
Dewi yang saat itu mengadakan ujian semester pertama, mendapat nilai E, karena kepergok oleh Pak Susilo mencontek sewaktu ujian semester. Membuat dirinya merasa direndahkan oleh Maharani dan juga Sabrina.
Padahal Sabrina dan Maharani tidak pernah merasa merendahkannya. Hal itu membuat Dewi semakin dendam dan membenci Maharani dan juga Sabrina. Dewi mengatur siasat, agar Devano terus mendukungnya.
Dewi menciptakan kebohongan demi kebohongan, agar Devano tetap membelanya di hadapan Maharani dan juga Sabrina
"Ay, lihat deh. Maharani merasa berada di atas awan. Karena menurut informasi yang aku ketahui, dia mendapatkan nilai tertinggi dikelas saat ujian semester kemarin." ucap Dewi kepada Devano.
"Terus?
"Aku tahu dia itu pasti melakukan kecurangan. tidak mungkin manusia gentongan seperti dia bisa mendapatkan nilai tertinggi. Pastilah otaknya hanya makan saja. Makanya badannya bertumbuh besar sudah seperti kingkong, bukan Gentongan lagi.
"Terus mau kamu apa, Beb?"
"Aku mau, kita kasih pelajaran untuknya agar dia tidak betah kuliah di kampus ini. Apa kamu nggak malu Ay, di kampus ternama seperti ini, ada manusia gentongan seperti dia?
"Tentu aku malu lah, memang kemarin maunya gentongan itu keluar dari kampus ini. Tak pantas! aku sudah punya rencana agar dia tidak betah berada di kampus ini." ucap Devano.
"Jika aku meminta kepada pihak kampus untuk mengeluarkannya dari kampus ini,itu sungguh tidak mungkin. karena pihak kampus pasti akan mempertanyakan Apa alasannya. Kan, sungguh tidak masuk akal hanya karena tubuhnya yang gemuk, jelek, seperti gentongan itu dia dikeluarkan dari kampus ini, lebih baik kita cari celah, supaya wanita itu dikeluarkan secara tidak hormat dari kampus ini."ucap Devano sambil menyeringai tipis.
"Good idea, aku setuju. Aku yakin kamu mampu melakukannya."ucap Dewi kepada Devano.Mereka benar-benar menginginkan agar Maharani dikeluarkan dari kampus Gunadarma.
Entah mengapa Dewi selalu merasa tidak puas jika Devano mengejek dan mengolok-olok Maharani. Bahkan ia meminta kepada Devano untuk kembali memberikan pelajaran kepada Maharani, dan juga Sabrina.
Walaupun selama ini, Devano kerap sekali membuat Maharani kesulitan. Dia selalu mempermalukan Maharani di depan mahasiswa mahasiswi lainnya, tapi tetap saja Dewi tidak merasa puas. Bukan hanya Devano dan Dewi yang selalu membuat Maharani tidak nyaman kuliah di kampus itu, tapi Pak Jonas yang merupakan dosen di kampus itu. kerap sekali mengejek Maharani.
Memiliki raut wajah yang tampan, tidaklah patokan memiliki akhlak yang baik. Sama seperti halnya seperti Devano dan juga Pak Jonas. Yang kerap sekali membully Maharani. tak puas-puasnya kedua pria itu selalu memberikan ejekan kepada Maharani.
"Hai kingkong, Kamu ngapain disini?minggir kamu!" ucap seorang mahasiswa kepada Maharani saat Maharani duduk di sebuah kursi batu di bawah pepohonan rindang yang ada di taman belakang kampus.
"Maaf Kak, tapi saya bukan kingkong. Saya manusia dan punya nama. Nama aku Maharani."
"Nggak nanya!"
Maharani hanya menggelengkan kepala.
"Bisa nggak kakak menghargai saya , kalau kakak ingin dihargai, seharusnya Kakak menghargai orang dulu. Nangan datang-datang main usir dan mengatai saya kingkong."ucap Maharani tidak terima kalau dirinya diusir dari tempat duduknya sebelumnya.
Padahal Maharani yang lebih dulu duduk di sana. Ia sengaja duduk di bawah pepohonan rindang untuk membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan.
"Memangnya kamu siapa?
"Kamu pemilik kampus ini?
"Tidak,kan?
"Kamu tidak tahu siapa saya?"ucap pria itu yang mampu membuat Maharani mengerutkan keningnya. Yang ternyata pria itu merupakan salah satu mahasiswa semester lima jurusan tehnik elektro, dia juga merupakan rival dari Devano.
Pria itu langsung terdiam. Memang Maharani tidak pernah memiliki kesalahan kepadanya. Hanya saja, pria itu tidak suka melihat Maharani berada di sana, dan duduk di dekatnya. Karena Ia merasa harganya dirinya akan turun, jika berdekatan dengan seorang wanita jelek, gendut, seperti Maharani.
"Ya sudah, Kak. Aku permisi dulu ya. aku hanya berpesan kepada kakak, Jangan pernah terprovokasi dengan omongan orang lain. Jika orang lain membenci Maharani, karena bobot tubuh Maharani yang di atas rata-rata, Kakak Tidak perlulah ikut-ikutan membenci Maharani. Karena aku tahu, Kakak itu orangnya baik. Tetapi karena terprovokasi dan suntikan dari orang-orang terdekat Kakak, sehingga Kakak pun ikut-ikutan membenci Maharani." ucap Maharani sambil berlalu dari sana meninggalkan pria itu kedua temannya.
"Bro, bener juga apa yang dikatakan wanita itu tadi. Kita kan, belum mengenalnya sama sekali. Tapi mengapa kita harus membencinya, hanya karena tubuhnya gendut jelek. Padahal dia memiliki akhlak yang baik. lihatlah, dia masih berusaha berbicara sopan kepadamu, walaupun kamu sudah kasar dan mengejeknya. Mungkin kalau itu wanita lain, Entah apa yang sudah terjadi. Mungkin kamu sudah dimaki-maki." ucap Ronald kepada Jonathan.
"Ya Allah, Mengapa sih berat badan ku ngak turun-turun. Padahal aku selama ini sudah diet. Bahkan, malam saja aku sudah tidak makan lagi walaupun terasa lapar." gumam Maharani dalam hati. Maharani bingung bagaimana caranya menurunkan bobot tubuhnya. Dia sudah melakukan metode-metode yang ada di YouTube.
"Hei...! melamun aja." celetuk Sabrina menghampiri Maharani.
"Eh kamu, habis dari mana keringatan seperti itu?
"Habis jambak-jambakan sama Dewi." ucap Sabrina enteng.
"Apa? Jambak-jambakan?
"Serius?
"Dua rius!" nggak mungkin juga aku membohongi sahabat terbaikku.
"Kok bisa?
"Ya, bisa lah. Secara Kamu kan tahu bagaimana mulut cabe Dewi. aku rasa Mamanya waktu ngidam dia, makan cabe sekebon." ucap Sabrina sambil terkekeh
"Aku serius loh, Katakan ada apa? Mengapa kalian bisa sampai jambak-jambakan.
"Aku tidak terima, aku dan kamu difitnahnya kepada Devano." ucap Sabrina geram.
Sebelumnya.
Sabrina berpamitan kepada Maharani saat mereka duduk di kursi batu, di bawah pepohonan rindang yang ada di taman belakang kampus. Karena pada saat itu, Sabrina ingin ke toilet.
Saat Sabrina berjalan ke arah toilet, tanpa Dia sengaja, ia mendengar percakapan antara Dewi dengan Devano. Dewi memfitnah Maharani. Dewi mengatakan kalau Maharani yang melemparkan kertas contekan itu kepadanya sehingga Pak Susilo, melihat dirinya membuka kertas contekan itu, hingga Dewi mendapatkan nilai E.
Karena tidak terima sahabatnya difitnah oleh Dewi, sehingga Sabrina langsung melabrak wanita itu. Hingga kedua wanita itu pun jambak-jambakan. Saat itu Devano membela Dewi habis-habisan. Membuat Sabrina tidak dapat mengendalikan emosinya. Sabrina menjambak rambut Dewi hingga rambut wanita itu acak-acakan, sudah seperti kuntilanak.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN