
Sepeninggalan Sabrina, Maharani kembali menghampiri kedua orang tuanya. "Kenapa Ayah sampai bisa kecelakaan seperti ini Bu?"
"Ibu juga tidak tahu Nak, tadi ketika Ibu sedang bekerja mencuci di rumah tetangga, seseorang datang Memanggil ibu dan memberitahu kalau Ayah kamu dilarikan ke rumah sakit. Menurut informasi yang Ibu terima dari orang itu, kalau Ayah kamu saat merapikan batu bata, tiba-tiba saja balok yang ukurannya lumayan besar jatuh dan mengenai Ayah kamu. Sehingga tangan kiri Ayah kamu mengalami patah tulang, dan kepala Ayah kamu juga mengalami luka karena sudut balok itu mengenai kepala Ayah kamu."Ibu Halimah menuturkan kepada Maharani memberitahu kronologis kejadian yang menimpa Pak Joko.
"Astaghfirullah! jadi kita kudu gimana Bu?"
"Ibu juga bingung Nak? Entah dari mana kita mencari biaya pengobatan Ayah kamu. Keluh Ibu Halimah yang mampu membuat Maharani semakin khawatir.
"Tapi Maharani berusaha untuk menguatkan Ibu Halimah. "Ibu tenang saja, aku masih memiliki sedikit tabungan yang rencananya uang itu akan Maharani manfaatkan untuk membeli laptop. Kita akan pergunakan uang itu untuk biaya pengobatan ayah."
"Tapi bagaimana dengan laptop kamu, Nak? kamu pasti membutuhkannya.
"Maharani memang membutuhkannya Bu, tapi yang lebih membutuhkannya saat ini adalah ayah."Maharani mencoba memberikan pengertian kepada Ibu Halimah.
Ibu Halimah menghela nafas panjang.
"Kalau begini, Ayah pasti tidak akan bisa bekerja dalam waktu yang dekat, aku harus mencari pekerjaan sekarang juga. Kalau uang tabunganku habis untuk biaya pengobatan ayah, mau dari mana uang belanja kami sehari-hari."Maharani bermonolog sendiri.
Keesokan paginya, Maharani berpamitan kepada Ibu Halimah untuk segera berangkat ke kampus. Tetapi sebelumnya Maharani kembali terlebih dahulu ke rumah, untuk sekedar mempersiapkan bekal untuk ibu Halimah berjaga di rumah sakit.
Setelah Maharani kembali ke rumah sakit dengan menghantarkan bekal untuk ibu Halimah, ia pun berpamitan kepada Pak Joko dan ibu Halimah untuk segera berangkat ke kampus.
Wanita itu memberi salam kepada Ibu Halimah. Kemudian ia menghampiri ayahnya yang masih berbaring lemah di atas branker.
"Ayah,Rani pamit dulu. Ayah cepat sembuh ya jangan lupa makan dan minum obatnya. Maharani mencium punggung tangan Pak Joko dengan takzim.
Setelah berpamitan, Maharani berlalu dari rumah sakit. Di sepanjang perjalanan dia memutar otak Bagaimana caranya dia dapat membantu keluarga untuk kebutuhan mereka sehari-hari.
Dia sengaja berjalan kaki ke kampus, walaupun jaraknya lumayan jauh. Saat di perjalanan ia melihat lowongan kerja yang ditempel di tiang listrik. Salah satu Cafe yang lokasinya dekat dari kampusnya, ternyata membutuhkan seorang pelayan.
Maharani mengembangkan senyumnya. "Pucuk dicinta ulam pun tiba. Bismillah, semoga aku diterima bekerja di sini paruh waktu."gumam Maharani di dalam hati sembari langsung menyalin nomor whatsApp yang tertera di dalam kertas itu.
Kemudian Maharani kembali berjalan menelusuri bahu jalan. Hingga ia tiba di gerbang sekolah setelah berjalan kaki selama tiga puluh menit.
Kali ini Sabrina tidak dapat menjemputnya dari rumah sakit. Karena Sabrina saat ini harus mengantarkan adiknya terlebih dahulu ke sekokampus.aru dia berangkat ke kampus. Berhubung karena ayahnya tidak dapat menghantarkan adiknya ke sekolah.
Saat Maharani tiba di gerbang sekolah, dia sudah disambut dengan tatapan tajam dari seorang Devano. Tapi ia memilih untuk cuek saja dan tak peduli dengan tatapan Devano.
Maharani berjalan melewati Devano dan gengnya. Kini dia sudah berada di dalam kelas. Maharani berusaha fokus untuk mengikuti mata kuliah. Berharap dia dapat segera menyelesaikan pendidikannya di kampus itu.
Salah seorang dosen menghampiri Maharani.
"Mata kamu kenapa?
"Tidak apa-apa Pak." sahut Maharani berusaha untuk menutupi keadaan keluarganya saat ini.
"Ya sudah kalau begitu, sekarang kumpulkan tugasmu yang saya berikan minggu yang lalu." titah sang dosen yang langsung dibalas anggukan dari Maharani.
"Semuanya tolong kumpulkan tugas yang saya berikan minggu yang lalu kepada kalian."titah Pak Susilo.
Semua mahasiswa mahasiswi yang ada di kelas itupun segera mengumpulkan tugasnya masing-masing termasuk juga dengan Sabrina. Berbeda dengan Anggraini, Dewi Begitu juga dengan Puspita. Ketiga sekawan ini sama sekali tidak mengumpulkan tugas yang diberikan oleh dosen.
"Kalian bertiga mana tugas kalian? tanya Pak Susilo penuh selidik
Ketiganya langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal pura-pura lupa tugas yang diberikan oleh sang dosen.
"Saya katakan sekali lagi, mana tugas kalian yang minggu lalu saya berikan!!" kini suara pak Susilo semakin meninggi.
"Maaf Pak, Saya lupa." sahut Puspita Begitu juga dengan Anggraini dan Dewi.
"Kalian bertiga yang tidak mengerjakan tugas dari saya, silakan keluar! Saya tidak ingin manusia seperti kalian berada di kelas ketika mata kuliah saya berlangsung." titah Pak Susilo dengan suara yang meninggi membuat nyali Puspita, Dewi, dan Anggraini menciut.
Ketiga wanita itu berlalu keluar dari kelas dengan bersungut-sungut, mereka berjalan keluar.
Pak Susilo pun mengajarkan mata kuliah yang selama ini ia bawakan untuk para mahasiswa mahasiswi. Terlihat Maharani berusaha untuk fokus untuk mengikuti mata kuliah. Walaupun ada rasa kekhawatiran di dalam hatinya mengenai kondisi ayahnya yang saat ini masih berbaring lemah.
Dua jam sudah berlalu. Pak Susilo menyudahi kegiatan belajar mengajar di kelas Maharani. Para mahasiswa mahasiswi sudah berhamburan keluar. Maharani langsung beranjak dari tempat duduknya berniat untuk pergi ke cafe yang pagi tadi Ia mendapatkan poster lowongan kerja di tiang listrik.
Sabrina menghampiri Maharani. "Kamu mau ke rumah sakit ya, Maharani? tanya Sabrina
"Nggak, mungkin aku nanti sore ke rumah sakit. Saat ini aku berniat pergi ke cafe ini." ucap Rani memberikan selembar kertas kepada Sabrina.
"Oh iya, aku lupa memberitahumu. Kemarin memang pemilik cafe itu mengatakan kalau mereka membutuhkan pelayan. Mungkin kamu bisa bekerja di sana. Tapi mungkin gajinya tidak terlalu besar, karena kamu bekerja hanya paruh waktu.
"Tidak apa-apa, yang penting aku mendapatkan penghasilan yang dapat membutuhi kebutuhan kami sehari-hari."sahut Maharani sambil berusaha mengembangkan senyumnya.
"Ya sudah, kalau begitu ayo aku antar.
"Nggak usah, biarkan aku jalan kaki sendiri.
"Sudah, jangan menolak, Biar aku antar. Habis mengantar kamu aku langsung menjemput adikku. Kalau kamu bisa membagi waktu, sebelum kamu kerja di cafe itu, boleh nggak kira-kira kamu mau ngajar les privat untuk adikku? sepertinya adikku kesulitan dalam mata pelajaran matematika.
"Insya Allah aku bisa, kalau kamu berkenan Begitu juga dengan adikmu."
Sabrina mengembangkan senyumnya. lalu ia merangkul sahabatnya keluar dari dalam kelas mereka berjalan berdua hingga ke parkiran.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN