
Di saat orang tua Devano mengusirnya dari rumah utama keluarga Herlambang. Maharani justru mendapat kabar kalau dirinya akan diutus oleh pihak kampus mengikuti studi banding ke luar negeri.
Jujur sebenarnya Maharani terhenyak, ketika para dosen dan dekan memutuskan untuk mengirim Maharani mengikuti olimpiade tersebut. Menurut Maharani dia belum pantas. Masih banyak, mahasiswa dan mahasiswi yang lebih pantas diutus ke negara Eropa, untuk mengikuti studi banding dan olimpiade itu.
Tetapi keputusan sudah mutlak, dekan dan para dosen sudah membuat keputusan. Kalau dia lah yang akan diutus oleh pihak kampus.
"Bagaimana ini? jika aku berangkat ke sana otomatis Aku Akan berhenti bekerja di cafenya milik Bang Hendra. Padahal selama ini aku mencari nafkah di sana untuk membantu kebutuhan keluarga sehari-hari," gumam Maharani
"Dan bagaimana dengan adiknya Sabrina, Aku tidak akan bisa mengajar les privat lagi nanti, jika aku pergi." kembali Maharani bergumam
Tetapi jika dia menolak, dia khawatir kalau beasiswanya akan dicabut dan dialihkan kepada orang lain.
Sabrina yang mengetahui nama sahabatnya, salah satu mahasiswa yang diutus oleh pihak kampus untuk studi banding ke luar negeri. Dia merasa bahagia. Dia tidak menyangka sahabatnya itu memang benar-benar luar biasa. Tak salah Sabrina meminta kepada Maharani untuk mengajari Adiknya. Adiknya yang duduk di bangku kelas 2 SMA juga memiliki peningkatan yang signifikan, setelah Maharani mengajari Adiknya.
"Sudahlah Ran, kamu tidak perlu khawatir. kalau masalah pekerjaan di cafe, setelah kembali kamu dari sana, Kamu kan bisa bekerja lagi. Tapi kita meminta izin dulu kepada Bang Hendra untuk beberapa saat kamu cuti dulu bekerja di sana."ujar Sabrina kepada Maharani. Karena Sabrina mengetahui kegelisahan yang ada di dalam hati Maharani saat ini.
"Tapi bagaimana dengan adik kamu? aku sudah terlanjur menerima gaji bulan ini mengajar les privat Adik kamu. Sementara jika aku pergi mengikuti studi banding ini, pasti aku tidak bisa mengajar Adik kamu selama aku berada di Eropa dan kamu tau sendiri kondisi ayah aku bagaimana. Aku tidak tega meninggalkan ayah aku, dalam situasi seperti saat ini."ucap Maharani merasa tidak enak hati kepada Sabrina.
"Ya, Allah. Masalah itu kamu pikirkan. Itu aman biar aku nanti yang berbicara kepada Papa dan Mama aku begitu juga dengan adikku. Mereka juga pasti bangga mendengarkan kamu yang diutus oleh pihak kampus untuk mengikuti studi banding dan olimpiade di Eropa. Itu artinya mereka tidak salah mempercayakan kamu mengajar adikku."ucap Sabrina lagi-lagi membuat Maharani terdiam.
"Saatnya kamu di sini menunjukkan kepada orang-orang kemampuan kamu, agar orang-orang yang mengejek dan mengolok-olok kamu diam setelah mengetahui prestasi yang kamu miliki."ucap Sabrina.
Dukungan Sabrina dan para dosen Begitu juga dengan orang tua Maharani, sehingga dirinya pun akhirnya setuju mengikuti studi banding itu.
Berharap dia dapat mengharumkan nama kampus. Begitu juga dengan dekan dan para dosen lainnya. Walaupun awalnya Pak Jonas tidak menyetujui, kalau Maharani salah satu mahasiswi yang dikirimkan untuk studi banding ke luar negeri. Dengan alasan kampus akan merasa malu memiliki mahasiswi seperti Maharani memiliki bobot tubuh yang obesitas.
Pak Susilo dan dekan di kampus Gunadarma meminta kepada Maharani agar fokus mengikuti studi banding dan olimpiade di Eropa. Mempersiapkan fisik dan mentalnya.
"Pak, Apa tidak sebaiknya saya digantikan orang lain saja? saya lihat masih banyak mahasiswa-mahasiswi di kampus ini yang lebih pantas untuk diutus oleh pihak kampus mengikuti studi banding ini."kembali Maharani berbicara kepada Dekan dan para dosen yang ada di kantor.
"Kamu kenapa Maharani?
"Bukan begitu Pak, sama halnya seperti yang dikatakan oleh Pak Jonas sebelumnya. Masih banyak mahasiswa yang lebih cerdas dan lebih pintar dari saya di kampus ini, yang layak untuk diutus. Dibandingkan dengan saya memiliki bobot tubuh di atas rata-rata. Dan otomatis pihak kampus akan merasa malu mengirim wanita seperti saya yang akan mengikuti olimpiade Dan studi banding tersebut.
"Maksud kamu apa, Maharani?
"Masalah bobot tubuh sekarang tidak menjadi pokok permasalahan besar. Yang penting kesiapan mental fisik dan juga ilmu pengetahuan yang kamu miliki yang akan dapat mengharumkan nama kampus.
"Tapi saya kurang percaya diri Pak, bagaimana para mahasiswa mahasiswi nanti yang mengikuti studi banding olimpiade nanti di Eropa melihat bobot tubuh saya yang seperti ini,"
"Bobot tubuh kamu yang gemuk itu bukan menjadi alasan. Ini sudah keputusan mutlak dan Bapak tidak menerima penolakan." Ucap pak Susilo dan dekan serempak. Maharani pun akhirnya pasrah, ternyata dia harus mempersiapkan fisik, mental, dan ilmu pengetahuan yang akan ia jabarkan kelak nanti di Eropa.
"Nah begitu dong Maharani, Kamu harus optimis. Jangan pesimis, karena memiliki bobot tubuh yang di atas rata-rata." ucap pak Susilo Sambil tertawa cengengesan.
Maharani berlalu dari kantor dekan, kemudian ia langsung kembali menghampiri Sabrina sahabatnya yang selalu setia menunggu dirinya.
"Bagaimana Ran, kamu jadi berangkat kan?
"Insya Allah, mudah-mudahan kedua orang tuaku mengizinkan aku mengikuti olimpiade ini. Doakan ya, agar aku berhasil mengharumkan nama kampus. Agar orang-orang tidak selalu membully dan menyepelekan aku."ucap Maharani.
"Iya itu benar, Maharani. Mungkin mulai saat ini Kamu harus berjuang untuk mengangkat harga diri dan harkat kamu di kampus ini. Apa kamu tahu pem-bully-an yang dilakukan Devano semalam terhadap kamu viral di media sosial. Aku rasa Dekan dan Pak Susilo juga melihat video viral yang berdurasi 15 menit itu .
"Video Apa maksud kamu? tanya Maharani yang tidak mengetahui mengenai berita viral tentangnya, yang dibully oleh Devano dan gengnya.
Sabrina menunjukkan rekaman video itu yang mampu membuat Maharani benar-benar terhenyak. Bahkan banyak para netizen yang menghujat Devano dan juga gengnya. Tak kalah banyak juga netizen yang menghujat Dewi dan gengnya ketika melihat dirinya dibully di rekaman video itu.
Tapi ada juga yang mengejek bobot tubuh milik Maharani. Netizen mengomentari bobot tubuh Maharani yang di atas rata-rata.
"Kok bisa ada video ini? apa ada seseorang yang memvideokan kejadian itu iya?
"Pasti ada lah, tidak mungkin video ini ada di media sosial Kalau tidak ada yang menguploadnya.
"Astagfirullah, jika dosen mengetahui ini maka tidak menutup kemungkinan Devano terancam mendapat hukuman dari pihak kampus."gumam Maharani masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan Devano yang akan dikeluarkan dari kampus itu.
"Kok kamu malah mengkhawatirkan pria yang selama ini mengejek dan mengolok-olok kamu sih? Tanya Sabrina keheranan.
"Bukan begitu, Sabrina. Aku yakin Devano melakukan itu semua karena dirinya ingin mencari jati dirinya yang sebenarnya. Kasihan kan dia terancam harus drop out dari kampus ini.
"Mencari jati dirinya yang bagaimana maksud kamu Maharani? aku nggak paham dengan jalan pemikiranmu. Masih sempat-sempatnya kamu membela pria songong itu. Pria itu memang pantas dikeluarkan dari kampus ini. aku melihatnya saja sudah jijik, konon kamu masih membelanya.
"Aku bukan membelanya, tapi bagaimana perasaan orang tuanya kelak, jika mengetahui perlakuan putranya seperti ini dan viral di media sosial. Otomatis reputasi keluarga pasti akan tercoreng.
"Astagfirullah, Maharani! hati kamu terbuat apa sih? masih sempat-sempatnya kamu memikirkan reputasi orang lain. Sementara reputasi kamu sendiri tidak kamu pikirkan."Sabrina komplain
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN