Di Bully Karna Obesitas

Di Bully Karna Obesitas
BAB 20. PERINGKAT PERTAMA


"Apa kamu tahu Sabrina, seperti yang kamu ketahui sebelumnya aku sudah pernah memberitahu kepada kamu. Aku dapat kuliah di kampus Gunadarma karena aku mendapatkan beasiswa. Aku memiliki kecerdasan seperti yang kamu katakan sebelumnya. Tapi kalau tidak ada seseorang yang bersedia memberikan beasiswa kepadaku, maka aku pasti tidak akan bisa kuliah di universitas Gunadarma,"


"Aku kuliah di universitas Gunadarma, itu karena Tuan Herlambang Anggara. Ayah kandung Devano pengusaha kaya raya di negara ini. Sebenarnya Tuan Herlambang tidak pernah membenarkan Apa yang dilakukan oleh Devano. Tapi Tuan Herlambang terlalu sibuk dengan bisnis yang selama ini ia kelola. Dan juga Nyonya Murni yang selalu sibuk dengan urusan pribadinya. membuat Devano merasa kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya,"


"Sehingga, dia mencoba melakukan hal-hal yang di luar dugaan orang-orang, agar dirinya mendapat perhatian. Itu yang aku tangkap dari diri Devano." ucap Maharani membuat Sabrina mengerutkan keningnya.


"Kenapa kamu seyakin itu, Maharani?


"Iya, aku yakin. Devano sebenarnya lelaki yang baik. Tapi besar, dia tumbuh kurang mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibu kandungnya, yang saat ini masih sehat dan dapat memberikan kasih sayang sepenuhnya untuknya. Tapi itu tidak didapatkannya.


"Karena apa?


Karena kesibukan kedua orang tuanya? Selama ini pasti Devano hanya dirawat oleh Baby sitter atau asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama mereka."ucap Maharani memberitahu kepada Sabrina membuat Sabrina mengangguk paham.


"Astaga! kamu memang sahabatku paling the best dan sangat luar biasa." Puji Sabrina sambil memeluk sahabatnya.


****


Beberapa hari kemudian, Sabrina yang sudah mendapat restu dari kedua orang tuanya untuk berangkat ke negara Eropa mengikuti studi banding, sekaligus olimpiade. Maharani berangkat bersama dua orang dosen termasuk Pak Susilo dan juga Pak Jonas yang menemani Maharani mengikuti studi banding itu.


Sabrina melepas kepergian sahabatnya. Dia langsung menghantarkan ke bandara. Sementara Pak Joko dan ibu Halimah tidak dapat mengantarkan Maharani ke bandara, karena kondisi kesehatan Pak Joko saat ini belum memungkinkan untuk bepergian.


"Bapak percaya dengan kemampuan kamu Maharani! ucap sang dekan kepada Maharani sembari memberi salam kepada Maharani dan memeluknya. Maharani dan kedua dosen dan satu orang mahasiswa yang menemani Maharani studi banding ke Eropa sudah berada di bandara dan bersiap untuk berangkat.


Di dalam hati Maharani, dia bertekad berusaha untuk mengangkat derajatnya dan derajat keluarganya dengan ia menunjukkan kepada orang-orang kemampuan dan kecerdasan yang ia miliki. Berharap dia dapat mengharumkan nama kampus di Eropa.


****


Beberapa hari berada di negara Eropa, mengikuti studi banding yang diikuti oleh beberapa kampus dari berbagai negara. Nyali Maharani sama sekali tidak menciut, walaupun melihat mahasiswa mahasiswi yang mengikuti studi banding tersebut memiliki postur tubuh rata-rata yang ideal dan cantik.


Tapi dia berusaha untuk tenang mengingat nasehat Pak Joko dan ibu Halimah berdoa sebelum melakukan aktivitasnya. Memohon petunjuk dari Allah SWT sebelum menjawab segala pertanyaan dan juga berkomentar pada saat studi banding dilakukan.


Semua para dosen dan mahasiswa mahasiswi yang ada di sana bertepuk tangan ketika mendengar jawaban dan penjabaran yang diberikan oleh Maharani, jawaban dan penjabaran Maharani begitu detail. Ketika beberapa dosen dan juga mahasiswa memberikan pertanyaan kepada Maharani.


Pak Jonas saja yang selama ini tidak menyukai Maharani, dia benar-benar tidak menyangka kalau Maharani mampu menjawab pertanyaan yang sulit dan bahkan mampu menjabarkannya. Pak Jonas saja selaku dosen mungkin jika dipertanyakan kepadanya, dia tidak akan mampu menjawabnya. Tetapi Maharani mampu menjawab dan menjabarkannya.


Nama kampus Gunadarma semakin dikenal di negara Eropa. Karena Maharani mahasiswa yang cerdas dan dia mendapatkan peringkat pertama dalam mengikuti olimpiade tersebut.


Pak Susilo yang mendengar pengumuman itu, langsung memeluk Maharani. " Kamu Memang benar-benar luar biasa. Bapak tidak salah memilih dan mengajukan kamu untuk mengikuti studi banding ini. Karena Bapak yakin dan percaya akan kemampuan kamu miliki" Ucap pak Susilo kembali memberikan pelukan kepada Maharani


"Selamat ya, Maharani kamu mendapat peringkat pertama di olimpiade ini dan kamu sudah mengharumkan nama kampus kita." ucap Pak Jonas sambil memberi salam kepada Maharani.


Maharani meneteskan air matanya. "Terima kasih Pak, atas kepercayaannya kepada saya."


"Maafkan saya yang selalu mengejek dan mengolok-olok kamu."Pak Jonas meminta maaf kepada Maharani.


"Tidak apa-apa Pak, mungkin Jika Bapak tidak mengolok-olok dan mengejek Maharani, Maharani tidak akan lebih giat lagi belajar dan mampu mengikuti olimpiade ini, hingga saya menginjakkan kaki ke negara Eropa ini. itu satu baku cambuk untuk Maharani."ucap Maharani sembari menyeka air matanya.


"Sudah ngapain kamu sedih, jangan menangis. Kamu sudah membuat Bapak bangga." Pak Susilo menghapus air mata Maharani.


"Saya menangis bukan karena sedih Pak, tapi saya bahagia." sahut Maharani sambil berusaha mengembangkan senyumnya.


Untuk merayakan kemenangan Maharani, Pak Susilo Pak Jonas dan mahasiswa satu orang mahasiswa yang menemani Maharani untuk mengikuti studi banding itu, merayakannya dengan makan-makan di sebuah restoran mewah.


Saat mereka menikmati makan malam bersama, sebuah panggilan telepon seluler di ponsel milik Pak Susilo terdengar jelas di telinganya. Yang tak lain dan tak bukan adalah nomor ponsel sang Dekan yang terpampang nyata di layar ponselnya.;


Pak Susilo mengembangkan senyumnya.


"Pasti sang Dekan sudah melihat pemberitaan di media sosial dan juga televisi, kalau Maharani selaku perwakilan dari universitas Gunadarma yang mendapatkan peringkat pertama dalam studi banding dan juga olimpiade yang diikuti dari berbagai negara. Membuat sang Dekan berniat langsung menghubungi pak Susilo selaku salah satu dosen yang ia utus menemani Maharani untuk memastikan berita tersebut.


Pak Susilo langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada sang dekan.


Pertanyaan demi pertanyaan pun dilontarkan oleh sang Dekan setelah bertegur sapa terlebih dahulu dan menanyakan kabar kepada Pak Susilo. Dan Pak Susilo membenarkan berita yang berada di sosial media dan juga layar televisi, membuat sang Dekan benar-benar bangga telah mengutus Maharani.


"Siapa yang menghubungi pak?" tanya Pak Jonas kepada Pak Susilo saat Pak Susilo sudah memutuskan sambungan telepon selulernya.


"Dekan, untuk memastikan benar tidaknya pemberitaan di media sosial kalau kampus kita memenangkan olimpiade ini." Pak Susilo memberitahu.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN