Di Bully Karna Obesitas

Di Bully Karna Obesitas
BAB 35. KESAMBET


Satu tahun pasca kejadian itu terjadi, seperti biasa Maharani selalu melakukan aktivitasnya. Setiap hari dia rajin berolahraga, sesuai dengan anjuran dokter Dirga. yang merupakan sepupu dari Rina.


Dokter Dirga hanya membantu Maharani untuk konsultasi mengenai bobot tubuhnya yang berkembang begitu signifikan ketika dia duduk di bangku SMP.


Saat ini Maharani sudah berhasil menurunkan bobot tubuhnya sekitar dua puluh kilo. Hal itu membuat Maharani benar-benar semakin membulatkan tekadnya untuk tetap menjalankan diet, sesuai dengan anjuran dokter Dirga. Di samping itu, dia juga meminum obat penurun berat badan yang natural.


"Hai.....kamu sudah kurusan sekarang ya."Puji Sabrina kepada Maharani.


"Serius?


"Memangnya kelihatan, ya?"


"Iya, aku serius! mana mungkin aku berbohong kepada sahabat baikku."sahut Sabrina sambil terkekeh keduanya pun berjalan memasuki ruang kelas.


Tiba-tiba panggilan dari seorang dosen yang mengalihkan atensi kedua wanita itu. "Maharani temui saya di ruangan saya."ujar Pak Jonas kepada Maharani. Maharani mengerutkan keningnya. Kenapa tiba-tiba dosen yang selama ini sangat membencinya itu, tiba-tiba memanggilnya ke ruangannya.


"Ada apa ya? Kok tumben Pak jones memanggilku ke ruang kerjanya?


"Kesambet setan kali! sahut Sabrina asal


"Kamu ini, Gimana kalau Pak Jonas mendengarnya!"


"Biarin aja! Siapa suruh dia suka sekali mengejek mahasiswa-mahasiswi."sahut Sabrina menunjukkan kekesalannya terhadap Pak Jonas.


"Ya udah, kamu duluan masuk ke kelas aja deh. Aku ke ruangan Pak Jonas dulu. Doakan ya, agar aku tidak mendapat ejekan lagi dari dosen Crazy Man itu ."


"Aku selalu berdoa yang terbaik untukmu sobatku my honey bunny sweety ku."ucap Sabrina Sambil tertawa ngakak.


Maharani menggelengkan kepala. Jujur Maharani merasa bahagia memiliki sahabat yang begitu baik kepadanya seperti Sabrina dan juga Rina.


Maharani berjalan menuju ruang dosen. saat sudah tiba di ruang dosen, Maharani mengetuk pintu ruangan itu.


Tok...


Tok...


Tok...


"Masuk!!! teriak seorang pemuda dari dalam ruang kerjanya.


Ceklek


Sekali hentakan pintu terbuka lebar. Maharani berjalan menghampiri Jonas."Maaf Pak Ada apa ya Bapak memanggil saya ke ruang kerja bapak?"tanya Maharani sedikit gugup.


"Silakan duduk!"titah Jonas kepada Maharani.


Maharani mendudukkan bokongnya di kursi depan meja kerja jones. Kemudian Jonas terus berkutat di laptopnya dan membiarkan Maharani duduk di seberang meja kerjanya.


"Ehemm ... Maaf Pak, kalau saya hanya duduk dan diam saja di sini untuk apa saya berada di sini. Lebih baik saya langsung masuk ke ruang kelas saja."ucap Maharani.


Jonas hanya melirik Maharani sekilas. kemudian ia melanjutkan aktivitasnya kembali berkutat di laptopnya. Membuat Maharani sedikit gelisah duduk di hadapan sang dosen.


"Pak! kembali Maharani memanggil Jonas.


"Hummm!


"Pak, saya masuk ke kelas saja, ya. Kalau tidak ada yang perlu Bapak bicarakan kepada saya. Atau ada yang bisa Maharani bantu?" tanya Maharani kepada Jonas. Sambil langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Siapa yang memintamu pergi?! suara bariton itu kembali terdengar menggelegar seisi ruangan.


Maharani kembali mendudukkan bokongnya. "Kalau tidak ada yang mau dibicarakan atau ada yang saya bantu, ya Lebih baik saya masuk ke ruang kelas mengikuti mata kuliah. daripada saya bengong Nggak ada artinya di sini."sahut Maharani.


Jonas bangkit dari tempat duduknya. kemudian duduk di sofa yang berada di ruang kerjanya. "Silakan duduk!"titah Jonas mempersilahkan Maharani duduk di sofa. Maharani menurut. Iya pun duduk tepat di hadapan Jonas.


"Sorry, aku sudah membiarkanmu menunggu. kemudian Pak Jonas mengeluarkan sebuah amplop dari saku celananya dan memberikannya kepada Maharani.


"Apa ini, pak? tanya Maharani sedikit bingung.


"Buka saja! titah Jonas yang langsung dilakukan oleh Maharani. Mata Maharani membulat ketika melihat isi amplop itu.


"Apa Bapak serius?


"Memangnya di wajah saya kamu melihat ada kebohongan? tanya Jonas.


Maharani hanya terdiam. Dia tidak percaya ternyata, pria yang selama ini membencinya diam-diam terus mengurus beasiswanya agar tetap dipertahankan di kampus itu.


Padahal sebelumnya, Maharani sudah pasrah kalau beasiswanya tidak akan dilanjutkan lagi. Mengingat perusahaan milik Tuan Herlambang saat ini mengalami kerugian yang cukup besar. Mungkin karena Tuan Herlambang tidak konsentrasi dalam mengelola perusahaannya.


Dengan mudahnya, orang-orang kepercayaan Tuan Herlambang menghancurkan perusahaan miliknya. Oleh karena itu, dengan berat hati Tuan Herlambang menghentikan beasiswa kepada Maharani.


Hal itu membuat Jonas menaruh empati kepada Maharani. Dia mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh Maharani. sungguh disayangkan, kalau Maharani tidak dapat melanjutkan pendidikannya di kampus Gunadarma. Hal itulah yang membuat Jonas, mengajukan proposal ke perusahaan milik Papanya. Agar memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi seperti Maharani.


Sungguh Maharani tidak menduga. Padahal beberapa bulan belakangan ini Maharani sudah berusaha mencari pekerjaan paruh waktu. Untuk dapat membiayai kelanjutan pendidikannya. Tapi jujur Maharani tidak menyangka Jonas memperhatikannya dan akhirnya kembali Maharani mendapatkan beasiswa itu dari perusahaan milik keluarga Jonas.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN