Di Bully Karna Obesitas

Di Bully Karna Obesitas
BAB 33. EJEKAN BAGAI VITAMIN


Nyonya murni keluar kembali dari ruang ICU Dimana Devano saat ini berada. Kini Nyonya murni kembali menghampiri Tuan Herlambang yang saat ini masih setia menunggu nyonya Murni dan Devano di luar.


Tuan Herlambang sudah berbicara kepada tim medis mengenai kondisi Devano saat ini. Sejujurnya dengan berat hati dokter memberitahu hal yang sebenarnya. Untuk posisi luka yang dimiliki Devano di bagian kepala sedikit kemungkinan Devano dapat pulih kembali.


Nyonya Murni kembali menyalahkan Tuan Herlambang atas kecelakaan yang menimpa Putra mereka. Padahal Tuan Herlambang hanya ingin melakukan yang terbaik kepada putranya. Agar putarannya lebih mandiri dan tidak hanya mengharapkan fasilitas dari kedua orang tuanya. Yang diinginkan Tuan Herlambang hanyalah sederhana.


Dia berharap agar Devano kuliah dengan baik dan lulus tepat waktu. Tuan Herlambang hanya ingin putranya tidak semena-mena terhadap orang lain.


***


Pak Jonas yang sudah mendapatkan kabar tentang kondisi kesehatan Devano, membuat Pak Jonas benar-benar terhenyak. Dia pun berniat untuk menjenguk Devano di rumah sakit.


Hari itu juga Pak Jonas pergi ke rumah sakit untuk melihat mahasiswanya. Ketika pak Jonas melihat kondisi Devano saat ini, Pak Jonas benar-benar tidak menyangka kalau dalam waktu yang singkat mahasiswanya mengalami hal yang begitu tragis.


Sedangkan Maharani yang baru pulang dari kampus kali ini tidak langsung pulang ke rumah. Dia berniat untuk menjenguk Devano terlebih dahulu. Maharani berpamitan kepada Sabrina kalau dirinya tidak dapat mengejar les adiknya hari ini. Sabrina pun memahami situasi Maharani. Dia pun akhirnya mengizinkannya bahkan langsung menghantarkan Maharani ke rumah sakit.


Setelah tiba di rumah sakit, Maharani langsung berjalan menuju ruang ISU. dia mengetahui kalau Devano masih ada di sana. Maharani menghampiri Nyonya Murni dan Tuan Herlambang. Mencoba meminta izin agar Maharani diizinkan masuk melihat kondisi Putra mereka. Tuan Herlambang menganjurkan agar Maharani meminta izin kepada tim medis.


Setelah bernegoisasi dengan dokter, akhirnya Maharani diizinkan masuk bertemu dengan Devano. Saat sudah berada di ruang ICU, Maharani menghampiri Devano.


"Hai Devano, apa kabar? Aku harap kau baik-baik saja. Aku tidak apa-apa kau bully terus, asalkan kau sadar kembali. Ayolah, aku tahu kamu lelaki yang kuat. Kamu bukan lelaki pecundang. jika aku bisa memohon, Tolong kembalilah. Aku rindu ejekan kamu. yang mengatai aku gentongan ataupun kerbau,"


Ejekan kamu itu sudah seperti vitamin bagiku. Jadi aku harap kamu kembali. Jangan pernah mengecewakan orang-orang yang menyayangimu. Maharani mengelus wajah Devano. Beberapa menit sudah berlalu Maharani berada di ruang ICU itu. Tapi Devano belum juga sadarkan diri.


"Aku pamit Devano, aku mohon bertahanlah. jangan buat kecewa Om dan Tante. Karena mereka sangat menyayangimu. Banyak orang-orang yang sayang kepadamu." ucap Maharani kembali mengelus wajah pucat Devano. Perlahan ia melangkah meninggalkan Devano. Berat rasanya meninggalkan ruangan itu.


****


Satu bulan sudah berlalu, kini Devano sudah menunjukkan perkembangan dan dia sudah sadar dari komanya. Nyonya murni pun terus berusaha menenangkan putranya. Yang saat ini merasa dirinya tidak berdaya. Karena bagian kakinya mengalami patah tulang.


Nyonya murni juga memberikan semangat kepada putranya. Kalau perkembangan zaman sekarang dan alat yang canggih dapat menyembuhkan kaki Devano kembali seperti sedia kala. Saat ini di bagian kaki Devano dipasang pen, untuk dapat kembali memperbaiki kakinya yang mengalami patah tulang.


Sedangkan teman-teman satu geng dengannya sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Devano. Pertemuan mereka terakhir kali saat mereka melihat kondisi Devano di ruang ICU. Semenjak itu, Gibran dan kedua temannya tidak pernah lagi melihat kondisi Devano.


Berbeda dengan Maharani, dia tiap hari setia menjenguk Devano. Walaupun dia hanya sebentar saja. Dan dia bersyukur Devano dapat sadar kembali.


"Maharani!!! teriak Pak Jonas saat melihat Maharani baru tiba di kampus.


"Ada apa ya, pak? tumben Bapak Memanggil nama saya."ucap Maharani membuat Pak Jonas menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Oh, itu tidak masalah Pak. Bagi saya itu sudah vitamin."sahut Maharani sambil tersenyum.


"Astaga, hati kamu terbuat apa sih, bisa-bisanya kamu masih tersenyum walaupun banyak orang yang mengatai kamu."


"Terus saya harus apa, Pak? saya harus nangis gitu? kalau saya nangis, orang-orang pasti akan menertawakan saya. Jadi saya harus kuat. Apalagi dari kecil, ibu dan ayah saya sudah mendidik saya menjadi wanita yang kuat."kata-kata yang keluar dari mulut Maharani menjadi baku cambuk kepada Pak Jonas. Yang selama ini selalu mengejek dan mengolok-olok Maharani.


Pak Jonas memberitahu kepada Maharani kalau orang tua Devano sudah mengambil surat pindah Devano karena Devano akan pindah ke Amerika. Sejujurnya Maharani sudah mengetahui akan hal itu karena tuan Herlambang memberitahunya. Maharani tidak menyangka kalau Tuan Herlambang akan secepat itu mengirimkan Devano ke Amerika.


"Iya Pak. Saya juga sudah mengetahui akan hal itu. Tapi saya tidak mengetahui kalau Tuan Herlambang akan secepat ini mengirimkan Devano ke Amerika." sahut Maharani. Kemudian Maharani berpamitan kepada Pak Jonas.


"Maaf Pak, saya harus segera masuk kelas takut telat " pamit Maharani sambil langsung berjalan meninggalkan Pak Jonas begitu saja. Maharani berjalan menuju ruang kelasnya.


Sepanjang mata kuliah berlangsung. Maharani berusaha untuk konsentrasi. Tapi entah mengapa, bayangan Devano masih terngiang di kepalanya. Dia merasa sedih karena Devano harus meninggalkan kampus Gunadarma. Entah mengapa, wanita yang sering dipanggil kentongan oleh Devano itu, merasa kehilangan.


Perasaannya hari-harinya di kampus, terasa sepi karena tidak akan ada lagi yang menjahilinya. Saat itu banyak orang yang menjahilinya, karena Devano merupakan salah satu mahasiswa idola di kampus.


"Kamu kenapa Maharani?"


"Aku nggak apa-apa, kepalaku hanya sedikit pusing saja.


"Kalau begitu lebih baik kamu istirahat saja dulu di UKK."ujar Sabrina.


"Nggak apa-apa, aku masih bisa kok kamu tenang saja." sahut Maharani sambil memijat pelipisnya.


Pak Susilo memasuki ruang kelas. dia langsung membagikan kertas soal yang ada di tangannya. "Kali ini kita mengadakan ujian dadakan, Bapak harap semuanya tidak ada yang. Kalau ada yang ketahuan mencontek saya akan tidak segan-segan memberinya nilai E dan tidak akan lulus mata kuliah saya." ancam Pak Susilo yang mampu membuat mahasiswa mahasiswa pucat pasi.


Apalagi persiapan mereka tidak ada, membuat para mahasiswa mahasiswa sontak tegang. Ketika pak Susilo sudah selesai membagi soal-soal dan para mahasiswa-mahasiswa sudah membaca soal-soal yang diberikan oleh Pak Susilo.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN