
Kali ini tujuan Devano hendak bertemu dengan Pak Jonas. Dia ingin meminta cuti beberapa hari ke depan. Tapi ketika dia sudah tiba di kampus, Devano tidak bertemu dengan Pak Jonas, karena Pak Jonas sudah pulang lebih awal hari ini.
Devano akhirnya menemui Pak Susilo yang merupakan salah satu dosen mengajar di kelas mereka. Dia meminta izin kepada Pak Susilo. Tetapi Pak Susilo meminta alasan yang masuk akal sehingga dirinya mengajukan izin cuti beberapa hari ke depan.
Devano enggan memberitahu kepada Pak Susilo. Kalau dirinya saat ini tidak tinggal di rumah kedua orang tuanya. Devano terpaksa berbohong, dia pun mengatakan kepada Pak Susilo kalau dirinya, akan pergi ke luar kota bersama kedua orang tuanya.
Akhirnya pak Susilo pun menandatangani surat izin untuk Devano. Devano berbinar, ketika dia sudah menerima surat itu, dia langsung berpamitan kepada Pak Susilo. Tampak kampus sudah terlihat sepi. Karena para mahasiswa mahasiswi di kampus sudah pada pulang.
Tinggal beberapa dosen saja yang berada di ruangan masing-masing. Devano berjalan dengan gontai, tujuannya kali ini ingin kembali ke depot. Saat Devano hendak menyebrang. Sebuah mobil truk melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga kecelakaan itu pun tidak dapat dihindarkan. Devano terpental ke trotoar, akibat truk yang melaju kencang tadi tidak dapat mengendalikan laju mobilnya.
Saat ini tubuh Devano sudah bersimbah darah. Sedangkan pengemudi truk itu, langsung pergi begitu saja dengan semakin melajukan truknya dengan kecepatan tinggi.
Beberapa orang yang kebetulan melintas di sana berhenti. Melihat Devano yang saat ini sudah tidak sadarkan diri dan sudah bersimbah darah.
"Astagfirullah! ucap seorang wanita paruh baya yang kebetulan lewat di sana. Wanita itu baru pulang dari apotek.
"Ini Devano, kan!"ucap wanita paruh baya itu sambil menutup mulutnya.
"Ibu mengenal pemuda ini?"tanya beberapa orang yang juga melihat kejadian kecelakaan itu.
"Iya, dia teman kampus putri saya."sahut wanita paruh baya itu.
"Ya sudah, lebih baik kita bawa ke rumah sakit."
"Tubuh Devano, dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan mobil seorang pria paruh baya yang melihat kejadian itu juga. Ibu Halimah juga ikut di dalam mobil itu sembari berusaha menyadarkan Devano. Tapi sepertinya kondisi Devano saat ini sangat kritis. Mengingat darah segar keluar dari bagian kepala dan juga begitu banyak luka yang ia alami.
Setelah melakukan perjalanan kurang sepuluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian naas itu. Ibu Halimah langsung berteriak minta tolong kepada suster dan dokter yang ada di rumah sakit itu. Agar segera memberikan pertolongan kepada Devano.
Dokter dan suster langsung buru-buru mendorong branker agar tubuh Devano dapat dibaringkan di sana. Setelah tubuh Devano dibaringkan di atas branker, dokter dan suster itu langsung melarikannya ke ruang UGD. Mereka mencoba memeriksa kondisi pasien saat ini. Dokter menggelengkan kepala, ketika melihat kondisi Devano yang saat ini benar-benar memprihatinkan.
"Hubungi orang tua korban, ini harus segera dilakukan tindakan operasi."ujar dokter kepada salah satu suster yang mendampingi dokter itu menangani Devano.
Buru-buru suster itu berjalan keluar membuka ruang pintu UGD. "Maaf orang tua korban?"tanya suster.
"Tidak sus,.saya hanya kebetulan mengenal pemuda itu, dia teman putri saya. Tapi saya tidak tahu di mana tempat tinggalnya."sahut Ibu Halimah. Sementara pria paruh baya itu dan istrinya juga sama sekali tidak mengenal Devano.
"Begini bu, kondisi pasien sangat kritis, jadi kita harus segera melakukan tindakan operasi karena kebetulan ada pendarahan di bagian kepala."suster itu memberitahu
"Saya akan mencoba menghubungi putri saya, siapa tahu Putri Saya memiliki kontak orang tuanya. Tapi sebelum, orang tuanya datang, tolong Lakukan yang terbaik untuk pemuda itu."ujar Ibu Halimah.
Suster itu menatap Ibu Halimah dengan Tatapan yang sulit diartikan. Kemudian suster itu berlalu masuk ke ruang UGD.
Beberapa menit kemudian, ruang operasi sudah siap. Kini tubuh Devano saat ini sudah berada di ruang operasi. Suster dan dokter berjuang untuk menyelamatkan nyawa Devano. Yang saat ini benar benar di ujung tanduk.
"Ya Allah, selamatkan pemuda itu, mudah-mudahan dia bisa selamat."doa ibu Halimah. Ibu Halimah mondar-mandir di depan ruang operasi. Ibu Halimah meminjam ponsel milik pria baru baya yang membawa Devano ke Rumah Sakit Bersama sang istri.
"Maaf Pak, saya bisa pinjam ponsel bapak?"tanya ibu Halimah penuh harap. Pria paruh baya itu pun memberikan ponselnya. kemudian ibu Halimah berusaha mengingat-ingat nomor ponsel jadul milik Maharani.
Setelah Ibu Halimah menekan tombol hijau yang ada di layar ponsel itu. Akhirnya sambungan telepon seluler itu tersambung.
"Halo assalamualaikum, Ini siapa ya?"tanya Maharani karena melihat di layar ponsel jadul miliknya, tidak ada nomor kontak yang menghubungi dirinya saat ini.
"Ini ibu Nduk, kamu boleh ke rumah sakit sekarang?
"Ini Ibu? memangnya siapa yang sakit Bu? apa Ayah sakit lagi?" tanya Maharani dari ujung telepon.
"Tidak Nduk, tapi teman satu kampus kamu yang bernama Devano itu mengalami kecelakaan. Dan saat ini sudah berada di ruang operasi di Rumah Sakit bina Kasih."Ibu Halimah memberitahu. Hal itu membuat Maharani terhenyak. Dia pun akhirnya berpamitan kepada Sabrina dan Rina untuk segera pergi ke rumah sakit.
"Aku harus pamit woi, saat ini ibuku sedang berada di rumah sakit, karena Devano mengalami kecelakaan."
"Devano?
"Maksud kamu Devano satu kampus kita, yang kerap sekali membully kamu? tanya Sabrina dan Rina bersamaan. Mereka benar-benar kaget Mengapa ibu Halimah bisa bersama Devano saat ini.
"Iya, kata ibuku Devano mengalami kecelakaan, kebetulan ibuku yang mengenalnya saat itu. Sehingga ibuku yang membawanya ke rumah sakit Bina Kasih."Maharani langsung berjalan mendahului kedua temannya.
"Ya sudah, kita ke sana sekarang. Ayo aku antar!" Rina langsung menarik tangan Sabrina agar segera mengikuti Maharani.
Saat mereka sudah berada di parkiran, Rina meminta Maharani untuk segera naik ke dalam mobilnya. Sementara Sabrina mengikuti mereka dari belakang dengan menggunakan motor miliknya.
Kini mereka saat ini menuju Rumah Sakit Bina Kasih, Di mana Devano berada. Mereka melajukan mobil dan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Hingga akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit.
Maharani yang mengetahui kalau saat ini Devano masih berada di ruang operasi, mereka berjalan terburu-buru menuju ruang operasi itu. Maharani sudah melihat ibu Halimah sedang berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Terlihat lampu di ruang operasi itu masih menyala, itu artinya operasi belum selesai dilakukan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN