
Keesokan harinya Gibran sudah terlihat rapi hendak pergi ke kampus. Begitu juga dengan Devano. Saat ini dia sudah duduk di atas ranjang dan sudah berpenampilan rapi, setelah selesai melakukan ritual mandinya.
Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Devano. Devano bangkit dari tempat duduknya, ia membuka pintu kamar tamu rumah utama keluarga Gibran.
"Ada apa Bi?
"Maaf den, Aden sudah ditunggu Den Gibran di ruang makan."asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Gibran memberitahu.
"Ya sudah Bi, saya akan menyusul Gibran."lalu asisten rumah tangga itu meninggalkan Devano kembali ke dapur.
Devano keluar dari kamar menuju ruang makan. Yang ternyata Gibran sudah berada di sana. "Bro ayo kita makan ."ujar Gibran mempersilahkan Devano menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga.
Devano duduk, kemudian ia menatap menu sarapan pagi yang terhidang di atas meja. Walaupun menu makanan itu bukan menu makanan favoritnya. Tetapi untuk saat ini dia tidak dapat terlalu mengeluh. Karena di rumah Gibran, dia hanyalah menumpang. Apalagi saat ini dia sama sekali tidak memiliki apa-apa.
"Maaf ya, bro. Asisten rumah tangga di rumah ini hanya bisa menyiapkan sarapan pagi seperti ini. Maklum, Papa dan Mama aku tidak ada di sini."ucap Gibran kepada Devano.
"Tidak apa-apa bro, bawa santai saja."sahut Devano sambil menyendok nasi goreng kedalam piring, yang dipersiapkan oleh asisten rumah tangga lalu langsung menyantapnya.
Setelah selesai menyantap menu sarapan pagi, kedua pemuda itu berlalu dari rumah utama keluarga Gibran menuju kampus Gunadarma.
"Aku jadi tidak enak terus menumpang sama kamu."
"Tidak apa-apa. Selagi aku bisa membantu. Lagian aku juga sering meminta bantuan kepada kamu dulu. Masa aku sekarang harus membiarkanmu kesusahan, selagi aku mampu kenapa tidak. Tapi aku minta maaf sebelumnya. Kalau kedua orang tua aku sudah pulang, kamu tidak bisa tinggal di rumah lagi. Takut kedua orang tuaku akan marah kepadaku."
"Nanti aku akan mencoba ngobrol dulu sama Dewi. Siapa tahu dia bisa membantuku memberikan pinjaman uang untuk sekedar menyewa kos-kosan.
"Kamu serius mau ngekos?
"Ya, mau gimana lagi, gengsi aku harus mengemis sama Papa dan Mama aku."
"Ya udah, mudah-mudahan Dewi bisa membantumu."Gibran berharap kalau Dewi dapat membantu Devano untuk sekedar meminjamkan uang kepadanya. Karena setau Gibran, Dewi itu merupakan kekasih Devano.
Setelah mereka tiba di universitas Gunadarma. Devano dan Gibran terhenyak mendengar kabar dan pengumuman dari Dekan. Kalau mahasiswi yang diutus dari kampus universitas Gunadarma, atas nama Maharani berhasil mendapat peringkat pertama, mengikuti studi banding dan olimpiade di Jerman.
"Apa?
"Aku tidak salah dengarkan Gibran? Kalau Maharani mendapatkan peringkat pertama dalam mengikuti studi banding di Eropa dan mendapatkan peringkat pertama!"tanya Devano kepada Gibran. Karena dirinya tidak percaya begitu saja kalau Maharani benar-benar mendapatkan peringkat pertama dalam olimpiade di negara Eropa.
"Ya, ternyata hebat juga ya dia. Dapat mengharumkan nama kampus."Puji Gibran membuat Devano mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba memuji gentongan itu?
"Ya aku hanya memuji kemampuannya. Aku tidak menyangka, ternyata bukan hanya bobot tubuhnya aja yang di atas rata-rata. Kecerdasan dan kepintarannya juga ternyata di atas rata-rata." ucap Gibran.
"Ah, kamu ini." ucap Devano sembari meninggalkan Gibran yang berdiri di mading kampus. Devano langsung menuju ruang kelas di mana Dewi berada.
Dewi yang melihat sang kekasih datang menghampirinya. Dewi mengembangkan senyumnya.
"Sayang, kamu dari mana saja? Mengapa dua hari ini tidak masuk ke kampus? aku telepon juga tidak diangkat, Aku WA hanya centang satu abu-abu?" Dewi melontarkan pertanyaannya yang bertubi-tubi kepada Devano.
Devano menarik tangan Dewi keluar dari ruang kelasnya. "Ayo ikut aku. Aku ingin bicara sama kamu."
"Sayang aku bisa minta tolong sama kamu tidak?
"Minta tolong apa sayang?
"Kamu tahu kan video viral yang saat itu, kita membully Maharani. Saat ini papa aku menghukum aku karena Video itu. Papa aku menarik semua fasilitas yang diberikan oleh papa aku. Dan yang paling parahnya lagi Papa aku mengusirku dari rumah.
"Jadi maksud kamu?
"Aku minta tolong sama kamu pinjam aku uang kamu, nanti kalau aku sudah punya uang, akan segera aku ganti."
"Aku tidak ada uang."
"Tolonglah, kali ini aja. Nanti aku ganti, aku janji akan menggantinya." ucap Devano sambil memegang kedua tangan Dewi, memohon agar Dewi memberikan pinjaman uang kepadanya.
"Enak aja kamu minjam uang kepada Aku. Ah, dia kere seperti ini mau minjam uang kepadaku. Kalau dia di usir dari rumah, otomatis aku tidak bisa bersenang-senang dengannya. Dan tidak bisa aku plorotin uangnya. Lebih baik aku tinggalin saja lelaki seperti dia."gumam Dewi di dalam hati.
"Aku tidak ada uang. Ada-ada aja kamu mau minjam uang sama perempuan. Ngak ada harga diri bangat, sih." ucap Dewi sambil langsung menghempaskan tangan Devano lalu ia meninggalkan Devano begitu saja.
"CK... Dewi, tolong sekali ini aja." teriak Devano. Tapi Dewi sama sekali tidak peduli. Dia meninggalkan Devano begitu saja.
"CK ... giliran Aku banyak uang, kamu mendekat sama Aku. Tapi giliran Aku susah seperti ini, kamu sama sekali tidak peduli."Devano mencebik kesal.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini? gumam Devano di dalam hati. Kemudian ia berjalan menyusuri trotoar kampus. Tanpa ia sengaja ia melihat Rina, sang mantan kekasih.
Rina yang berjalan sambil mengotak-atik ponselnya untuk membalas pesan dari Sabrina, tidak sengaja menabrak tubuh Devano.
"Maaf, aku tidak sengaja!"Rina meminta maaf.
"Tidak apa-apa." sahut Devano dengan lembut Padahal biasanya Devano orang yang paling songong sejagat universitas.
"Tumben nih anak, tidak songong. Biasanya kalau mendapatkan masalah sedikit saja dari orang, dia sudah arogan. Tapi sepertinya penampilannya saat ini tidak seperti biasanya. Ada apa ya? kayaknya dia sangat kacau."Rina bermonolog sendiri sembari terus berjalan meninggalkan Devano. Sementara Devano juga berjalan membelakangi Rina.
"Sabrina, kapan Maharani akan kembali ke tanah air?"pesan Whatsapp Itu yang dikirimkan oleh Rina kepada Sabrina. Karena ia mengetahui Sabrina pasti mengetahui kabar terbaru tentang Maharani.
"Dari informasi yang aku ketahui, Maharani akan kembali ke tanah air hari ini. Tapi entah ada halangan, aku tidak mengetahuinya. belum mendapat kabar hari ini, kalau dia Jadi kembali."balas Sabrina di dalam pesan whatsapp-nya.
"Mudah-mudahan Maharani cepat kembali, ya. Aku tidak sabar ingin mendengar ceritanya selama mengikuti studi banding di Eropa. Jujur saja Aku ingin seperti Maharani. Aku tidak menyangka Maharani benar-benar wanita yang sangat cerdas dan pintar."Rina memuji kemampuan yang dimiliki Maharani. dalam pesan whatsapp-nya terakhir kepada Sabrina sebelum di masuk kedalam kelas.
Seluruh Dosen, Dekan dan juga jajarannya keseluruhan benar-benar bangga telah mengutus Maharani sebagai perwakilan dari kampus Gunadarma. Tidak hanya keluarga besar universitas Gunadarma saja. Tetapi manajemen yang memberikan beasiswa kepada Maharani juga turut bangga seperti Tuan Herlambang Anggara.
Tuan Herlambang Anggara benar-benar bangga, ketika mendengar kabar dari Dekan kampus Gunadarma, kalau Maharani mendapatkan peringkat pertama dalam mengikuti olimpiade di Eropa.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN