Di Bully Karna Obesitas

Di Bully Karna Obesitas
BAB 25. MAHARANI KEMBALI


Setelah mendapat ultimatum dari Tuan Wijaya. Gibran tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Kedua pemuda itu saling berpandangan. "Tunggu apalagi Devano! silakan pergi dari rumah ini!" pekik Nyonya Selena karena nyonya Selena berpikir kalau Devano itu membawa pengaruh buruk terhadap putranya.


Gibran bangkit dari tempat duduknya. Dia mengikuti Devano yang sudah berdiri dan terlebih dahulu berjalan memasuki kamar yang ditempati oleh Devano, selama berada di rumah utama keluarga Wijaya. Kemudian Devano keluar dengan membawa tas ransel miliknya.


Tuan Wijaya dan nyonya Selena geleng-geleng kepala melihat kedua pemuda itu. Kini Devano meninggalkan rumah utama keluarga Wijaya, setelah memberi salam kepada Tuan Wijaya dan Nyonya Selena.


Devano berjalan dengan gontai, sementara Gibran berniat menyusul.


"Gibran!! kamu mau ke mana?" teriak Nyonya Selena geram melihat putranya


Gibran terdiam. Ia hanya menatap sahabatnya melangkah menjauh keluar dari rumah utama keluarga Wijaya. Saat ini Devano benar-benar bingung. Dia tidak tahu harus melangkah ke mana.


Uang di sakunya juga sudah tidak ada. dompet. Dan semua fasilitas sudah disita oleh Tuan Herlambang Anggara.


"Malang benar sih nasibku." gumamnya. Dia berjalan membawa kesedihannya. Sampai dia merasa lelah, dan akhirnya duduk di sebuah halte.


"Ya ampun, Aku tidak menyangka aku bisa hidup seperti ini. Punya orang tua benar-benar tidak punya akhlak, tega sekali menghukum putranya seperti ini. Lihat saja, aku akan buktikan. Aku bisa berhasil tanpa Papa dan Mama."kembali Devano bermonolog sendiri.


Sementara di tempat lain. Maharani dan kedua dosennya sudah tiba di bandara. rencananya Pak Susilo dan Pak Jonas akan segera menghantarkan Maharani sampai ke rumah sederhana yang ditempati oleh kedua orang tua Maharani.


"Kita langsung ke rumah Maharani saja!"ujar Pak Susilo ketika mereka sudah duduk dengan nyaman di dalam mobil yang siap menghantarkan mereka ke tempat tinggal masing-masing.


Mobil yang menjemput Mereka pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan bandara. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih empat puluh menit membelah jalanan ibukota, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Maharani dan dosennya tiba di sebuah gang kecil.


"Maaf Pak. Mobilnya berhenti di sini saja. kebetulan rumah saya berada di dalam gang sempit. Jadi mobil ini tidak bisa sampai ke sana."Maharani memberitahu.


Akhirnya Maharani keluar lebih dulu dari dalam mobil. Diikuti oleh Pak Jonas, Pak Susilo dan satu mahasiswa teman Maharani mengikuti studi banding dan olimpiade.


Saat mereka sudah tubuh tiba di sebuah rumah berdinding papan dan berlantai semen itu, yang ukurannya tidak terlalu besar, Maharani menghentikan langkahnya.


"Pak ini rumah kami."Maharani memberitahu sambil langsung mengucap salam kepada Ayah dan ibunya.


Di tangan Maharani sudah menenteng dua buah paper bag. Sementara Pak Susilo dan Pak Jonas menyeret koper milik Maharani.


"Assalamualaikum! Ayah, ibu!" teriak Maharani dari pintu depan. Pak Joko yang biasanya tidur di ruang tamu, ia berusaha duduk dari pembaringannya. Sementara Ibu Halimah yang baru menyelesaikan sholatnya, bangkit berdiri dia masih menggunakan telekung.


Ibu Halimah keluar dari kamar. "Waalaikumsalam." sahut Ibu Halimah seketika Ibu Halimah sudah keluar dari kamar.


Ibu Halimah terhenyak melihat putrinya sudah tiba di rumah. Ibu Halimah langsung memeluk Maharani. Ibu Halimah menangis sejadi-jadinya karena dirinya sangat merindukan putrinya. Setelah selesai berpelukan dengan ibu Halimah, Maharani beralih kepada ayahnya Pak Joko yang saat ini tidak bisa bergerak lebih leluasa.


Maharani memeluk Pak Joko.Dia meluapkan rasa rindunya kepada kedua orang tuanya. Karena terlalu asik meluapkan rasa rindu, sehingga mereka pun hampir lupa mempersilakan Pak Susilo dan Pak Jonas masuk dan duduk di kursi rotan yang Sudah usang itu.


"Eh, Maaf Pak. Saya sampai lupa. Maklum sangking rindunya kepada Maharani." Ibu Halimah mempersilahkan Pak Susilo, Pak Joko dan teman Maharani. Mereka pun duduk di kursi rotan yang sudah terlihat usang itu.


Kemudian ibu Halimah masuk kembali ke dalam kamar, sambil membuka telekung yang ia gunakan. Kemudian ia berlalu ke dapur untuk sekedar membuatkan minuman untuk disuguhkan kepada tamu yang datang ke rumah sederhana milik mereka.


"Maaf Pak, hanya ini yang bisa kami suguhkan. Silakan diminum." ucap Ibu Halimah ketika ibu Halimah sudah meletakkan beberapa cangkir kopi dan cemilan di atas meja. Sementara Maharani masih asik ngobrol bersama Pak Joko. Maharani melontarkan beberapa pertanyaan kepada Pak Joko mengenai kondisi dan perkembangan kesehatan Pak Joko saat ini.


Ketika kedua dosen itu memberitahu prestasi yang disertai oleh Putri mereka. Ibu Halimah bersujud syukur dia benar-benar tidak menyangka putrinya itu membawa kabar baik.


"Alhamdulillah ya, Allah."


"Alhamdulillah ya, Allah." beberapa kali Ibu Halimah mengucapkan Alhamdulillah ketika mendengar prestasi yang diraih putrinya." Kemudian Maharani pun memberikan buah tangan yang ia bawa dari Jerman kepada ayah dan ibunya. Tampaknya Pak Joko dan ibu Halimah benar-benar bahagia menerima buah tangan yang di bawa putri mereka.


Setelah ngobrol panjang lebar dengan kedua orang tua Maharani, Pak Jonas, Pak Susilo dan Bambang selaku mahasiswa yang ikut mendampingi Maharani, berpamitan pulang kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing.


Tetapi esok harinya mereka akan kembali ke kampus untuk penyerahan piala dan sertifikat ke kampus, yang mereka dapatkan selama berada di Jerman.


"Nduk, Ayah tidak menyangka kamu benar-benar bisa membuat Ayah bangga. kamu harus bersyukur Nduk, atas apa yang kamu raih saat ini. Tapi kamu jangan sombong. Kamu harus tetap rendah hati, dan jangan pernah merasa kamu itu sudah benar-benar di atas Awan. Kamu tingkatan ya Nduk prestasi kamu." Ucap pak Joko sambil mengelus rambut putrinya.


"Insya Allah, Ayah. Maharani akan tetap mengingat nasehat ayah."ucap Maharani sambil mengembangkan senyumnya.


Setelah beristirahat sebentar. Maharani melupakan sesuatu, dia harus kembali keluar, pergi ke salah satu supermarket untuk membeli perlengkapan mandinya yang tertinggal di mobil.


"Ayah, Ibu, aku pamit sebentar mau pergi beli perlengkapan mandi Maharani. Rani lupa kalau perlengkapan mandi Rani tertinggal di mobil itu tadi." ucap Maharani.


"Ya udah Nduk, nggak apa-apa. Kamu hati-hati ya, Nduk."


Maharani pun berlalu meninggalkan kedua orang tuanya. Dia berjalan hendak pergi ke supermarket.


Saat dia berjalan, netranya melihat seseorang yang tak asing sedang duduk di sebuah Halte. "Astagfirullah, Apakah itu beneran Devano? Ah, tidak mungkin. Mana mungkin Devano."Maharani menefis dugaannya.


Karena penasaran, akhirnya Maharani kembali berjalan mendekat ke arah seorang pemuda yang duduk di halte sambil di sampingnya ada tas ransel besar.


"Devano! Pekik Maharani


"Kamu!"Devano tidak kalah terkejut melihat sosok Maharani di sana.


"Kok kamu bisa ada di sini?"Maharani bertanya


Devano tidak langsung menjawab, dia memilih diam malu jika ia memberitahu. Bahkan pria itu berniat ingin langsung meninggalkan Maharani. Tetapi Rani langsung menahannya.


"Kamu kenapa seperti ini? apa kamu lagi ada masalah?" tanya Maharani dengan lembut. lagi lagi Devano tidak menjawab.


"Awas tangan kotor kamu! aku tidak sudi dipegang oleh kamu." ucap Devano sambil menepis tangan Maharani.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN