
Gibran mencoba mencari tahu siapa yang merekam video saat mereka berada di cafe. karena dia yakin, pasti yang melakukan itu pasti mengenal Gibran dan juga Devano.
"Aku yakin pasti salah satu mahasiswa Di kampus Ini yang menyebarkan video itu. Mungkin saja dia tidak menyukai Devano atau saya. Aku harus mencari tahu dan memintanya untuk segera menghapus video itu.
Tetapi sepertinya, dari sekian banyak mahasiswa mahasiswi yang ada di kampus itu, mereka hanya tertawa ketika melihat video viral itu. Bahkan mereka merasa senang, Maharani dipermalukan.
"Gibran, ke kantin yuk."ajak salah satu mahasiswa yang kebetulan satu dengan Devano.
"Malas, perut aku masih kenyang."sahut Gibran padahal dirinya sebenarnya juga sedang menahan lapar. Tapi karena uang saku yang diberikan oleh kedua orang tuanya terbatas, membuat dia pun harus lebih berhemat.
Yang herannya lagi, Gibran biasanya mengendarai roda empat ke kampus, Kini dia mengendarai roda dua.
Hari ini jam mata kuliah Telah usai. Devano hari ini tidak masuk ke kampus, berhubung karena baru hari ini mulai dia bekerja di depot air minum.
Saat sudah tiba di parkiran, para mahasiswa mahasiswi yang biasa dekat dengan Devano dan Gibran terhenyak. Melihat Gibran saat ini mengendarai sepeda motor Supra milik kedua orang tuanya.
Sedangkan mobil mewah yang biasa ya gunakan pergi ke kampus, disita oleh Tuan Tuan Wijaya dan nyonya Selena. Begitu juga motor CBR miliknya yang biasa ia gunakan saat healing bersama dengan teman-temannya.
"Ini beneran kamu, Gibran? tanya Carlos kepada Gibran. Karna ia terhenyak melihat sosok Gibran menaiki motor Supra yang selama ini merasa kenal, kalau Gibran itu selalu glamor bersama dengan Devano.
Para mahasiswa mahasiswi Di kampus juga mengetahui, kedua pria itu merupakan anak dari pengusaha kaya raya ternama di negara ini.
Gibran tidak menjawab. Tapi, kembali Carlos bertanya kepada Gibran.
"Oh iya, Devano kemana? Kok nggak ngampus hari ini?
"Mungkin dia ada urusan."
"Tapi tidak biasanya, Devano tidak memberi kabar. Bahkan di grup Whatsapp juga dia sama sekali Tidak berkomentar apa-apa."
"Mungkin dia sedang sibuk, atau sedang berpergian ke luar negeri."jawab Gibran berbohong. Dia tidak ingin orang-orang yang ada di kampus mengetahui kalau Devano saat ini sedang dihukum oleh kedua orang tuanya sampai dirinya diusir dari rumah.
Sementara Maharani, Sabrina dan Rina. ketiga wanita ini berjalan menuju kantin kampus. Padahal mata kuliah mereka telah usai. rencananya setelah selesai menyantap menu makanan yang ada di kantin itu. Untuk merayakan keberhasilan, mereka akan pergi ke mall. Kali ini Rina yang akan mentraktir mereka sepuasnya.
"Begini saja, Maharani naik mobil kamu saja. aku mengikuti kalian dari belakang."ujar Sabrina kepada Maharani dan juga Rina. Mereka akhirnya sepakat berangkat ke mall untuk menghabiskan waktu mereka bersama.
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah utama keluarga Herlambang. Nyonya Murni memohon kepada suaminya, agar mencari keberadaan Devano saat ini. Nyonya Murni sangat merindukan putranya itu. Dia takut putranya kenapa-kenapa. Apalagi sudah beberapa hari Devano tidak kembali ke rumah.
Nyonya Murni mencoba menghubungi Gibran. tapi Gibran juga mengakui kalau dirinya tidak mengetahui keberadaan Devano saat ini. membuat Nyonya murni pun semakin khawatir.
"Ini semua karena ulah papa, lihatlah entah apa yang terjadi kepada Putra kita. Ingatlah, untuk apa harta kita ini kalau tidak dihabiskan oleh Putra kita."Nyonya Murni kembali memohon kepada sang suami.
Lagi lagi Tuan Herlambang menolak keinginan istrinya, membuat nyonya Murni menjadi kesal.
"Kalau terjadi sesuatu kepada Putra kita, Aku tidak akan memaafkan kamu Mas."
Nyonya Murni meninggalkan Tuan Herlambang Anggara di ruang tamu. Dan langsung masuk ke dalam kamar sembari menutup pintu kamar dengan kasar.
Tuan Herlambang menggelengkan kepala melihat sikap keras kepala Nyonya Murni.
***
Kamu makan dulu, kalau kamu capek lebih baik kamu Langsung istirahat. Jangan dipaksakan, lebih baik kamu istirahat sebelum ada orderan." ujar pemilik depot air minum itu kepada Devano.
Pikiran Devano tidak terpusat bekerja. Dia juga tidak ingin mata kuliahnya tertinggal. sehingga Devano berusaha untuk segera menyelesaikan tugas. Rencananya ia akan menemui Gibran. Untuk meminta catatan mata kuliah hari ini.
Setelah pekerjaan Devano Telah usai, Devano berpamitan kepada pemilik depot.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN