
Siang harinya Dinda pergi ke taman, ia mengirim pesan pada Anton agar pria itu tidak khawatir.
Dinda berjalan mengelilingi Danau, karena ia masih kesel pada suaminya, wanita itu menendang kaleng minuman dengan sekuat tenaga tanpa melihat sekelilingnya.
"Auwh..."
Dinda melotot saat tendangannya tepat mengenai kepala seseorang, lalu Dinda memejamkan mata saat melihat pria itu datang menghampirinya.
"Bodoh! Kenapa aku nggak lihat-lihat sih!" gumam Dinda.
"Dinda, kamu Dinda 'kan?" tanya pria itu menghampiri Dinda.
Dinda membuka matanya saat namanya disebut, Dinda menatap pria di depannya, ia mencoba mengingat wajah yang terasa tidak asing baginya. Ia memutar bola matanya mencoba mengingat siapa yang berada di depannya itu.
"Maaf, Anda siapa Tuan? Kenapa Anda bisa tahu nama saya?" tanya Dinda sambil mengerutkan kening.
"Ya ampun Dinda, kau panggil aku Tuan? Aku itu Alex sahabatmu yang dulunya aku gendut dan pake kacamata, kamu masih ingat 'kan sama aku?" tanya Alex.
"What?" Dinda melotot karena terkejut. Wanita itu memutar tubuh sahabatnya yang sekarang kurus, tampan, tinggi dan memiliki jakun yang menggoda.
"Kamu Beneran Alex?" tanya Dinda lagi.
"Iya Alex, memangnya siapa lagi?" tanya pria itu sambil tersenyum.
"Ya ampun Alex, kau bener-bener berubah, sekarang kau sangat tampan beda banget sama kamu yang dulu, kamu yang dulu itu dekil banget." Dinda masih menatap Alex tak percaya.
"Hah, coba aja dari dulu kau setampan ini, pasti aku akan jatuh cinta padamu dan tidak perlu mengemis cinta pada Dokter sesat itu, tapi sekarang aku terlanjur tergila-gila padanya," gumam Dinda tanpa sadar.
"Dokter sesat?" Alex mengerutkan dahi.
"Ah, lupakan omonganku tadi, aku 'kan dari dulu suka bercanda, ya udah aku pulang dulu sampai jumpa!" Dinda beranjak. Namun, langkahnya terhenti saat Alex menahan lengannya.
"Kenapa?" tanya Dinda saat menoleh.
"I love you," ucap Alex tanpa basa basi. Sedangkan Dinda melebarkan mulutnya karena terkejut.
"I love you Dwita Adinda Lestari." Alex mengulang ucapannya.
Dinda melepaskan genggaman tangan Alex, Wanita itu menatap Alex dengan tatapan tak percaya.
"Kau serius?" tanya Dinda. Wanita itu membalik badannya menghadap Alex . Wanita itu mencari kebohongan di mata pria itu. Namun, ia tidak menemukan apapun kecuali sorot mata yang teduh.
"Dari dulu aku memang mencintaimu. Tetapi aku tidak berani mengutarakannya karena aku merasa tidak pantas untukmu, kau terlalu sempurna hingga aku tidak punya keberanian untuk menjadikanmu sebagai kekasihku," ucap Alex.
Deg.
Dinda sangat terkejut mendengar ungkapan hati sahabatnya, ia tidak pernah menyangka bahwa Alex punya perasaan lebih untuknya sejak mulai duduk di bangku SMP.
"Aku mohon Din, terimalah cintaku!" Alex memegang tangan Dinda kembali dan menggenggamnya erat, sedangkan sorot matanya menatap teduh manik mata hitam Dinda.
Dinda melepaskan tangan Alex perlahan, ia tidak mau menyakiti hati pria itu. Namun, ia sadar bahwa sekarang dia sudah punya suami.
"Maafin aku Alex, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Tetapi aku sudah mempunyai suami, seandainya aku tidak punya suami, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk cintamu. Namun, statusku kini sekarang adalah istri orang dan saat ini aku tengah hamil anaknya," ucap Dinda panjang lebar.
Deg.
"Kau tidak membohongiku 'kan?" tanya Alex menatap manik mata hitam Dinda. Berharap wanita itu bercanda.
"Untuk apa aku bercanda? Aku memang sudah menikah," ucap Dinda tersenyum kaku.
Alex memaksakan senyumnya mendengar penuturan Dinda, ia tidak mampu mengeluarkan suara lagi. tenggorokannya tercekat mendengar orang yang ia cintai telah menjadi milik orang lain dan kini telah mengandung anak dari pria tersebut.
"Selamat atas pernikahanmu Din," ucap Alex mengulurkan tangannya dengan memaksakan senyum.
"Terima kasih, semoga kau mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku," ucap Dinda tersenyum kaku.
"Amin," ucap Alex dengan senyum lembutnya.
"Apakah suamimu adalah orang yang kau sebut Dokter sesat tadi?" tanya Alex.
Dinda tersenyum kaku, lalu menganggukkan kepalanya lemah. Sedangkan Alex tersenyum melihat setelah tahu jawaban dari pria itu.
"Ya sudah, aku antar kamu pulang,"
"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri,"
"Terima kasih,"
Dinda melangkahkan kakinya meninggalkan Alex yang masih mematung menatap kepergiannya.
......❤️❤️❤️❤️❤️......
"Adin..." panggil Anton setelah sampai di apartemennya. Pria itu menghampiri Dinda yang sedang duduk santai di ruang keluarga sambil nonton TV.
"Tumben pulang cepat?" tanya Dinda sambil mengerutkan keningnya.
"Cepat siap-siap! Kita pindah ke mansion malam ini juga!" ucap Anton.
"Baiklah," Dinda beranjak tanpa banyak tanya.
"Entah kenapa aku kesel melihatmu Mas, niat hati ingin menggodamu, tapi entah kenapa rasanya aku ingin menendangmu saja, melihat sikap dinginmu itu, rasanya aku ingin mencincangmu, terserah kau mau bersikap dingin seperti apapun padaku, aku sudah tidak perduli lagi, mau sok manis kayak gimanapun kau tetap tak melihatku," batin Dinda.
Wanita itu langsung masuk ke kamar dan menutup pintunya. Sedangkan Anton merasa aneh dengan sikap dingin istrinya.
"Sebenarnya dia kenapa? Apa aku menyinggungnya? Perasaan aku tidak bicara yang aneh-aneh," gumam Anton.
"Aku akan menanyakannya, pasti ada yang dia sembunyikan dariku, tidak biasanya dia bersikap dingin kayak gini, dan sejak kita menikah, aku jarang melihatnya tersenyum,"
"Sebelum kita menikah, biasanya dia selalu datang untuk menggodaku, entah kenapa rasanya dia berubah, aku merindukan dia yang dulu," gumam Anton.
Beberapa saat kemudian Dinda sudah siap, ia membawa kopernya keluar dari kamar itu. Dinda melewati Anton yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Sedangkan Anton langsung mengikuti langkah Dinda dan membawakan koper yang dibawa istrinya tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Dinda diam saja saat Anton mengambil alih koper yang dibawanya, ia terus berjalan mengikuti langkah Anton yang kini berjalan mendahuluinya.
Setelah sampai di mobil, Anton menaruh koper Dinda di bagasi, lalu pria itu memasuki mobilnya tanpa membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.
"Sumpah aku kesel banget saat ini, kayak orang bisu aja, nggak ada romantis-romantinsnya sama sekali, aku pikir dia akan membukakan pintu mobil untukku, ternyata dia sama sekali tidak perduli padaku, ya udah aku duduk di belakang aja," batin Dinda dengan wajah yang ditekuk.
Dinda membuka pintu mobil penumpang, lalu duduk di sana dengan mulut yang komat Kamit tanpa suara.
"Pindah ke depan?" perintah Anton.
"Enggak,"
"Aku bukan sopir,"
"Yang bilang kamu sopir siapa?"
"Pindah, atau aku yang akan pindahin," ucap Anton, dan ancaman itu berhasil menggertak Dinda.
"Dasar menyebalkan!" umpat Dinda.
"Apa kau bilang?"
"Udah dibawa angin," jawab Dinda sambil memutar bola matanya.
"Gak jelas," gumam Anton.
Dinda membuka pintu mobil tersebut, lalu pindah ke depan, dan duduk di samping pria itu dengan wajah penuh kekesalan."
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang 🥰
Othor menyapa kalian lagi. Jangan lupa jejaknya ketik like, komen and Vote bagi yang berkenan 🥰
Jika ada komen yang belum dibalas, maafin Othor ya! Karena Othor nggak sempet membalas komen kalian karena Othor seperti dikejar waktu terus, tapi Othor baca Kok komen kalian seperti apa, dan Othor bangga banget punya Readers yang nyenengin seperti kalian.
Thank you ❤️😍🥰
Sambil nunggu Othor update
Mungkin berkenan mampir ke karya teman Othor yang insya Allah tak kalah kerennya ❤️