangkan senyumnya. Kemudian Ia pun langsung mengerjakan soal-soal yang diberikan Pak Susilo kepadanya.
"Satu jam sudah berlalu, waktu yang diberikan oleh Pak Susilo tinggal lima menit lagi. Maharani beranjak dari tempat duduknya, menghantarkan lembar jawaban kemeja kerja Pak Susilo. Tak Berapa lama Sabrina juga melakukan hal yang sama. Semua mahasiswa kembali tegang. Apalagi yang belum selesai mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh Pak Susilo.
Mahasiswa termasuk Dewi, juga merasa tegang apalagi Dewi masih banyak soal yang belum ia jawab. Ingin mencontek takut kejadian yang sudah pernah terjadi menimpanya. "Gimana ini?"gumamnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sabrina menyadari hal itu. Membuat Sabrina langsung terkekeh melihat ke arah Dewi yang saat ini benar-benar sudah sangat tegang.
"Makanya jangan pacaran melulu. Kuliah aja dulu yang benar, baru pacaran." ejek Sabrina saat melihat Dewi sangat kesal. Dia tahu wanita itu tidak akan mampu menjawab pertanyaan yang ada di lembar soal.
"Sombong banget kamu! lihat saja nanti aku akan memberikan pelajaran yang berarti buat kamu." ucap Dewi kepada Sabrina.
"He hehe ..... lakukan aja semampu kamu. Kamu pikir ada baking lagi disini? Tapi sayangnya Devano sudah tidak ada di kampus Ini lagi." ujar Sabrina dengan nada sedikit berbisik. Karena takut Pak Susilo mendengarnya.
Sedangkan Tuan Herlambang dan nyonya murni sudah membawa Devano ke Amerika untuk mendapatkan pengobatan yang lebih canggih di sana. Agar Devano cepat dapat pulih kembali.
Tuan Herlambang juga, ingin melanjutkan kuliah Devano di Amerika saja. Sambil menjalani pengobatan di sana, Devano juga melanjutkan pendidikannya di Amerika. Tentunya setelah Tuan Herlambang mengurus surat perpindahan dari universitas Gunadarma.
Sejujurnya Maharani menyayangkan hal itu. Tapi itu sudah menjadi keputusan orang tua Devano. Maharani tidak dapat berbuat banyak. Dia hanya dapat berdoa agar Devano dapat kembali pulih seperti semula.
Apalagi Devano merasa malu kuliah kembali di universitas Gunadarma. Karena kondisi fisik Devano saat ini sudah tidak seperti dulu lagi. Sehingga Devano pun setuju saja dengan usulan kedua orang tuanya.
"Ran, Apa benar Devano saat ini sudah di Amerika dan dia melanjutkan pendidikannya di sana?"tanya Rina dan Sabrina bersamaan.
"Iya, Om Herlambang dan tante Murni yang memberitahu kepadaku kalau Devano, Mereka bawa ke Amerika untuk menjalani pengobatan yang lebih canggih di sana. Di samping itu juga, Devano akan melanjutkan pendidikannya di sana.
"Berarti Devano tidak akan kuliah di kampus ini dong."ucap Sabrina.
"Ya iyalah, mana mungkin dia kuliah di kampus Ini lagi, secara kan Devano saat ini sudah berada di Amerika."sahut Maharani.
"Apa kamu tidak ada niatan menghalanginya? tanya Sabrina kepada Rina selaku mantan kekasih Devano.
"Kamu ini bagaimana sih, aku mana bisa menghalangi keinginan orang tuanya. Lagian di antara kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." sedangkan noh si Dewi saja sudah tidak peduli.
"Kalau si Dewi mah, nggak perlu dipertanyakan. Dia kan butuh uang Devano saja. Buktinya saat Devano mengalami kesulitan, dia sama sekali tidak mau bantu bahkan ngak peduli. Devano di rumah sakit saja dia tidak datang menjenguknya. Kekasih macam apa coba? berarti dia selama ini hanya menginginkan uang Devano saja. Bukan mencintainya dengan tulus. Tapi Devano saja yang bodoh, mau memiliki kekasih seperti wanita ondel-ondel seperti itu."ucap Sabrina menahan rasa kesalnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN