
Nyonya murni tidak dapat membendung air matanya. Ketika mendengar penuturan dari sang suster kalau kondisi kesehatan putranya masih dalam keadaan kritis. Saat ini Devano berada di ruang ICU.
Karena alat-alat medis yang menempel di tubuh Devano, untuk memantau perkembangan kondisi Devano saat ini. Sehingga Devano harus ditempatkan di ruang ICU. Sehingga keluarga pasien tidak dapat dijenguk jika waktunya belum tiba.
"Semua ini gara-gara papa! gara-gara Papa mengusir Devano dari rumah, dan menyita seluruh fasilitas yang Papa berikan, membuat Putra kita seperti ini!"teriak Nyonya murni menyalahkan suaminya atas apa yang terjadi kepada putranya.
"Aku, tidak akan memaafkan Papa. Jika terjadi sesuatu kepada Putra kita!"tangis Nyonya Murni sambil memukul-mukul tubuh suaminya. Tuan Herlambang meraih tubuh istrinya. Mencoba menenangkan Nyonya Murni.
Sedangkan Ibu Halimah juga tidak dapat membendung air matanya. Dia tahu persis bagaimana perasaan Nyonya murni saat ini. Karena kehilangan seorang darah daging sendiri itu,akan sulit diterima oleh batin. Membuat Ibu Halimah pun tidak bisa menahan air matanya menetes di pipinya.
Sementara Maharani yang baru keluar dari ruang istirahat, saat Dia sudah mendonorkan darah kepada Devano. Terhenyak melihat Tuan Herlambang dengan seorang wanita paruh baya. Maharani belum mengetahui kalau wanita itu, ternyata Mamanya Devano.
"Maharani,Terima kasih kamu sudah mendonorkan darahmu kepada Devano. Saya berharap dengan bantuan donor yang kamu berikan itu, Putra saya dapat selamat."ucap Tuan Herlambang, ketika melihat Maharani menghampiri Ibu Halimah dan kedua sahabatnya yang duduk di ruang tunggu.
"Aku yakin dan percaya, Devano itu lelaki yang kuat, dia pasti akan bertahan percayalah Tuan."ucap Maharani penuh keyakinan.
Sementara Nyonya murni menatap Maharani dengan tatapan sinis. Tak ada sedikitpun di hatinya, ingin mengucapkan terima kasih kepada Maharani. Padahal tanpa bantuan donor dari Maharani, mungkin entah apa yang sudah terjadi kepada Putra mereka.
"Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih kepada kamu Maharani. Karena kamu sudah bersedia mendonorkan darahmu kepada Putra saya. "
"Apa yang saya lakukan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang sudah Tuan perbuat kepada saya. Jadi Tuan tidak perlu berterima kasih. Mudah-mudahan Devano cepat pulih kembali."sahut Maharani sambil berusaha mengembangkan senyumnya.
Sabrina dan Rina yang melihat tatapan sinis dari Nyonya Murni merasa tidak enak. Kedua wanita itu langsung menghampiri Maharani, meminta Maharani agar mereka segera pulang. Tapi sepertinya Maharani enggan untuk pulang sebelum mendengarkan kabar Devano sudah mulai stabil.
Ibu Halimah berlalu meninggalkan Rumah Sakit Bersama Maharani, dan kedua temannya. Rina memberikan tumpangan kepada Ibu Halimah dan Maharani.
Rina terlebih dahulu menghantarkan Ibu Halimah dan Maharani ke kediaman mereka. Sementara Sabrina memilih untuk segera kembali ke rumahnya dengan menggunakan motornya.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Rina pun tiba di depan gang rumah Maharani. Maharani dan ibu Halimah turun dan meminta kepada Rina untuk singgah ke rumah sederhana milik mereka.
Tapi karena ini sudah hampir malam sehingga Rina berlangsung pulang saja.
"Kamu tidak mampir dulu nak Rina?" tanya ibu Halimah.
"Maaf Bu, ini sudah hampir malam Lain kali saja, saya mampir." sahut Rina sambil mengembangkan senyumnya. Ketika ibu Halimah dan Maharani sudah berjalan memasuki gang, Rina melajukan mobilnya ke arah jalan raya menuju rumah utama keluarganya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN