
Setelah ujian semester pertama telah Berlalu dan pengumuman nilai terpampang di mading kampus, Semua mahasiswa mahasiswi semester pertama berkerumun untuk melihat nilai mereka di Mading.
Tetapi sebelum nilai-nilai mahasiswa mahasiswi itu diumumkan, dan dipampangkan di Mading kampus, nilai Maharani sudah lebih dulu dikirim langsung oleh pihak kampus kepada tuan Herlambang. Karena Tuan Herlambang berhak mengetahui prestasi mahasiswi mahasiswa yang ia berikan beasiswa untuk mahasiswa berprestasi.
Sabrina yang lebih dulu melihat nilainya di mading dibandingkan Maharani. Dia bersorak kegirangan. Karna nilai sahabatnya itu merupakan nilai tertinggi di kelas mereka. Dan nilainya sendiri, berada di nomor urut Dua.
Melihat Sabrina bersorak kegirangan, mengalihkan atensi para mahasiswa mahasiswi yang berkerumunan di sana. Setelah Maharani tiba di kampus, dia melihat kerumunan mahasiswa mahasiswi. Sabrina langsung berlari menghampiri sahabatnya itu, Lalu memeluknya . Membuat Maharani sedikit bingung melihat tingkah sahabatnya itu.
"Ada apa? Sepertinya kamu bahagia sekali hari ini."
"Tentulah aku bahagia, karena sahabat baikku mendapatkan nilai tertinggi semester awal ini dan aku nomor duanya.
"Kamu serius?
"Iya, aku serius. Nggak mungkin juga aku membohongi kamu besty."sahut Sabrina.
sementara mahasiswa mahasiswi yang ada di sana, langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah 2 wanita itu.
"Nggak pantes banget manusia kerbau mendapatkan nilai tertinggi. Aku yakin pasti ada yang salah."ucap salah seorang mahasiswa yang menatap Maharani dengan tatapan kebencian.
"Apanya yang salah?"tiba-tiba Pak Susilo yang kebetulan lewat di sana mendengar ocehan mahasiswa yang tidak terima kalau Maharani mendapatkan nilai tertinggi.
"Emmmm... tidak ada Pak."ucap mahasiswa itu gugup karena merasa ketakutan ketika melihat Pak Susilo berada di sana.
Semua mata mahasiswa mahasiswi yang ada di sana tertuju kepada Maharani dan juga Sabrina.
"Aku merasa tidak enak melihat tatapan mereka, lebih baik kita pergi dari sini."Maharani menarik tangan Sabrina untuk segera meninggalkan kerumunan mahasiswa mahasiswi itu. Apalagi dia melihat tatapan dari para teman-temannya menatapnya dengan tatapan tidak suka.
Sehingga mereka berdua pun langsung menuju perpustakaan. Maharani memutuskan untuk pergi ke perpustakaan karena menurutnya perpustakaan lah tempat yang paling nyaman baginya.
Jika Maharani berada di perpustakaan, tak ada seorangpun yang berani mengolok-oloknya. Karena peraturan di dalam perpustakaan itu tidak diperbolehkan ribut.
Apalagi Pak Komo yang merupakan penjaga perpustakaan, terkenal killer. Membuat setiap mahasiswa mahasiswi yang mendatangi perpustakaan, bahkan meminjam buku ke sana, tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Sekalipun itu Devano yang merupakan putra dari donatur terbesar di kampus Gunadarma.
Jam mata kuliah Telah usai, kini Maharani memutuskan untuk segera kembali ke rumah.
"Ran, kamu mau langsung pulang? tanya Sabrina
"Iya,"sahut Maharani singkat.
"Kalau begitu kita barengan saja yuk. Aku juga sudah mau pulang, malas nongkrong di kampus semuanya tidak ada yang berbobot yang mau diobrolkan dengan mereka."ucap Sabrina sambil langsung memakai helm miliknya.
"Yuk, naik." ujar Sabrina agar Maharani duduk di jok belakang motor matic milik Sabrina. Motor yang dikendarai Sabrina meninggalkan gerbang kampus. Tanpa mereka sadari Devano dan teman-temannya mengikuti mereka dari belakang.
Devano penasaran siapa sosok Maharani yang sebenarnya. Karna baginya, sungguh tidak mungkin wanita seperti Maharani memiliki otak yang cerdas kalau dia tidak berasal dari keluarga yang berada. Karna menurutnya, kemampuan yang di miliki Maharani melebihi orang orang yang sudah menjalani pendidikan di sekolah internasional sebelumnya.
Sabrina yang mengetahui kalau mereka diikuti oleh Devano beserta teman-temannya, Iya mengembangkan senyumnya.
"Kamu tahu, di belakang eda yang mengikuti kita. Pasti ada yang kepo siapa kamu yang sebenarnya, setelah mengetahui nilai kamu yang tertinggi di kampus." ucap Sabrina kepada Maharani.
"Memangnya siapa yang mengikuti kita?" sahut Maharani dengan suara yang sedikit meninggi. Agar Sabrina mendengar suaranya, mengingat suara laju motor begitu nyaring.
"Kamu tenang saja, lebih baik kita kerjain mereka."
"Gimana caranya?
Mobil yang dikendarai Devano beserta teman-temannya mengikuti motor matic Sabrina. Sabrina sengaja melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Maharani sedikit merasa takut. Hingga akhirnya motor matic milik Sabrina tiba di sebuah gang, yang mana gang itu bisa tembus ke rumah keluarga Maharani.
"Di mana mereka? sepertinya mereka tadi arah ke sini deh, Tapi kok cepat banget hilangnya."ucap Devano merasa kesal karena mereka kehilangan jejak Maharani dan juga Sabrina.
Mereka pun berpencar, ada yang ke utara dan ada yang ke selatan. Tapi ketika mereka melakukan pencarian, Maharani dan Sabrina mereka sama sekali tidak menemukan kedua wanita itu.
"Aneh bin ajaib, wanita itu benar-benar aneh atau jangan-jangan dia manusia jadi-jadian? tebak Devano membuat teman-temannya tertawa ngakak.
"Bisa saja sih, apa tidak kamu lihat postur tubuhnya sudah seperti kingkong. Aku rasa makannya banyak sampai sepuluh piring." ucap Marko membuat Devano pun ikut tertawa ngakak.
"Bisa saja sih. Kalau Tidak, mana mungkin bobot tubuhnya seperti itu."
"Ya sudahlah, lebih baik kita pulang. Besok lagi kita cari tahu siapa sosok manusia jadi-jadian itu." ucap Devano sembari langsung masuk ke dalam mobil miliknya. Kemudian ia menghidupkan mesin mobil itu, dan kembali melajukannya menuju rumah utama keluarga Herlambang.
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah gubuk milik keluarga Maharani. Sabrina tertawa ngakak dan juga Maharani ketika mereka sudah berhasil mengelabui Devano dan kawan-kawan.
Tiba-tiba suara ponsel milik Sabrina terdengar jelas di telinganya. Ia melihat di layar ponselnya kalau yang menghubunginya tertera my mother.
Sabrina langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Mamanya.
"Halo assalamualaikum Ma." sapa Sabrina di dalam sambungan telepon selulernya.
"Waalaikumsalam nak, kamu di mana?
"Sabrina lagi ada di rumah teman Ma,. ada apa ada yang bisa Sabrina bantu?
"Kalau boleh kamu agak cepat pulang ya, Nak. Soalnya Mama mau pergi wirid."
"Oh sebentar lagi Sabrina akan pulang Ma, Mama Tenang saja.emangnya Mama wirid jam berapa?
"Sekitar setengah jam lagi, Kamu bisa nggak agak cepat pulangnya?"
"Ya udah, Sabrina pulang Ma." sahutnya sambil langsung memutuskan sambungan telepon selulernya.
Kemudian Sabrina berpamitan kepada Maharani. Karena permintaan dari Mamanya dia harus segera pulang, mengingat sang Mama akan ada acara wirid untuk ibu-ibu berada di kompleks perumahan tempat mereka tinggal.
Tiba-tiba Ibu Halimah sudah tiba di rumah. Ibu Halimah baru pulang dari rumah tetangga yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah gubuk milik keluarga Maharani.
"Ibu sudah pulang?
"Iya nak, Bagaimana kuliah Kamu hari ini Apa semuanya berjalan dengan lancar?
"Alhamdulillah sejauh ini masih lancar Bu, doakan agar Maharani kelak menjadi orang yang berhasil, yang dapat mengangkat derajat keluarga kita ya Bu." ucap Maharani sambil menatap Ibu Halimah dengan tatapan penuh arti
Ibu paruh baya itu dan juga Maharani pun masuk ke rumah. Pak Joko yang saat ini sedang bekerja di sebuah proyek masih belum kembali ke rumah. Biasanya Pak Joko pulang sekitar jam 06.00 sore. Sehingga Maharani dan ibu Halimah memutuskan untuk mempersiapkan makan malam untuk mereka.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN