
Pagi ini Devano lebih awal berangkat ke kantor. Berniat ingin menjemput Maharani untuk berangkat bersama ke kantor. Tetapi yang di jemput sudah lebih dulu berangkat.
Ada rasa kecewa di hati Devano, tapi walaupun begitu, Devano saat itu juga langsung melajukan mobilnya ke arah kantor Herlambang Company. Berharap dia bertemu dengan Maharani di sana.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit, Devano tiba di kantor Herlambang company dan dia langsung memarkirkan mobilnya di parkiran kantor.
Dengan langkah terburu-buru, Devano memasuki kantor.
"Pagi Pak! Sapa seorang wanita cantik yang bekerja sebagai resepsionis di kantor itu.
Devano hanya menganggukkan kepala lalu ia terus berjalan menuju ruang kerjanya. saat Devano tiba di ruang kerjanya, dia melihat gerak ruang kerja Maharani. Tapi sepertinya Maharani belum ada di sana.
"Kalau Maharani tidak ada di ruang kerjanya saat ini, terus Maharani ke mana? bukankah Pak Joko mengatakan kalau Maharani sudah berangkat lebih awal?"gumam Devano di dalam hati sembari terus memperhatikan ruang kerja Maharani.
Karena tidak ingin dilanda penasaran, akhirnya Devano keluar dari ruang kerjanya. "Raffi, di mana Maharani? apa dari tadi pagi belum ada sampai ke kantor?"tanya Devano kepada Raffi yang kebetulan ruang kerja Raffi berdekatan dengan Maharani.
"Sejak tadi pagi Sepertinya saya yang lebih dulu diberi kantor ini pak. Tapi Sejak itu saya belum melihat Maharani berada di kantor."ucap salah satu staf yang bernama Rafi itu kepada Devano. Membuat Devano semakin bingung.
"Kemana Maharani? gumamnya dalam hati sembari berjalan kembali ke ruang kerjanya. Devano tidak langsung duduk di kursi kerajaannya. Dia berdiri melihat ke lantai bawah melalui kaca nako ruang kerjanya. dari sana terlihat jelas lalu-lalang mobil memasuki area perkantoran Herlambang company.
Tampak satu unit mobil yang terasa tidak asing bagi Devano memasuki area kantor. tapi yang pasti mobil itu tidak ada milik salah satu karyawan atau staf yang ada di kantornya.
Devano memperhatikan siapa sosok yang turun dari mobil itu. "Mobil siapa itu? sepertinya mobil itu tidak asing bagiku."gumamnya sembari terus memperhatikan satu unit mobil Pajero sport berwarna hitam.
Alangkah terhenyak nya Devano, ketika seorang pria turun dari dalam mobil. "Pak Jonas, ngapain dia ke kantor ini? tanya Devano dalam hati sebelum dirinya melihat Maharani keluar dari mobil Jonas.
Jonas membuka pintu samping kemudi, Maharani pun keluar dari sana dan ia mengembangkan senyumnya ke arah Jonas. "Maharani! Oh ternyata Maharani pergi lebih awal bersama Pak Jonas?"gumam Devano dengan kesal tangannya mulai mengepal sempurna.
"Terimakasih ya Pak, sudah repot-repot mengantarkan saya."
"Tidak perlu berterima kasih, seharusnya saya yang berterima kasih kepadamu. Karena kamu sudah bersedia menemani saya sarapan pagi."
"Ah bapak bisa saja, Saya justru berterima kasih karena sudah ditraktir sarapan pagi."Maharani terkekeh.
"Ya sudah kamu masuk gih, nanti takutnya kamu terlambat."
"Sekali lagi terima kasih ya Pak, hati-hati jangan ngebut-ngebut."ujar Maharani sambil melambaikan tangannya ketika melihat Jonas sudah masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya.
Ketika mobil yang sudah dikendarai oleh Jonas berlalu dari hadapannya, Maharani membalikkan tubuhnya berniat ingin memasuki ruang kerjanya. Ia benar-benar terhenyak, dia tidak menyadari kalau Devano sudah berada di belakangnya, dan menatapnya dengan tatapan horor.
"Oh, Ternyata saya jemput tadi pagi ke rumah. sudah lebih dulu pak dosen menjemput kamu. Aku sangat mengkhawatirkanmu takut terjadi sesuatu kepada kamu, karena kamu tak kunjung sampai di kantor padahal kata kedua orang tua kamu kamu sudah lebih awal berangkat ke kantor. Eh taunya yang dikhawatirkan malah tertawa cekikikan."gerutu Devano sambil berjalan kembali masuk ke ruang kerjanya.
"Tidak apa-apa! lupakan saja!" ucap Devano dengan nada sewot.
"Tapi Pak!"
"Sudah, cukup! tidak perlu kamu jelaskan apa-apa, karena saya tidak memiliki hak marah kepada kamu mau jalan sama siapa dan mau pergi sama siapa. Hanya saja saya yang terlalu mengkhawatirkan."setelah mengatakan itu Devano langsung meninggalkan Maharani dan masuk ke ruang kerjanya.
Maharani masih bingung dengan sikap anak bosnya itu. Dia benar-benar tidak mengetahui Mengapa sepertinya Devano tidak menyukai dirinya dihantar oleh Pak Jonas yang merupakan mantan dari dosen Maharani.
"Ah terserah kamu aja, orang aku nggak salah apa-apa kok."gumam Maharani sembari langsung duduk di kursi kerjanya. Kemudian ia langsung mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai salah satu staf di perusahaan Herlambang company.
Sementara Devano, dia tidak konsentrasi mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai CEO perusahaan pengganti dari tuan Herlambang. Entah mengapa bayang-bayang Maharani yang turun di ratukan oleh Jonas membuat dirinya tidak dapat konsentrasi.
"Apa Pak Jonas dan Maharani memiliki hubungan khusus? apa mereka sudah pacaran ya? Ada apa denganku, Mengapa aku sepertinya tidak rela kalau Maharani dekat dengan Pak Jonas? bukankah itu hak Maharani mau dekat sama siapa aja? tapi kenapa aku sekolah tidak terima?"pertanyaan demi pertanyaan timbul di hati Devano.
Dia belum mengetahui apa yang ada di dalam isi hatinya. Entah dia mencintai Maharani atau tidak, Devano belum paham akan perasaannya terhadap Maharani. Tapi yang pasti sepertinya Devano tidak terima, jika Maharani dekat dengan seorang pria. termasuk Pak Jonas yang merupakan mantan dosennya itu
Sementara di tempat lain, Sabrina menghampiri Maharani yang baru tiba di ruang kerjanya. Ternyata Sabrina memperhatikan gerak-gerik Devano, ketika melihat Maharani bersama dengan Jonas turun dari dalam mobil yang sama.
"Sepertinya ada yang jealous melihat kamu jalan dengan Pak Jonas."Celetuk Sabrina yang tiba-tiba sudah duduk di meja kerja Maharani.
"Maksud kamu apa sih, Siapa yang jealous kalau aku jalan dengan Pak Jonas? mungkin kalau aku punya kekasih sah-sah saja apa yang kamu katakan. Tapi masalahnya, Aku belum punya kekasih. Tapi entah Kalau Pak Jonas sudah punya kekasih atau tidak, Aku sama sekali tidak mengetahuinya.
Sabrina mengembangkan senyumnya. "Kamu nyadar nggak sih, Kalau Pak Jonas sepertinya memiliki perasaan terhadap. Begitu juga dengan Devano, tampaknya mereka bersaing untuk mendapatkan."
"Kamu ini ada-ada saja, mana mungkin kedua lelaki yang sangat membenciku itu akan memiliki perasaan terhadapku. Yaa bisa aja sih, tapi sepertinya rasa benci."ucap Maharani Sambil tertawa cengengesan.
"Enggak loh Ran, Aku serius. Sepertinya Pak Jonas dan Devano mencintai wanita yang sama yaitu kamu."sahut Sabrina
"Sudahlah nggak usah ngadi-ngadi, lebih baik kamu sekarang kembali bekerja. Sebelum Bos semprot kita."ucap Maharani sambil langsung mengotak-atik laptopnya.
Jari-jari lentiknya dengan lincah mengetik sesuatu di sana. Sabrina yang melihat Maharani tampak sibuk, ia pun akhirnya kembali ke kursi kerjanya. Dan memulai aktivitasnya seperti biasa.
Bersambung...
sambil menunggu karya ini update kembali, mampir juga ke karya baru Morata. ceritanya seru kok. Tapi Morata mohon, Tolong baca setiap babnya ya. Karena itu berpengaruh besar untuk kelangsungan karya-karya Morata.
Terima kasih...