
Jam istirahat telah tiba. Kini para mahasiswa mahasiswi berhamburan keluar ke arah kantin. Tapi lain halnya dengan Maharani, Ia memilih beristirahat di halaman belakang kelas. Ia membawa bekal sendiri dari rumah.
Ketika ia hendak membuka kotak bekalnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang merampas bekalnya. Tentu saja Maharani terhenyak, Ia pun mencoba mengambil kembali bekalnya.
"Balikin Nggak, bakal aku!"ucap Maharani
"Oh ini toh cewek yang berani melawan Kamu tadi di kelas, Devano? tanya mahasiswa lelaki yang merampas bekal Maharani.
"Iya."jawab Devano
"Ternyata dia bawa bekal gush."ucap mahasiswa lelaki tersebut yang ternyata adalah Gibran salah satu geng Devano.
"Hahaha..... teman-teman Devano yang berjumlah empat orang itu tertawa.
"Mahasiswi bawa bekal, kayak anak TK aja!"ejek Devano lagi.
"Hahaha.....!"lagi-lagi teman-teman Devano menertawakan Maharani.
Maharani yang masih berusaha sabar, kembali meminta bekalnya dikembalikan.
"Tolong balikin bekal saya!"
Namun, bukannya membalikkan, Gibran malah menumpahkan isi kotak bekal tersebut. Tentu saja Maharani kaget melihat bekalnya kini sudah berada di atas rerumputan.
"Eh apa-apaan sih, kamu!" ucap Maharani pada Gibran.
"Itu hukuman karena kamu sudah melawan teman saya."ucap Gibran.
"Ngak ada hubungannya sama kami kali! Lagian teman kamu yang rese!"
"Kamu berani ya, membentak aku!"aku nggak peduli walaupun kamu cewek."
Gibran mencoba menampar Maharani. Namun, Maharani berhasil menangkap lengan Gibran. Maharani memiliki lengan Gibran, dan posisi Gibran ada di hadapan Maharani. Sementara lengannya masih dipelintir oleh Maharani.
"Jangan Kamu kira aku cewek, tapi nggak bisa ngelawan kamu." pekik Maharani
Kemudian Maharani mendorong tubuh Gibran ke depan Devano. Sontak saja tubuh Gibran terhunyung ke depan.
Maharani memungut kotak bekalnya, lalu ia berjalan menuju kelasnya tanpa makan sedikitpun
"Awas kamu! aku bakal bikin perhitungan sama kamu!"ucap Devano berteriak kepada Maharani.
Maharani lalu berbalik dan hanya mengacungkan jari tengahnya, pada Devano dan juga Gibran.
Devano dan Gibran yang mendapat ancungan jari tengah dari Maharani sangat marah.
"Pokoknya kita harus bisa ngerjain tuh cewek! berani banget dia sama aku! belum tahu apa siapa aku!" Devano dan Gibran sangat marah hingga mencoba mencari cara agar bisa membalas perbuatan Maharani padanya.
Mereka mencoba mencari kelemahan Maharani. Agar Maharani bisa didepak dari kampus.
****
Jam mata kuliah sudah berakhir. Maharani berjalan seorang diri menuju parkiran. Kali ini dia tidak pulang bersama Sabrina, karena Sabrina harus segera menemui ibunya yang tadi pagi sudah memintanya untuk segera menjemput ke terminal.
Saat Maharani berjalan seorang diri. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Astagfirullah! Maharani terhenyak kaget lalu memegang sebelah dadanya.
"Ngagetin banget sih kamu!"ucap Maharani ketika tahu yang menepuk pundaknya seorang mahasiswi yang merespon positif terhadapnya.
"Sorry." ucap Rina tersenyum menyeringai menampakkan giginya di pagar kawat besi.
"Eh kamu tadi saat jam istirahat nggak ke kantin? tanya Rina lagi.
"Enggak."
"Kenapa?
"Wah, kayaknya seru deh. Besok aku juga akan membawa bekal, jadi kita bisa makan bareng."
"Tapi kan kakak Lain jurusan dengan saya.
"Memang kamu nggak masalah bawa bekal ke sekolah?
"Enggak dong, kan Makannya sama kamu nanti. Gimana besok kita makannya di taman dekat perpustakaan. di sana kan lokasinya pas di tengah-tengah. Nggak terlalu jauh dari kelas kamu, Dan nggak terlalu jauh dari kelas aku, gimana? tanya Rina kepada Maharani.
"Oke Kak nggak masalah." sahut Maharani kepada Rina yang ternyata Rina sudah menaruh empati kepada Maharani, setelah ia mengetahui nilai yang didapatkan oleh Maharani ternyata Maharani merupakan mahasiswa yang cerdas.
Padahal ketika Rina menjalin hubungan dengan Devano, Dia paling anti berdekatan dengan Maharani. Sejujurnya bukan dirinya yang membuat itu semua. Kata hatinya menolak, Tapi karena Devano membenci Maharani sehingga dirinya pun ikut-ikutan membenci Maharani.
Devano berusaha mencaritahu. Kelemahan Maharani. Untuk membuat wanita itu ditendang dari kampus. Karena menurut Devano ia merasa malu satu kampus dengan Maharani yang memiliki bobot tubuh yang sangat luar biasa.
Kerap sekali Devano juga mendapat ejekan dari mahasiswa mahasiswi dari universitas lain, ketika mereka melihat keberadaan Maharani di kampus ternama seperti kampus Gunadarma.
Hal itu membuat Devano semakin geram, sehingga dia selalu berusaha membuat Maharani tidak betah menempuh pendidikannya di kampus itu.
"Oh iya, tadi kamu dicariin kak Erwin tahu."
"Memangnya kenapa? Ada perlu apa kak Erwin mencari aku?" tanya Maharani heran.
"Iya mana aku tahu, tapi dari yang aku lihat kayaknya kak Erwin naksir sama kamu." jawab Rani asal.
"Astagfirullah Kak, Sepertinya itu tidak mungkin. Bahkan sampai kiamat dunia pun pasti tidak akan. Secara kakak tahu sendiri, semua mahasiswa mahasiswi di sini malu berteman dengan Rani. Karena melihat postur tubuh Rani seperti gentongan atau kerbau atau seperti kingkong sama seperti hal yang dikatakan oleh mahasiswa mahasiswa lainnya." ucap Maharani kepada Rina.
Sangking asiknya ngobrol sambil jalan, mereka kini telah sampai di parkiran.
"Kamu naik apa ke kampus Maharani? tanya Rina
Maharani hanya nyengir kuda. "Aku GL Kak?
"GL? Apa itu GL?
"Goyang lutut, alias jalan kaki."sahut Maharani sambil cengengesan.
"Memangnya rumah kamu di mana?
"Paling sekitar lima kilometer dari sini."
"Apa lima kilometer, Kamu berjalan kaki dari kampus ke rumah kamu, dan setiap hari kamu seperti itu? tanya Rina tak percaya.
"Iya Kak, hitung-hitung olahraga. Supaya bobot tubuhku turun. Malu juga selalu dikatain gentongan oleh orang-orang." sahut Maharani jujur.
"Ya udah, kalau begitu kita pulang bareng yuk, aku antar kamu."ucap Rina kepada Maharani.
"Tidak usah Kak, Sudah aku katakan kalau aku ingin sekalian olahraga."ucap Maharani menolak tawaran Rina agar Rina tidak merasa tersinggung.
"Serius nih, nggak mau aku antar?
"Iya, kak. Aku serius, lebih baik Kakak duluan aja deh."ucap Maharani sambil mengembangkan senyumnya menatap wanita yang ada di hadapannya.
Rina langsung menghidupkan mesin mobil miliknya, setelah ia duduk dengan nyaman dan memasang sabuk pengaman.
Rina menghidupkan klakson mobilnya untuk mendahului Maharani. Ia melambaikan tangannya kepada Maharani. Maharani juga melakukan hal yang sama.
Sepeninggalan Rina, Devano menghampiri Maharani kembali. Entah rencana apa yang akan dilakukan pria itu lagi. Yang pasti dia akan membuat Maharani tidak nyaman, sehingga Maharani dengan cepat-cepat melangkahkan kakinya keluar dari kampus. Tapi sayangnya, Devano beserta kawan-kawan sudah menghadangnya lebih dulu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN