
Sabrina, Rina, dan Maharani langsung menghampiri Ibu Halimah.
"Ibu Bagaimana kondisi Devano saat ini?"
"Ibu juga belum tahu, tapi dokter harus segera mengoperasinya. Karena kata dokter kondisinya semakin kritis. Dokter mengatakan ada pendarahan di bagian otak, Sehingga operasi itu tidak dapat ditunda, sampai menunggu kedua orang tuanya datang ke rumah sakit memberikan persetujuan.
"Innalillahi'wainnailaihirojiun! Tapi kenapa Devano bisa mengalami kecelakaan Bu? tanya Maharani.
"Ibu juga tidak tahu, saat ibu pulang dari apotik untuk membeli obat Ayah kamu, Ibu sudah melihat tubuh Devano bersimbah darah di atas trotoar. Kata orang yang melihat kejadian itu, ada sebuah truk yang menabrak Devano. Saat Devano hendak menyebrang. hingga tubuhnya tercampak ke trotoar.
"Astagfirullah! jadi kedua orang tua Devano sudah mengetahui kejadian ini?"tanya Maharani dan Rina secara bersamaan.
Ibu Halimah menggelengkan kepalanya. Sabrina yang mengetahui kalau Rina itu mantan kekasih dari Devano, langsung menghampiri Rina yang masih berdiri terpaku di sana.
"Kamu pasti memiliki kontak Devano, atau kontak orang tuanya. Jika kamu memiliki kontak orang tuanya, Tolong hubungi orang tua Devano."ujar Sabrina
"Saya sama sekali tidak memiliki nomor ponsel orang tua Devano. Tapi coba saya hubungi Gibran Siapa tahu dia memiliki nomor kontak orang tuanya Devano."sahut Rina sambil langsung meraih ponselnya yang ada di tas sandang miliknya.
Kemudian ia mencari nomor ponsel Gibran. Ia pun langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Ketika nomor ponsel Gibran sudah ia temukan di sana.
Belum juga Rina berbicara di dalam sambungan telepon seluler dengan Gibran, seorang suster keluar dari ruang operasi.
"Maaf,kondisi pasien Saat ini semakin kritis, dan kami membutuhkan golongan yang darah yang sama dengan pasien. Tapi masalahnya golongan darah seperti yang dimiliki pasien di rumah sakit ini lagi kosong. Kami juga sudah menghubungi PMI terdekat, tapi stok di PMI juga saat ini lagi kosong. Tolong bantu kami mencari donor darah untuk pasien.
"Maaf suster, Kalau boleh tahu golongan darah pasien apa ya?"
"Golongan darah pasien AB positif." sahut suster itu.
"Kebetulan suster golongan darah saya AB positif. Mungkin saya bisa mendonorkan darah saya." sahut Maharani.
Suster itu menatap Maharani dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia melihat postur tubuh Maharani yang di atas rata-rata.
"Okey, kita akan cek golongan darah kamu apakah kamu bisa mendonorkan darah untuk pasien." ucap suster itu sambil meminta kepada Maharani untuk segera mengikuti dirinya.
"Ran, Kamu beneran mau mendonorkan darahmu kepada pria itu?"tanya Rina kepada Maharani.
"Siapa tahu cocok kan nggak masalah, Lagian kata suster, persediaan donor darah di rumah sakit ini yang sama dengan Devano lagi kosong. Begitu juga dengan PMI terdekat. Mudah-mudahan aku bisa mendonorkan darahku, agar Devano bisa selamat. Doakan ya." ujar Maharani.
"Masya Allah, begitu baiknya hati Maharani. Padahal dia sudah kerap sekali dibully oleh Devano. Tapi dia tetap saja berbuat baik kepada pria yang tak tahu di untung itu." gumam Rina di dalam hati.
Maharani pun sudah berada di ruang pemeriksaan. Ketika suster memeriksa golongan darah milik Maharani, ternyata dia bisa mendonorkan darahnya kepada Devano.
"Mungkin dengan aku bisa mendonorkan darahku kepada Devano,dia dapat selamat. Dan menurut artikel yang aku baca di Google, kalau kita sering-sering mendonorkan darah tubuh kita juga akan semakin sehat."Maharani bermonolog sendiri.
Transfusi darah pun dilakukan. Kondisi Devano yang saat ini sudah semakin kritis, membuat dokter sedikit khawatir kalau Devano tidak dapat bertahan. Tetapi setelah mendapatkan donor darah dari Maharani, harapan Dokter kembali ada, Devano dapat selamat.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Nyonya murni dan Tuan Herlambang sudah tiba di rumah sakit. Sementara Devano masih berada di ruang operasi
"Nyonya murni yang melihat beberapa orang berdiri di depan ruang operasi, langsung bertanya kepada Rina. Yang kebetulan Nyonya Murni sudah mengenal Rina.
"Rina apa yang terjadi Mengapa bisa sampai seperti ini?
"Maaf Tante, Rina juga tidak tahu, tadi Maharani yang memberitahu kepada kami. Karena Ibu Halimah yang menghubungi Maharani, dan memberitahu Devano saat ini sedang berada di rumah sakit, Karena kecelakaan yang dialami oleh Devano.
Sementara pria paruh baya yang membawa Devano ke rumah sakit sudah berpamitan kepada Ibu Halimah. Berhubung mereka masih memiliki urusan yang sangat penting, sehingga mereka tidak dapat menunggu lebih lama.
"Apa yang terjadi Bu? mengapa Putra saya mengalami seperti ini?
"Saat Devano menyeberang, ada sebuah mobil truk yang melaju dengan kecepatan tinggi. Sehingga laju mobil itu tidak dapat dikendalikan lagi dan kecelakaan itu pun terjadi. Sayangnya pengemudi mobil truk itu tidak mau berhenti. Justru ia langsung melajukan truknya dengan kecepatan tinggi.
Saya yang melihat kejadian itu pun terkejut, dan saya meminta kepada orang yang ada di sana untuk membantu saya menghantarkan Devano ke rumah sakit ini." Ibu Halimah memberitahu.
Tiba-tiba lampu ruang operasi mati. Itu artinya operasi sudah selesai dilakukan. Dokter yang bertugas menangani Devano keluar dari ruang operasi. Dokter langsung diserbu oleh ibu Halimah dan orang-orang yang ada di sana.
"Bagaimana keadaan Putra saya dokter?" tanya Nyonya murni yang sudah tidak sabaran lagi ingin mengetahui keadaan putranya.
"Alhamdulillah operasinya berhasil kita lakukan. Semua itu berkat seorang wanita yang bersedia mendonorkan darahnya. Padahal sebelumnya saya sudah sangat mengkhawatirkannya, karena persediaan golongan darah yang ada di rumah sakit ini tidak ada yang sama dengan pasien. Bahkan di PMI terdekat juga tidak ada. Tapi alhamdulillah, karena ada wanita yang berbaik hati, langsung mendonorkan darahnya kebetulan golongan darahnya sama dengan pasien, Sehingga operasi itu dapat Kami lanjutkan.
"Jadi bagaimana kondisi anak saya dokter?
"Kita lihat saja nanti. Kondisinya masih kritis, tapi operasinya sudah berhasil kita lakukan. Lebih baik ibu dan semuanya yang ada di sini, berdoa agar pasien dapat pulih kembali." ujar dokter itu sambil berpamitan. Nyonya murni dan Tuan Herlambang sangat mengkhawatirkannya Devano.
"Ini semua gara-gara papa!! Kalau Papa tidak mengusir Putra kita, maka ini tidak akan terjadi!! Mama tidak akan memaafkan Papa jika terjadi sesuatu kepada Devano!!" ucap Nyonya murni menyalahkan suaminya atas kejadian yang dialami Devano saat ini.
Nyonya Murni menangis sejadi-jadinya. Ia tidak tau harus berbuat apa saat ini. Ia juga belum bisa melihat kondisi putranya yang masih ada di ruangan itu.
Kemudian suster pun Kembali keluar dari ruang operasi, yang dihampiri langsung oleh Nyonya Murni.
"Suster, Apa saya bisa menjenguk Putra saya?" tanya Nyonya Murni.
"Maaf Bu, pasien Baru saja kami bawa ke ruang ISU, karena kondisi pasien masih sangat kritis. Jadi untuk saat ini pasien belum bisa di jenguk." sahut suster itu sambil berlalu meninggalkan Nyonya Murni.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN