Di Bully Karna Obesitas

Di Bully Karna Obesitas
BAB 32. KEDATANGAN GIBRAN


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih sepuluh menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Rina pun tiba di depan gang rumah Maharani. Maharani dan ibu Halimah turun dan meminta kepada Rina untuk singgah ke rumah sederhana milik mereka.


Tapi karena ini sudah hampir malam, sehingga Rina langsung pulang saja.


"Kamu tidak mampir dulu Nak Rina?" tanya ibu Halimah.


"Maaf Bu, ini sudah hampir malam, Lain kali saja saya mampir." sahut Rina sambil mengembangkan senyumnya. Ketika ibu Halimah dan Maharani sudah berjalan memasuki gang, Rina melajukan mobilnya ke arah jalan raya menuju rumah utama keluarganya.


Keesokan harinya, kondisi Devano masih seperti sebelumnya. Belum ada perkembangan yang signifikan. Membuat Nyonya Murni dan Tuan Herlambang benar-benar mengkhawatirkan kondisi kesehatan Putra mereka. Nyonya Murni terus menyalahkan Tuan Herlambang atas kejadian yang menimpa putranya.


Sementara Gibran dan teman-teman satu geng dengan Devano, berniat ingin menjenguk teman mereka yang saat ini berbaring lemah di atas branker, tepatnya di ruang ICU.


Tiga orang pemuda itu berjalan masuk ke rumah sakit. Gibran bertanya kepada salah satu suster yang bertugas di sana.


"Maaf suster, pasien atas nama Devano Herlambang dirawat di mana, ya? tanya Gibran kepada suster itu.


"Pasien kecelakaan atas nama Devano dirawat di ruang ICU?


"Apa?


"Di ruang, ICU?


"Iya, pasien atas nama Devano dirawat di ruang ICU?


Gibran dan kedua temannya terhenyak mereka tidak menyangka kalau kondisi Devano kritis. Ketika pemuda itu berjalan menelusuri trotoar rumah sakit hingga langkah mereka terhenti Di depan ruang ICU. Dimana, Di sana adanya murni dan Tuan Herlambang.


"Assalamualaikum! Om, Tante." sapa ketiga pemuda itu sambil memberi salam kepada Nyonya Murni dan Tuan Herlambang.


"Waalaikumsalam." suhut Tuan Herlambang.


"Bagaimana kondisi Devano saat ini Om?" tanya Devano kepada Tuan Herlambang yang saat ini berusaha menenangkan istrinya.


"Semalam habis operasi kondisi Devano masih kritis. Hingga saat ini belum ada perkembangan apa-apa."ucap Tuan Herlambang memberitahu membuat Gibran dan kedua temannya benar-benar terkejut.


"Kalau memang ceritanya seperti itu, berarti ada seseorang yang sengaja mencelakai Devano."ucap Gibran menduga.


Sebenarnya Tuan Herlambang juga memiliki kecurigaan kalau kecelakaan itu unsur kesengajaan. Tapi karena Tuan Herlambang belum memiliki cukup bukti, sehingga dirinya menyerahkan kasus kecelakaan yang menimpa Devano kepada pihak kepolisian.


Tapi Tuan Herlambang juga tidak lepas tangan, tanpa sepengetahuan Nyonya Murni dan pihak kepolisian, Tuan Herlambang juga meminta kepada anak buahnya untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa putranya.


"Apakah kami bisa melihat kondisi Devano Om?" tanya Gibran. Lima belas menit lagi jam besuk. Tapi masuknya tidak boleh bareng-bareng, harus satu-satu . Tuan Herlambang memberitahu kepada teman temannya peraturan di rumah sakit itu, jika menjenguk orang yang mau dirawat di ruang ICU.


"Ya sudah, kita tunggu saja!" ketiga pemuda itu pun duduk di ruang tunggu menunggu jam besuk tiba.


Lima belas menit berlalu. Kini suster sudah mengijinkan keluarga pasien untuk melihat kondisi Devano saat ini. Kali ini giliran Devano dan teman-temannya. Saat satu persatu mereka masuk ke ruang ICU itu, untuk melihat kondisi Devano. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau teman mereka yang selama ini suka jahil dan terkenal sebagai lelaki rebutan di kampus, berbaring lemah di atas branker yang berada di ruang ICU.


"Kamu harus kuat Devano, Kamu harus bangkit kembali. Aku yakin kamu lelaki yang kuat."bisik Gibran di telinga Devano. Mereka pun secara bergantian memberikan semangat kepada Devano. Berharap Devano cepat sadar dan dapat berkomunikasi lagi dengan mereka.


Setelah ketiga teman Devano sudah selesai menjenguk Devano, kini giliran Nyonya Murni masuk. Nyonya Murni terus menangis sejadi-jadinya di sana. Tanpa ia sadari seseorang datang menghampiri Nyonya Murni yang tak lain dan tak bukan adalah seorang suster


"Bu, Jangan menangis histeris di sini. Ini ruang ICU,ruang steril. Sehingga pihak rumah sakit tidak dapat membesuk pasien dengan sembarangan. Tolong kontrol emosi Ibu." ujar suster itu kepada Nyonya Murni yang sedari tadi menjerit-jerit menangis, karena melihat kondisi putranya Belum menunjukkan perkembangan.


"Apa yang harus Mama lakukan supaya kamu dapat pulih kembali sayang. Ayo Sayang kembalilah kepada Mama. Bangun sayang, Mama selalu ada di sampingmu. Mama tidak tahu harus apa lagi sekarang. Sayang, ayo putra Mama bangun! kamu permata Hati Mama." tangis Nyonya Murni membuat sang suster pun tidak dapat membendung air matanya.


Dia mengetahui bagaimana perasaan Nyonya Murni saat ini. Apalagi suster itu mengetahui kalau Devano adalah putra Nyonya Murni dan Tuan Herlambang satu-satunya. Sungguh begitu miris, jika terjadi sesuatu kepada Devano.


Kemudian suster itu pun kembali mendekat kepada Nyonya murni, mencoba menenangkan Nyonya Murni. Agar tetap tenang dan berdoa meminta mukjizat si pemilik kehidupan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN