Di Bully Karna Obesitas

Di Bully Karna Obesitas
BAB 40. WISUDA


Devano masih merasa heran, mengapa Maharani bisa memiliki ide dan niat untuk mengungkap kejahatan anak buah Tuan Herlambang. Padahal saat Devano masih kuliah di satu kampus yang sama dengan Maharani, dia selalu membuat Maharani kesusahan dan terus mengolok-olok nya.


"Kamu kenapa masih baik kepada keluargaku? Padahal selama ini aku sudah membuatmu kesusahan dan juga mengolok-olok dirimu saat berada di kampus. dan menurut informasi yang aku dengar, kamu yang mendonorkan darah kepadaku agar aku dapat selamat ketika kecelakaan yang menimpaku terjadi."ucap Devano kepada Maharani.


Maharani hanya mengembangkan senyumnya. "Aku sudah melupakan semuanya. Sudah kewajiban setiap umat untuk membantu sesama. Lagian apa yang sudah saya perbuat kepada Tuan Herlambang, tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang sudah diperbuat oleh Tuhan Herlambang kepada saya."sahut Maharani.


"Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih kepada kamu, berkat kamu penghianat di kantor ini terbongkar dan perusahaan ini terselamatkan dari orang-orang yang berniat jahat kepada papa."lagi lagi Devano mengucapkan terima kasih kepada Maharani.


Kurang lebih empat bulan Maharani, magang di perusahaan Tuan Herlambang. Kini dia sudah menyelesaikan magangnya. Maharani saat ini sedang menyusun skripsi. Kedua orang tua Maharani tampak merasa bahagia, karena tidak akan lama lagi Maharani akan menyelesaikan studinya.


Sabrina sahabat Maharani yang paling dekat dia juga tidak sabar kalau mereka akan segera meraih gelar sarjana. "Ran, aku rasa setelah kamu wisuda Tuan Herlambang pasti akan meminta kamu langsung bekerja di perusahaannya. Secara selama ini, kamu sudah banyak membantu Tuan Herlambang untuk membuat perusahaannya kembali bangkit dan sudah stabil seperti semula.


"Entahlah, Kita lihat nanti saja mudah-mudahan pengajuan skripsi kita cepat di-acc oleh dosen. Kamu tahu sendiri kan dari dulu Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan studiku, agar aku segera dapat membantu ekonomi keluarga kami." tutur yang membuat Sabrina hanya manggut-manggut.


Beberapa bulan kemudian, pengajuan skripsi milik Maharani dan Sabrina juga di-acc oleh dosen pembimbing dan juga dosen pembina. sekarang mereka tinggal menunggu waktu meja hijau saja. atau sering disebut dengan sidang skripsi.


Sementara Dewi, sepertinya untuk tahun ini dia tidak dapat menyelesaikan studinya. setelah beberapa dosen memberikan nilainya dengan nilai E. Apalagi Pak Susilo, yang kerap sekali memergoki dirinya saat ujian mencontek. Membuat bakso silo tidak memberikannya ampun dan dia tidak meluluskan wanita sombong itu.


Rina yang sudah lebih dulu menyelesaikan studinya di kampus, saat ini sudah melanjutkan bisnis keluarganya. saat ini Rina benar-benar sangat merindukan kedua sahabatnya itu. Walaupun Sabrina dan Maharani Adik kelasnya, tapi karena kedekatan mereka Wanita itu sangat merindukan Sabrina dan Maharani.


****


Acara wisuda telah tiba. Kini Sabrina dan Maharani sudah terlihat cantik di baluti dengan gaun kebaya dengan memakai jubah dan juga wisuda.


"Selamat ya Maharani, kamu telah menyelesaikan studimu tepat waktu dengan nilai yang memuaskan."Ucap pak Jonas kepada Maharani. Setelah acara formal wisuda telah selesai.


Kini giliran Pak Susilo mengucapkan selamat kepada Maharani dan mahasiswa mahasiswi lainnya. Pak Susilo merasa bangga, memiliki mahasiswa berprestasi seperti Maharani. yang mengharumkan nama kampus hingga kampus tempat mereka menimba ilmu dikenal di seluruh negara Eropa.


Pak Jonas, kembali menghampiri Maharani dan juga Sabrina yang sedang berfoto bersama dengan kedua orang tua masing-masing. Tampak Pak Jonas mengembangkan senyumnya melihat Maharani dan kedua orang tuanya sedang berpose dan berfoto bersama Maharani.


Tanpa mereka sadari, seorang pria datang ke lokasi acara wisuda dengan membawakan buket bunga yang indah. Tetapi sebelum pria itu menghampiri Maharani, Rina lebih dulu menghampiri kedua sahabatnya yang merupakan Adik kelasnya.


"Halo semuanya!! congratulation."ucap Rina deh kepada Maharani dan juga Sabrina. kemudian memberikan satu buket bunga kepada Maharani dan juga satu untuk Sabrina. Ketiga sahabat itu berpelukan bahagia.


Pria tampan yang tadinya membawa buket bunga yang indah, masih tetap memperhatikan sang mantan begitu dekat dengan Maharani. Wanita yang saat ini menggantikan posisi Rina di hati Devano.


Devano perlahan melangkah mendekati Maharani setelah ketiga sahabat itu memilih untuk duduk di sebuah kursi batu yang ada di bawah pohon. Karena mereka masih menunggu teman-teman yang lain untuk melakukan foto bersama.


"Terima kasih Pak Devano, sudah repot-repot datang ke acara wisuda saya. Padahal saya tidak merayakannya sama sekali, maklumlah Pak wisuda saja berjalan lancar sudah Alhamdulillah." ucap Maharani


"Tidak apa-apa, Aku hanya ingin mengucapkan Selamat atas wisuda dan prestasi yang kamu raih. Apalagi setelah aku mendengar kamu memiliki IP tertinggi."ucap Devano sembari menatap Maharani dengan tatapan penuh arti.


Rina mengerutkan keningnya. Ketika melihat sang mantan kayak Sepertinya begitu dekat dengan Maharani. Rina menatap Maharani dan Sabrina secara bergantian, seolah dirinya ingin menanyakan sesuatu hal penting tentang kedekatan Maharani dan juga Devano.


Tiba-tiba, Pak Jonas kembali datang menghampiri mahasiswanya. "Bagaimana untuk merayakan hari wisuda kalian, kita makan bersama di restoran dekat kampus. saya yang traktir."Ucap pak Jonas yang tiba-tiba menghampiri Maharani dan kedua temannya.


"Serius? tanya Sabrina berbinar.


"Memangnya saya pernah membohongimu Sabrina?"tanya Pak Jonas kepada Sabrina.


"Tidak Pak, hanya saja tidak biasanya."


"Iya deh biasakan dong, sahur Pak Jonas sambil terkekeh. Kedua orang tua Sabrina dan juga Maharani menyetujui usulan Pak Jonas. karena sebelum mengatakan itu kepada Maharani dan Sabrina, Pak Jonas sudah berbicara lebih dulu kepada kedua orang tua Maharani dan juga Sabrina.


Sekitar lima belas menit kemudian, Mereka pun tiba di restoran dekat kampus. pandangan Devano terus mengarah Maharani. Tanpa Maharani menyadarinya. tetapi tidak dengan Rina. Rina menyadari kalau Devano memperhatikan gerak-gerik Maharani. dan sepertinya Rina sudah mengetahui kalau Devano memiliki perasaan lebih kepada Maharani.


"Menu makanan sudah terhidang di atas meja besar. Apalagi sebelumnya pak Jonas sudah melakukan reservasi ke restoran itu kalau mereka akan makan bersama di sana. sehingga pihak restoran langsung menyediakan tempat untuk mereka. Ada canda dan tawa di sana. Pak Joko yang saat ini masih belum bisa menggerakkan kakinya secara leluasa dia tetap tertawa mendengar lelucon dari teman-teman Maharani.


Ada kebahagiaan tersendiri di hati Pak Jonas dapat menyaksikan canda tawa Maharani dan kedua sahabatnya Begitu juga dengan kedua orang tua mahasiswanya yang saat ini sedang wisuda.


Setelah selesai menyantap menu makanan yang ada di sana, mereka masih bercanda gurau dan terlibat obrolan-obrolan tujuan mereka kelak. Karena mereka telah menyelesaikan studi mereka masing-masing.


Pak Jonas, menawarkan Maharani untuk bekerja di perusahaan keluarganya. Begitu juga dengan Devano meminta kepada Maharani untuk segera menemui Tuan Herlambang, karena Tuan Herlambang meminta kepada Devano agar segera membawa Maharani menemuinya.


"Aku harap, kamu tidak menolak permintaan apa-apa."mohon Devano kepada Maharani.


"Nanti akan saya pikirkan, aku harus terlebih dahulu berbicara kepada kedua orang tuaku."ucap Maharani.


Sabrina juga mendapatkan penawaran untuk bekerja di perusahaan keluarga Pak Jonas. tapi Sabrina belum berani mengambil keputusan. Karena ia juga harus meminta pendapat kepada kedua orang tuanya.


Bersambung....